Bab 115 : Hikmah

1046 Kata

Tak banyak kata yang disampaikan oleh Agit. Sebagai ayah, ia mengerti sehancur apa hati Akram. Biasanya orang akan memberikan semangat, tapi percayalah pada saat seperti itu terkadang untaian kata sama sekali tidak perlu. "Akram ke kamar dulu, Pak." "Ya. Silakan." Di dalam kamar, Akram membuka amplop itu. Meski sudah bisa menebak apa isinya, ia tetap melakukannya. Ia simak setiap kalimat yang intinya mengabarkan tentang sidang pertama mereka. Akram mendongak. Ia berusaha untuk tidak terisak. Sayangnya, seperti yang sudah sudah, wajah Mia justru tercetak di sana. Akram bergumam. Apakah Mia mengetahuinya? "Bapak! Akram!" seru Dania dari ruang dapur. Akram yang tengah meresapi kesedihannya bergegas keluar. Pikirannya langsung tertuju pada satu orang. Ibu. Benar saja Yurika tiba-tiba ja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN