Akram konsisten dengan niat mengumpulkan rupiah demi rupiah. Setelah malam menjadi karyawan tetap di kafe Mas Danang, siang hari ia bekerja serabutan. Sayangnya, pola yang seperti itu justru membuat kondisi tubuhnya tidak baik. “Pucat amat, Kram?” seloroh Mas Danang saat bertemu Akram di sore hari. “Ah masa, Mas.” “Asli, Kram. Belum makan kamu?” “Udah, kok.” “Kebanyakan kerja kali.” Akram menggeleng. Ia rasa apa yang ia kerjakan masih cukup wajar. Seharusnya tidak masalah. “Ikut aku yok!” “Ke mana, Mas?” “Belanja bahan. Kamu yang nyetir.” Akram mengangguk mantap. Meski cukup lelah dan ingin berehat, ia tidak mungkin mengabaikan perintah Mas Danang. Meluncurlah mereka berdua ke salah satu swalayan terlengkap di kota itu. “Nggak Betamart ya, Mas,” kelakar Akram saat mereka melinta

