Mataku membesar saat mendengar ucapan Mas Berni. Aku nggak salah dengar, kan? "Boleh?" ulangnya dengan wajah semakin mendekat ke arahku. Aku nggak mengangguk atau pun menggeleng, karena mata Mas Berni yang bersorot lembut membuatku terlena. Tangannya kemudian menyentuh bibirku dan mengusapnya perlahan. Ciuman pertamaku telah diambil oleh Bima. Apa kali ini rasanya masih sama? Sial! Kenapa di saat yang begitu romantis ini aku malah mengingat Bima. Aku menggigit bibirku karena merasa sangat tegang. Salahnya yang pakai minta ijin segala. Coba kalau mau cium, ya cium aja sana. Kalau diomongin kayak gini, kan aku jadi grogi. Tangan Mas Berni menyentuh pundakku pelan dan dia menunduk sambil memiringkan wajahnya. Aku hampir nggak bernapas saat menunggu dia mendaratkan ciumannya. Harus ya pak

