“Berapa lama aku bisa mendengar jawabanmu?” tanya Mas Berni sambil meneguk espresso-nya dengan gerakan perlahan. Es krim vanila yang sudah berada di dalam mulutku hampir meloncat keluar. “Maksudnya?” tanyaku sambil menahan kepalaku yang mendadak nyeri karena menelan es krim dengan cepat. Aku tahu apa maksud pertanyaannya, tapi kali ini aku harus terlihat pura-pura tidak tahu agar nggak terlihat terlalu agresif. Akhirnya setelah berjam-jam mengelilingi pusat perbelanjaan di kawasan Malioboro dan menemani Mas Berni berbelanja, kami terdampar di sebuah kedai kopi yang terletak di pojok mall. Catat, Mas Berni yang berbelanja, bukan aku. Aku hanya menemaninya dan sesekali menjadi penasehat jika kebetulan dia bingung memilih barang. Mas Berni memang beberapa kali memaksa ingin membelikan apa

