Mataku berkaca-kaca saat melihat Bima dari kejauhan. Dengan toga hitamnya, dia terlihat begitu tampan. Aku sudah bilang berapa kali sih hari ini jika Bima tampan? Kayaknya lebih dari tiga kali deh. Aku duduk di kursi undangan bersama Om Hasto dan Tante Vivian. Aku bersyukur karena kedua orang tua Bima bisa datang, walaupun tadi sedikit telat karena harus menunggu Tante Vivian berganti pakaian. Dia baru saja dijemput Om Hasto dari bandara, begitu tergesa-gesa hingga nggak sempat menyasak rambutnya, seperti penampilan biasanya. Tapi tetap saja dia terlihat cantik. Sebagai anak tunggal, aku yakin Om Hasto dan Tante Vivian sangat bangga pada Bima, dia menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dibanding teman-temannya yang lain. Dan dadaku tetap saja berdebar walau melihat Bima dari kejauhan sepe

