LC 6

854 Kata
"Kita ke apartemen saya dulu. Kita atur jadwal." Barat katakan sebelum pulang. Meski sebenarnya dia punya rencana lain. "Baik Pak." Keduanya kemudian berjalan keluar dan menuju tempat di mana Barat memarkirkan mobilnya. Tak lama sampai akhirnya Barat segera melajukan mobil ke apartemennya. Reya duduk di kursi penumpang, tangannya memegang map cokelat berisi jadwal kerja dan laporan yang tadi sempat dibahas bersama Satrio. Dia tahu ini sedikit tak biasa, dia—seorang asisten baru, aneh jika ia diajak langsung ke apartemen atasan. Tapi Barat mengatakan mereka harus menyusun jadwal penting, dan sebagai pegawai baru, dia tak ingin menolak. "Rumah saya dekat kok dari kantor," kata Barat datar. Tangannya menggenggam setir. "Kita bisa selesaikan jadwal di sana, kamu bisa langsung pulang setelahnya." Reya hanya mengangguk. "Baik, Pak." Jantungnya berdetak pelan tapi berat. Entah kenapa, malam ini terasa sedikit berbeda. Ia melirik ke arah Barat sekilas sebelum akhirnya kembali menatap ke jalan di depannya. Sampai di apartemen Barat, segera melangkahk masuk tidak banyak yang mereka bicarakan. Hanya salimg diam sampai di depan pintu Kemudian mereka masuk. "Ayo masuk," ajak Barta. Ruangan itu dingin dan rapi. Dindingnya putih, jendela besar menampakkan pemandangan kota malam yang dipenuhi lampu. Reya berdiri kagum di dekat meja makan, menunggu instruksi lebih lanjut. Barat membuka jasnya, lalu duduk di sofa sambil mengamati Reya dari ujung mata. "Silakan duduk," katanya akhirnya. Reya menarik napas dan duduk di sisi lain meja. Tangannya mulai membuka map, namun suara Barat menghentikannya. "Reya," ucapnya, pelan tapi tegas. "Saya mau tanya sesuatu. Boleh?" Reya menoleh. "Boleh, Pak." "Gimna rasanya kamu kerja di sini?" Nada Barat terdengar lain, lebih tenang dari biasanya. Reya diam sesaat. "Rasanya seneng pak, saya bisa beliin bapak roti yang udah lama gak kami beli. Sya juga enggak perlu kerja part time sampai malam. Makasih ya Oak." Barat mengangguk kecil. Tatapannya menjadi lembut ada kebahagiaan kecil yang ia rwsakan, tapi wajahnya seperti menyimpan pergulatan dalam dirinya sendiri. "Berapa umur kamu?" "Dua puluh tiga, Pak." "Kuliah kamu gimana?" "Masih ngejar buat skripsi pak. Semester akhir." Barat menatap Reya dalam diam. Lama. Sampai Reya sendiri merasa salah tingkah. Lalu, sebuah kalimat nyaris keluar dari mulut Barat, kalimat yang sejak tadi bergema di kepalanya. Kalimat yang semestinya tidak ia ucapkan. Tapi... nafsu dan rasa penasaran mengaduknya dari dalam. Namun sebelum kata itu keluar, seberkas bayangan melintas dalam benaknya, wajah Tania, ibunya Karina, lalu matanya sendiri yang menatap kosong ke cermin. Dia meremas ujung jari-jarinya. Dingin. Tangannya berkeringat. Apa yang lagi kamu lakuin, Bar? bisiknya dalam hati. "Reya, kamu tahu, kamu itu unik menarik," ucapnya, nadanya berubah lebih pelan dan lembut. Reya menatap Barat Dnegan kaget. Tak menyangka atasan sependiam dan sedingin itu mengeluarkan perkataan seperti itu. Dia tak tahu harus menjawab apa. Barat mendekatkan tubuhnya, tapi tak menyentuhnya. Hanya menatap. "Tapi kamu harus tahu, dunia kerja itu keras. Banyak yang bisa manfaatin kelemahan orang lain, termasuk kelemahan kamu." Reya hanya mengangguk pelan, menunduk. Ia merasa dingin mengalir di tengkuknya. "Maaf permisi," kata Barat lalub erdiri. Berjalan menjauh, memunggunginya. Tangannya mencengkeram keras ke tepi meja dapur. Ia menahan napas. Dalam benaknya, kalimat yang tadi ingin ia lontarkan seperti jerat yang siap mengikatnya dalam rasa bersalah. Dia menggeleng. Tidak. Dia bukan seperti itu. Dia menoleh ke Reya, yang kini tampak sedikit kaku dan takut. "Kamu boleh pulang," ucapnya akhirnya. Suaranya kembali dingin. "Besok kita bahas jadwal itu di kantor saja." Reya mengangguk cepat. "Baik, Pak. Terima kasih." Saat dia pamit dan membuka pintu, Reya sempat menoleh sekali lagi. Tatapan mereka bertemu. Tak ada senyum, tak ada janji. Tapi ada satu hal yang menggantung di antara mereka Sesaat setelah pintu tertutup Barat menjatuhkan tubuh ke sofa. Matanya menatap kosong ke langit-langit apartemen. "Apa yang hampir kamu lakuin sih, Bar?!" gumam Barat frustasi Ia mengusap wajah. Nafasnya panjang dan berat. Malam ini bukan tentang jadwal. Ini tentang batas yang nyaris ia langkahi. Dan mungkin, ya hanya mungkin. Reya bukan perempuan yang bisa ia perlakuan seenaknya begitu saja. *** "Mbak Reya." Suara lemah itu membuat langkah Reya berhenti di ambang pintu. Ia baru saja kembali dari apotek rumah sakit, membawa beberapa obat yang diresepkan siang tadi. Namun baru saja menjejak masuk, suster memanggilnya dan mengatakan kondisi ayahnya tiba-tiba menurun drastis. "Ya sus?" "Ayah kamu kritis." Reya bergegas ke ruang ICU. Karyo terbaring lemah dengan alat bantu napas terpasang di wajahnya. Monitor di sampingnya berbunyi pelan namun stabil. Tapi wajahnya pucat. Lebih pucat dari pagi tadi. "Pak, jangan tinggalin aku ya," bisik Reya sambil menggenggam tangan ayahnya. Karyo membuka mata samar. Bibirnya bergerak pelan. "Reya, jangan sedih. Maaf ya nak Bapak— nyusahin terus." Air mata Reya langsung menetes kata-kata itu begitu perih. Di hatinya. "Enggak, Pak. Enggak sama sekali. Bapak nggak pernah nyusahin. Aku yang kurang, kurang bisa bahagiain Bapak." Suster datang kembali, wajahnya cemas. "Mbak Reya. kami butuh tanda tangan Mbak buat tindakan darurat. Tapi biayanya besar. Kami harus lakukan transfusi dan observasi intensif malam ini. Kalau terlambat—" Kalimat itu menggantung, tapi Reya tahu artinya. Ia mengangguk, tubuhnya bergetar. Tangannya menggenggam lembar estimasi biaya yang disodorkan suster. Angkanya hampir sepuluh juta. Reya bahkan tidak punya setengahnya. "Saya akan usahakan malam ini sus. Tolong lakukan yang terbaik untuk Bapak." Reya memohon. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN