Suara tawa Ayah dan Om Hasto terdengar sangat jelas sampai ke teras rumah Bima. Di dalam sana Ayah, Bunda, Om Hasto, serta Tante Vivian sedang mengobrol setelah makan malam bersama. Sedangkan aku dan Bima mengungsi ke teras karena di dalam sana sepertinya tidak ada tempat untuk kami bergabung. Mau nimbrung apaan, inti pembicaraan mereka aja nggak mengerti. "Ayah kamu cerita kalau sebenarnya dia sering sedih setiap lihat kamu." Bima memulai ceritanya. Kami berdua ditemani oleh segelas coklat hangat buatanku sendiri karena selayaknya calon menantu yang baik, aku berusaha mengerjakan apa pun sendiri di rumah ini, tanpa meminta pada asisten rumah tangga keluarga Bima. Aya pencitraan banget. "Sedih kenapa? Kelihatannya nggak begitu," balasku. Dalam hati aku terus bertanya-tanya apa yang membu

