Reya tak tahu, tapi bagi Barat, aroma tubuh gadis itu masih berada di udara, memenuhi ruang kerja yang belum sepenuhnya bersih.
Barat membuka dokumennya, pura-pura membaca. Padahal ia sedang mencoba menenangkan diri. "Jangan bodoh, dia itu stafmu. Dia butuh kerja, saya atasan." Batin barat sibuk dengan pikirannya sendiri.
Tapi Reya kembali berdiri. Membawa catatan. "Pak, ini pertanyaan yang tadi saya simpan di note. Terkait laporan klien minggu depan saya baru baca dari catatan Mas Satrio."
"Hmm, biar saya lihat." Barat menerima catatan itu. Tangannya dan tangan Reya bersentuhan sekilas, terasa hangat. Sejenak, tubuhnya kembali merespon.
Barat mendongak, Reya menatapnya polos, menunggu jawaban. Ia berdeham. "Untuk ini, kamu bisa minta data ke bagian finance. Tanya Bu Mira. Nanti saya kasih emailnya."
Reya mencatat cepat, wajahnya antusias. "baik, Pak. Nanti saya laporkan sebelum jam makan siang."
Barat mengangguk. "Okay."
Reya duduk lagi, di kursinya. Meja itu terlalu dekat dengan mejanya. Sungguh terlalu dekat. Dia bisa mendengar napas Reya saat gadis itu berpikir. Bisa melihat alisnya yang sedikit bertaut saat menulis cepat. Bisa melihat jemarinya yang kecil bergerak di keyboard.
Meja itu awalnya dibuat untuk kemudahan koordinasi antara dirinya dan Satrio. Tapi sekarang, justru jadi penyiksaan. Barat mencoba memalingkan wajah. Tapi wangi tubuh Reya kembali menyergap, harum segar dan lembut. Membuat pikirannya liar sesaat.
Ia berdiri tiba-tiba. "Saya ke ruang meeting dulu. Ada yang mau saya cek."
Reya terkejut, "Saya ikut, Pak?"
Barat menggeleng cepat. "Nggak. Tetap di sini."
Langkahnya cepat keluar ruangan. Saat pintu tertutup, ia bersandar di dinding luar, menarik napas panjang, lalu menyentuh dahinya.
"Sialan," gumamnya pelan.
Reya, di dalam ruangan, hanya bisa menatap kosong ke arah pintu. Dia tak tahu. Sama sekali tak tahu. Barat, lelaki yang terlihat tenang dan kaku, kini sedang tergoda hanya oleh wangi tubuhnya. Dan bagi Reya hari pertama kerja ini hanyalah permulaan bagi karirnya. Tapi untuk Barat, ini adalah ujian besar.
Langkah cepat Barat membawa tubuh tegapnya ke arah toilet eksekutif di ujung lorong. Setiap tarikan napasnya kini terasa berat, tidak hanya karena tekanan pekerjaan, tapi karena sesuatu yang lebih memalukan. Lebih pribadi dan intim, aneh menurutnya.
Ia mengunci pintu toilet, berdiri mematung di depan cermin, memandang bayangannya sendiri. Nafasnya tak stabil, d**a naik turun.
"Ini gila," gumamnya lirih.
Barat membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia berharap sensasi itu bisa meredam gejolak dalam tubuhnya. Tapi sia-sia. Pikirannya masih liar. Semalam, sejak makan malam bersama keluarga Tania, pikirannya tak bisa diam.
Tania cantik, pintar, anggun. Ia tahu wanita seperti Tania adalah pasangan ideal di mata ibunya, Karina. Dan ia sendiri pun, saat itu, tak menyangkal. Ia mengagumi Tania. Bahkan sempat berpikir, mungkin, dia memang perempuan yang cocok jadi istrinya. Namun, malam itu setelah semua selesai dan tamu pulang, ada yang tersisa di tubuhnya. Hasrat. Hasrat yang ia pikir ada karena Tania.
Tapi pagi ini, pagi ini, aroma tubuh seorang gadis gemuk, asistennya yang duduk hanya beberapa meter darinya, mengaduk-aduk pikirannya. Parfum murahan, tapi wanginya menyusup seperti kutukan. Membuat dirinya terus menegang, meradang, bahkan kehilangan kendali diri.
"Apa saya sakit?" tanyanya pada diri sendiri. "Ini cuma, karena saya belum tidur cukup, karena Tania?" Barat membuka kancing lengan bajunya. Melonggarkan dasi. Tubuhnya mulai terasa panas, padahal suhu ruangan dingin.
"Saya enggak boleh jadi b******k," desisnya. "Dia karyawan saya." Namun tubuhnya tak sejalan dengan prinsipnya. Nalurinya sebagai pria kini memberontak, minta dituntaskan.
Akhirnya, dengan raut murung dan penuh rasa bersalah, Barat menuntaskan sendiri hasratnya. Dengan cepat, diam-diam, dan setengah dipaksa. Ia ingin menghapus rasa itu, menuntaskan gejolak yang tak semestinya muncul. Namun, bahkan setelah selesai, hatinya tak tenang. Bukan karena ia terangsang oleh stafnya. Tapi karena ia menyadari bayangan yang muncul di kepalanya barusan, bukan lagi Tania.
Itu Reya dan aroma tubuhnya,bsuara Reya yang pelan, lembut dan penuh hormat saat bertanya.
Itu mata Reya yang menatap dengan rasa ingin tahu yang tulus, itu—bukan Tania.
Barat duduk di kloset, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, frustrasi. "Kenapa bisa dia?" bisiknya putus asa.
Barat tak ingin menjadikan Reya objek nafsunya. Ia tak ingin seperti pria-pria busuk yang memanfaatkan posisinya. Tapi kenapa pikirannya justru melenceng jauh? Padahal Reya bahkan belum mengenal sisi pribadinya.
Reya terlalu muda, yerlalu jujur, terlalu polos untuk disentuh oleh niat Barat yang kotor. Dia harus jaga jarak. Barat berdiri, merapikan pakaiannya, membenarkan dasi. Tatapan di cermin kini sedikit lebih tenang, tapi matanya masih menyiratkan kegelisahan atas apa yang ia rasakan. Ia kembali ke ruangannya, dengan langkah lebih lambat. Dan saat pintu terbuks aroma itu masih sama.
Reya duduk di mejanya, wajahnya serius menatap layar. Tangannya sibuk mengetik sesuatu. Dia bahkan tak sadar atasan barunya baru saja menyelesaikan hasrat di luar sana.
Reya tersenyum saat melihat Barat masuk. "Pak, saya sudah kirim data ke Bu Mira. Ini salinannya kalau Bapak mau lihat."
Barat mengangguk. Mengambil map itu tanpa banyak bicara. Kali ini ia tak mau terlalu lama berdiri di dekatnya. Takut tubuhnya kembali merespon. Tapi saat ia kembali duduk di kursinya, dan matanya tak sengaja kembali tertuju ke arah Reya, ia sadar hasrat itu belum pergi. Ia kira tadi sudah cukup. Tapi tidak. Ada yang tumbuh, kini rasa penasaran.
Barat memejamkan mata sejenak. Aroma itu-seperti menggelitik. Sederhana tapi menggoda. Ia tahu ini salah, tapi tubuh Barat tak sekuat itu kali ini. Dan Reya, masih sibuk di meja kecilnya, bahkan tak tahu ia sedang menjadi pusat dari hasrat yang mengamuk dalam diri lelaki yang duduk hanya dua meter darinya.