Mataku membesar saat melihat sosok Mas Berni di pintu keluar kampusku. Aku nggak mungkin salah lihat, karena walaupun dia berada di dalam mobil, tapi wajahnya terlihat jelas olehku. Dia pasti nekat menyusulku karena dari tadi aku mengabaikan panggilan dan pesannya. "Mas Berni nungguin aku ya?" sapaku dari balik kaca mobilnya. Wajahnya seperti kaget dan dia buru-buru membuka pintu mobilnya dan memberi kode padaku untuk segera masuk. "Aku nggak sempat pegang ponsel dari bangun tadi. Semalam juga langsung tidur," jelasku agar Mas Berni nggak bertanya-tanya lagi. "Sudah bimbingan skripsinya?" tanyanya kemudian. Aku mengangguk dan beberapa saat kemudian menggeleng. "Nggak jadi, dosennya berhalangan," sahutku dengan wajah muram. "Kapan lagi ada jadwalnya?" tanyanya. Aku mengangkat bahu k

