“Dari mana aja, Kram? Udah mau kelar, loh,” gerutu Delia yang seperti kehilangan anak induknya. “Toilet, Kak. Perut nggak enak,” ujar Akram menutupi. “Asyik ya ngobrolnya sama Rainy? Bisa tuh jadi capar.” Mata Akram membulat. “Capar?” “Calon adik ipar,” kelakarnya sambil tertawa. Akram menggelengkan kepala. Kebiasaan Delia memang bercanda sekenanya. Ia pun kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya yang sempat tertunda. “Dari tadi Kak Dania telpon, Kram.” “Telpon apa?” “Tanya tuh kira-kira kamu mau nggak diajak ke Irlandia. Kasihan Malka.” Akram tak langsung menjawab. Ia fokus pada display pameran yang harus ia kerjakan. Setelah beberapa item tertata sesuai dengan konsep yang diusung Valga, baru ia mendekat pada kakaknya. “Aku disuruh ngikut orang honeymoon, ogah, Kak!” “Kena

