Bab 97 : Perjanjian Lara

1196 Kata

“Sini, Kram,” seru Agit setelah Akram mengucapkan salam. Ia menuggu dengan sabar menantunya itu. “Pagi, Pak,” sapa Akram seraya menyalami tangan Agit. “Pagi, Kram. Dari rumah ini?” Akram mengangguk. Kemarin, mereka memang tidak kembali ke rumah gedong itu, melainkan langsung ke rumah. “Iya, Pak maaf kemarin....” Agit tersenyum tipis. “Ndak apa-apa. Namanya udah ada rumah sendiri baiknya begitu.” Akram mengangguk kecil. Itu bukan rumahnya. “Macet nggak tadi?” “Sedikit, Pak di pertigaan.” “Ya, itu langganan macet. Makanya saya kalau berangkat biasanya pagi sekalian atau siang sekalian. Tidak di jam padat.” Akram mengangguk lagi. “Ini belum buka, Pak?” “Belum. Saya sengaja tutup dulu karena mau terima tamu.” “Oh, ada tamu nanti, Pak?” Agit menggeleng. “Bukan nanti tapi sekarang.”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN