“Lama banget,” kata Bima dengan nada sinis. Aku terdiam, masih tidak paham kenapa tiba-tiba ada Bima di depan rumah Rana. Sepertinya aku harus berpikir ulang, apa memang benar Bima telah menanamkan GPS ke tubuhku. “Ka...kamu...ngapain di sini?” tanyaku terbata. “Emang nungguin siapa lagi,” jawabnya. “Sudah hampir satu jam aku di sini,” katanya kesal. Aku menghela napas panjang, apa lagi yang diinginkan Bima setelah dia mengatakan tidak akan menggangguku lagi. “Aku nggak minta kamu nungguin aku kok, sana pulang gih,” kataku tak kalah kesalnya. Aku menghentak-hentakkan kakiku mencoba menahan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun. “Aku sudah bela-belain nanyain alamat rumah Rana sama Mami, mutar-mutarin jalan sampai nyasar cuma buat bisa ketemu sama kamu. Kenapa kamu malah nggak suka. Sed

