Frans menatap pintu utama rumah klasik itu. Ia tidak tahu harus menyapa Humaira seperti apa. Tidak mungkin seakrab dulu atau malah seperti orang yang tidak saling mengenal. Frans menghela napas seiring pintu utama yang terbuka. "Silakan masuk, Neng," ujar asisten rumah tangga Humaira. "Ya, Bu." Tak berselang lama, Humaira ikut menyapa mereka. Perempuan itu dengan kemeja panjang dan celana panjang yang menjadi ciri khasnya dalam berpakaian, mengulas senyum. "Masuk, Frans," ujarnya sambil mendekat ke arah pintu. "Ya, Humaira," sahut Frans. Ia mulai mengayunkan langkah yang diikuti dengan Mia. "Duduk," ujar Humaira seraya menunjuk sofa tamu miliknya. Mia mengangguk. Ia mendudukkan diri di sana. Meski canggung, Mia berusaha bersikap biasa. "Kak Humaira apa kabar, Kak?" "Baik, Mi. Sep

