“Kram! Akram ...!” seru Delia dari depan kamar Akram. Semalam, yang tahu Akram tidur di tempat itu hanyalah dirinya. “Aneh, ke mana nih anak,” gumam Delia saat berusaha mengetuk kamar Akram dan tak ada jawaban. Keterlambatan adiknya dalam pameran sudah berlebihan. Bahkan ia sampai meminta bantuan Dania dan Danang. Tiba-tiba pintu kamar di sebrang kamar itu terbuka. Sontak membuat Delia yang sejak tadi sedang menanti jawaban menoleh ke belakang. “Rainy,” ujar Delia terhenyak mendapati Rainy keluar dari kamar bersama seorang laki-laki. “Kak Del,” ucap Rainy tertahan. Ia seperti orang yang sedang kepergok saja. Tatapannya beralih ke Juan. “Aku kembali secepatnya, Cantik.” Mata Rainy membulat. Jelas itu sebuah ketidakberuntungan karena bisa saja Delia berpikir macam-macam terhadapnya. Jua

