Malam hari Akram sengaja mencari udara segar. Selain mengusir kesuntukan, ia juga ingin menyusuri kenangan. Setelah obrolan dengan ayahnya, perasaanya untuk Mia justru semakin mengakar. Ironisnya, ia malam ini wajah perempuan itu tercetak di plafon, terus membayang hingga ia tak mampu terpejam. Seandainya ia punya nyali, bisa saja ia mendatangi rumah mereka. Ia menyimpan satu kunci cadangan yang hanya diketahui olehnya dan Mia. Meski kemarin mertuanya sempat datang dan mengusir, ia yakin mertuanya tak mungkin menemukan kunci itu. Akram menyusuri jalan tembus. Di mana jalan itu menghubungkan langsung ke kompleks perumahan mereka. Dari jauh, hati Akram cukup berdebar. Ia hanya akan memarkirkan mobilnya di seberang jalan dan mengamati rumah minimalis itu sendirian. Merangkum setiap kebersa

