Pintu kamar rumah sakit terbuka perlahan. Karyo sedang duduk bersandar di tempat tidur, selimut naik sampai perut. Ia menoleh saat mendengar langkah Reya.
“Reya, enggak biasanya kamu pulang jam segini?" tanya Karyo menatap dengan sedikit cemaa.
Reya langsung tersenyum lebar. “Hari ini aku belanja, Pak. Terus mampir beli makanan. Bapak pasti suka deh,” ujarnya sambil mengangkat bungkusan di tangannya.
Gadis itu meletakkan plastik di meja kecil dekat tempat tidur. Lalu mengeluarkan roti keju dan nasi bungkus itu. Aroma ayam goreng langsung memenuhi ruang kecil itu.
Karyo menatap anak perempuannya lama. Matanya agak merah. “Reya,” katanya pelan, “Kamu, udah terlalu capek nak? Masih mikirin Bapak segala”
Reya duduk di tepi ranjang, membuka bungkus nasi dengan hati-hati. “Pak, jangan ngomong gitu dong. Aku happy banget bisa beliin ini buat Bapak.”
“Tapi kamu kerja, kuliah, ngurus Bapak. Bapak nggak enak, Reya. Maaf ya, Bapak belum bisa jadi bapak yang baik.”
Reya menggeleng cepat. Tangannya menggenggam tangan ayahnya yang mulai dingin.
“Bapak jangan ngomong gitu. Aku bahagia punya Bapak. Bapak tuh selalu usaha, dari dulu. Nggak pernah nyerah. Kalau ada yang hebat dalam hidupku, ya Bapak.” reya berusaha menahan tangisnya. Sejak dulu, saat masih sehat sang ayah yang selalu berjuang untuk kebutuhannya.
Karyo menarik napas panjang. Tubuhnya gemetar sedikit. Ia tahu dirinya tidak bisa banyak memberi. Tapi Reya selalu mengisi kekosongan itu dengan perhatian dan kasih sayang yang luar biasa.
“Kamu anak kebanggaan Bapak,” gumamnya.
Reya tersenyum kecil. “Bapak jangan banyak mikir ya. Fokus sembuh. Aku udah kerja sekarang. Bukan magang atau freelance. Kerja beneran, Pak. Digaji bulanan jadi kita gak bingung lagi nanti.”
Mata Karyo membelalak kecil. “Kerja di mana?”
“Di kantor besar yang kemarin aku cerita pak. Jadi asisten. Tugasnya banyak, tapi aku yakin bisa.” Reya menceritakan dengan semangat.
“Syukurlah bapak seneng banget dengernya Nak.,” ucap Karyo pelan. Ia lalu menatap nasi ayam di hadapannya. “Terus ini?”
“Hadiah buat Bapak. Hari ini aku gak beli makanan di kantin karyawan dulu,” jawab Reya sambil terkikik.
Karyo pun ikut tertawa. Tawanya serak, tapi penuh kebahagiaan. Apalagi ketika melihat reya yang begitu bahagia.
Malam itu mereka makan berdua. Reya duduk di kursi plastik sambil menyuap sedikit nasi miliknya. Ia memilih makan di rumah sakit, bukan di luar, demi irit uang. Tapi hatinya tak terasa kekurangan. Malah sebaliknya ia merasa kaya karena bersyukur dengan semua yang dimiliki.
Karena sore tadi Reya melihat harapan. Dan malam ini, Reya bisa memberikannya pada orang yang paling ia cintai.
"Kita pasti bahagia, bapak pasti sembuh." Reya berucap. Reya berharap Besok ia akan kembali ke kantor. Dengan kemeja baru. Hati baru. Dan semangat yang bahkan lebih besar dari sebelumnya.
***
“Malam ini jangan pulang larut, Bar. Ingat, kita makan malam sama keluarga Tania.”
Suara Karina menggema dari dapur, terdengar jelas ke ruang tamu saat Barat membuka kancing jasnya.
Barat mendesah pelan, menggulung lengan kemejanya sambil melirik ke arah dapur. “Iya, Mi, Saya mandi dulu.”
Karina tersenyum puas. “Bagus. Sekali-kali anak Mama tampil sopan dan rapi buat orang lain, bukan buat laptop dan klien.”
Pukul tujuh tepat, mobil hitam mereka berhenti di depan sebuah rumah besar di kawasan elite Rumah itu elegan, dengan taman terawat dan lampu gantung mewah di terasnya. Karina menyentuh lengan Barat sebelum turun.
“Senang-senang ya malam ini. Mami harap kamu klik sama Tania. Dia anak baik.” Karina terlihat paling bersemangat.
Barat mengangguk seadanya. Dalam pikirannya, pertemuan seperti ini buang-buang waktu. Tapi demi Karina, ia tahan komentar sinisnya. Pintu dibuka oleh seorang pria paruh baya. Wajahnya tegas tapi ramah. Rambutnya sudah beruban di sisi pelipis.
“Tuan Har, Selamat malam,” kata Karina ramah.
“Selamat datang, Karina, Barat,” sambut Tuan Har sambil menjabat tangan Barat dengan erat. “Ayo masuk. Lidia udah Nunggu di ruang makan. Tania juga sudah siap.”
Langkah mereka menuju ruang makan yang luas dan hangat. Dindingnya dipenuhi lukisan abstrak dan foto-foto keluarga. Lidia, perempuan anggun bergaun krem duduk di ujung meja.
“Aduh jeng Karina! Akhirnya kita bisa kumpul lagi. Ini Barat, lama gak ketemu ya? Ganteng banget kamu,” sapa Lidia hangat.
Barat mengangguk sopan, sekilas tersenyum. “Terima kasih.”
Lalu, seseorang muncul dari arah dapur. Wajahnya manis meski tanpa riasan, rambut panjangnya digerai, dan senyumnya memikat Barat.
“Tania,” kata Karina dengan nada senang. “Makin cantik aja kamu!”
Tania tertawa kecil. “Makasih tante. Halo, Barat.” Ia mengulurkan tangan. Barat menjabatnya. Hangat. Halus.
“Halo. Karina. Apa kabar?”
“Baik, Barat.”