Waktu pun berlalu. Setelah pekerjaan Valga di Jakarta selesai dan mereka kembali ke Jogja, Akram menyempatkan diri menengok rumahnya. Mungkin lebih tepatnya rumah Mia. Akram menyiapkan mentalnya. Ia tahu, Mia sudah berangkat ke Irlandia. Bermula dari penuturan Delia tentang pertemuan mereka. “Kamu dulu yang telepon, Kram. Cari tau nomornya. Jangan diam-diaman terus.” Nasihat itu terus didengungkan Delia. Bahkan saat ia baru masuk rumah kakaknya. Tanpa memikirkan kelelahan yang mendera. “Udah dulu, Del. Aku sama Akram baru sampai. Nanti lagi bahasnya.” “Nggak bisa, Mas. ini penting. Jangan sampai masalah Mia sama Akram mirip-mirip masalah Dania sama Mas Pram. Mereka dieman terus sampai akhirnya cerai. Amit-amit pokoknya.” Berkaca dari pengalaman buruk kakaknya, tentu Delia tidak ingin

