Restoran itu cukup asing bagi Akram. Meski masih berada di kota Magelang, rasanya ia belum pernah ke sana. Segera Akram turun dari mobil dan memasuki area restoran. Ia mencari ibu mertuanya agar segera mendapatkan kejelasan. “Assalamualaikum, Bu,” sapa Akram seraya menyalaami Sufi. Sufi bergeming. Ia terima salam itu dengan hati berkeping. “Waalaikumsalam, Kram.” Akram mendongak. Ia sadar suara Sufi bergetar. Ia pun berinisiatif langsung duduk di salah satu kursi. “Kabar ibu bagaimana? Sudah makan?” tanya Akram membuka topik obrolan. Sufi berusaha menenangngkan dirinya. Melihat menantunya yang cepat sekali datang, membuatnya bahagia. Namun, tak bisa ia tampik ada luka yang selama ini disembunyikan pemuda pilihan putrinya itu. “Baik, Kram. Alhamdulillah baik. Kamu bagaimana? Kenapa ng

