Waktu merangkak lambat. Kehidupan Akram berubah nyaris seratus delapan puluh derajat pasca keberangkatan Mia. Ditambah ia cukup konsisten dengan diamnya. Sehenarnya, ia masih menyimpan nomor lamanya. Mungkin, saat ia mengaktifkan kembali akan ada beberapa pesan masuk tapi ia tidak melakukannya. Setelah beberapa hari menginap di motel sedangkan uang miliknya sudah mulai menipis, Akram memutuskan mencari tempat lain. Ia tidak bisa terus-terusan terpuruk. Ia harus mencari cara minimal agar tetap bertahan di kerasnya kehidupan. Satu tempat terlintas dalam pikirannya. Di samping jaraknya yang tidak begitu jauh, di sana ia bisa sekaligus mendapatkan pekerjaan. Dengan catatan memohon pada pemiliknya. “Kamu mau ngapain, Kram?” tanya Mas Danang begitu melihat Akram membawa tas berukuran cukup bes

