LC 4b

862 Kata
Mereka duduk, laluakan malam dihidangkan. Masakan rumahan yang mewah: sup krim jagung, ayam panggang, dan salad buah yang segar. Percakapan mengalir akrab. Tuan Har bercerita tentang bisnis properti yang ia kelola. Lidia menyelingi dengan lelucon kecil tentang Karina saat muda. Semua tertawa, tapi yang membuat Barat tak banyak bicara malam itu adalah Tania. Barat memperhatikan diam-diam saat Tania mulai bercerita. Wajah gadis itu begitu cantik dan memukau ketika membahas pekerjaannya. “Aku lagi bangun brand lokal, bar. Tas kulit handmade, desainnya aku yang buat. Awalnya dijual online, sekarang udah punya booth kecil di dua mall.” Tania menjelaskan. “Kamu desain sendiri?” tanya Karina kagum. “Iya Tante , Aku suka gambar dari dulu. Sekarang aku punya empat penjahit, semua ibu rumah tangga yang kerja dari rumah. Aku bantu mereka juga punya penghasilan.” Barat menatapnya lebih lama dari yang ia sadari. Ada sesuatu yang membuatnya terdiam. Bukan hanya wajah Tania yang cantik. Tapi caranya bicara, caranya memperjuangkan sesuatu, caranya menunduk sopan tapi tetap percaya diri. Kagum. Itu satu kata yang muncul di kepalanya. Barat mengangguk pelan. “Keren. Nggak banyak yang bisa mulai dari nol kayak gitu.” Tania tersenyum. “Makanya aku suka banget lihat cerita orang yang kerja keras, bar. Kadang harus gagal dulu baru bisa berdiri.” Barat hanya mengangguk lagi. Ia merasa sedang menahan sesuatu. Perasaan yang jarang muncul. Biasanya perempuan yang dikenalkan padanya sibuk pamer pencapaian atau bertanya soal uangnya. Tapi Tania berbeda. Ia seperti bekerja untuk hidup, bukan untuk dilihat. Malam makin larut. Setelah hidangan penutup, Tania berdiri pamit duluan. “Besok aku harus ke workshop pagi-pagi, Tante. Terima kasih banyak makan malamnya.” Karina memeluknya. “Sama-sama, sayang. Kamu anak baik cantik banget juga.” Tania menoleh pada Barat. “Semoga bisa ketemu lagi, Bar.” Barat membalas tatapan itu. “Iya." "Hati-hati, ya.” Mobil Barat melaju pelan ke luar pagar. Karina melirik putranya yang diam di kursi kemudi. “Gimana?” Barat menatap kosong ke arah pintu. Kemudian menjawab pelan. “Saya suka.” Karina tersentak senang. “Suka?” Barat mengangguk. “Dia cantik, pintar, nggak ribet. Saya suka cara dia berpikir.” Karina menepuk-nepuk d**a. “Ya Tuhab akhirnya. Mama suka banget sama Tania. Dia sopan, kerja keras, nggak neko-neko. Cocok banget buat kamu.” Barat berdiri, merapikan jam tangannya. “Saya nggak janji apa-apa, Mi. Tapi saya nggak keberatan ketemu lagi.” Karina tersenyum puas. Malam itu, ia tidur dengan hati lebih ringan. Sementara Barat, duduk di kamarnya dengan pikiran yang pelan-pelan berbelok. Untuk pertama kalinya, ia tertarik. *** Pagi pertama Reya sebagai asisten Pak Barat. Ia datang satu jam sebelum waktu kerja dimulai. Mengenakan kemeja baru warna biru muda yang ia beli kemarin, sedikit pas di bagian d**a, tapi masih layak. Rambutnya dikuncir rapi, tanpa riasan, hanya bedak tabur murah yang menempel di kulit. Tapi wangi tubuhnya— itu lain cerita. Ia memilih body mist yang pernah ia dapat dari goodie bag seminar kampus. Tak mahal, tapi menyegarkan. Dia tak tahu kalau aroma itu akan menyiksa seseorang hari ini. Dengan sigap, Reya membuat dua cangkir kopi satu untuk dirinya, satu untuk Barat. Ia belum hafal selera atasannya, jadi ia buat medium tanpa gula, aman. Lalu Reya mulai merapikan ruangan. Meja kerja Barat ia lap pelan-pelan, tumpukan dokumen ia tata ulang. Bahkan tanaman kering di sudut meja ia buang dan ganti dengan yang baru, yang ia beli di pinggir jalan kemarin sore. "Pak Barat belum datang," gumam Reya. Lalu Reya duduk di kursi meja kerja yang dulunya milik Pak Satrio, letaknya hanya dua meter dari meja utama milik Barat. Awalnya Karina bilang biar mudah diperintah, tapi pagi ini, Reya mulai merasa posisi itu terlalu dekat. Pintu terbuka. Barat melangkah masuk, langkahnya tegas dan pasti. Setelan jas abu terang membalut tubuhnya yang tinggi, rambutnya disisir ke belakang rapi. Tak ada sapaan, hanya anggukan kecil. Reya berdiri buru-buru. "Selamat pagi, Pak." "Pagi." Suara Barat dalam, berat, terdengar seperti bergumam. Dan kemudian, tercium. Barat menghentikan langkahnya sejenak. Hidungnya menangkap sesuatu. Aroma segar, ringan segar, tapi menggoda. Bukan wangi mahal, tapi terasa pas. Cocok dengan Reya yang, polos menurutnya. Dia melirik gadis itu. Kemejanya tampak sempit di bagian d**a, tapi tetap sopan. Reya tidak mengenakan make up tipis. Tapi justru di situlah letak hal. yang menarik, telihat lugu dan polos. Barat berjalan pelan menuju mejanya. Tapi pikirannya belum sepenuhnya jernih. Bahkan saat ia kini menyibukkan diri dengan laporan keuangan, ingatan tentang wangi tubuh Reya tak hilang. Tubuhnya menegang, desah napasnya tak biasa. Ada gejolak aneh di dadanys dan bagian tubuh lain yang lebih liar. Barat lelaki dewasa, bukan tak pernah b*******h. Tapi selama ini, ia mampu mengendalikan. Bahkan terlalu pandai menyembunyikan. Ia tahu cara meredam, cara merapikan nafsu sebelum berubah jadi berantakan. Tapi Reya, wangu tubuhnya yang lembut, jujur iu mengusik sisi gelap Barat yang lama ia simpan. Barat menarik napas panjang. Ia kemudian duduk. "Kopinya?" "Oh! Iya Pak. Ini," Reya segera mengantarkan cangkir ke mejanya, dengan dua tangan, seperti anak kecil yang takut menumpahkan sesuatu. "Terima kasih," katanya singkat. Reya kembali ke mejanya, mulai menyalakan laptop milik kantor. Ia masih belum punya yang pribadi. Sambil mengamati agenda hari itu, ia tak sadar bahwa beberapa kali mata Barat diam-diam melirik ke arahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN