Pagi tak pernah ingkar janji. Ia selalu tiba tepat pada waktunya menggantikan malam yang cukup kelam bagi sebagian orang. Akram mengerjap. Ia tersadar saat setitik cahaya menyilaukan matanya. Artinya ia harus segera bangun. Akram masih merasakan kepalanya berputar. Entah karena banyaknya pikiran atau seteguk minuman nan memabukkan itu. Ia sadar sudah khilaf dan bahkan berani mencicipi hal yang jelas dilarang. Terhuyung Akram berdiri. Ia harus bersiap mengingat pameran sudah bisa dikunjungi mulai dari jam delapan pagi. Akram membuka pintu kamar. Ia harus ke kamarnya sebelumnya, mengingat semua keperluan ada di sana. “Loh, kok di sini?” sapa Rainy yang juga akan keluar. Bedanya penampilan Rainy sudah lebih rapi. “Kesiangan,” ujar Akram masih dengan ekspresi kelelahan. “Kamu sakit, Kram?”

