26. Nggak Boleh Pacaran

1746 Kata

Otakku ini memang nggak bisa diajak bekerja sama, selalu saja kembali membayangkan adegan ciuman Mas Berni di mobilnya tadi. Sama seperti halnya saat Bima menciumku beberapa waktu yang lalu, aku memikirkannya sepanjang malam. Bedanya saat dicium Bima, aku memikirkannya dengan perasaan marah dan kesal. Sedangkan saat ini perasaanku campur aduk, senang, malu, salah tingkah, dan berdebar. Semuanya begitu campur aduk dan semakin membuatku kesulitan memejamkan mata. Tapi tunggu dulu, ini juga masih jam delapan malam, pantas saja mataku belum mengantuk. Ah! Aku pikir gara-gara memikirkan ciuman Mas Berni tadi. Mungkin sebaiknya aku keluar kamar sebentar dan berkumpul bersama Ayah dan Bunda. Keduanya mungkin mengira aku kelelahan dan sudah tertidur. Ayah dan Bunda tidak terlalu kaget dengan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN