LC 6B

922 Kata
*** Apartemen Barat, satu jam kemudian. Barat baru saja selesai membuka kancing kemejanya. Suara bel berbunyi barat membuka pintu. Mata pria itu sempat mengerut, tak menyangka Reya akan datang lagi malam-malam begini. Ketika pintu apartemen terbuka, Reya berdiri di sana, masih memakai pakaian kantornya. Wajahnya pucat, matanya sembab. "Silahkan masuk," ajak Barat. "Terima kasih pak." Barat mempersilahkan Reya duduk dengan tangannya. "Ada apa?" tanya Barat langsung, tatapannya tajam. Tapi dalam diam, ia sedikit terkejut. Kenapa gadis itu terlihat begitu sedih? Reya menunduk, kemduian duduk dengan Cangg6. "Pak maaf, syaa tau ini lancang, tapi bapak saya kritis. Butuh banyak biaya. Banyak sekali." Diam. Barat menatap Reya. Jelas sekali dia tidak berbohong. Barat menyandarkan tubuhnya ke kusen pintu, mengamati Reya seperti sedang menimbang-nimbang. "Kamu tahu jelas kalau saya memang bisa bantu." Reya mengangguk pelan. "Saya tahu Pak." "Kamu tahu ini ada syaratnya?" Nada suaranya tetap datar, tidak menggoda, tidak memaksa. Tapi tekanan di balik kata-katanya tetap terasa penuh aet6. Gadis itu diam lama. Lalu ia mengangkat wajahnya, menatap Barat dengan mata basah. "Kalau—kalau saya setuju malam ini— Bapak saya bisa ditolong, kan Pak?" Barat menahan napas. Ia tidak menyangka gadis itu akan menyerah secepat ini. "Kamu yang bilang, kamu butuh uang. Saya cuma kasih kamu jalan." Ia duduk bersandar kemudian diam dan menatap, memberi Reya ruang untuk berpikir. "Pilihan ada di kamu." Reya mematung selama beberapa detik. Hatinya berteriak, tubuhnya gemetar. Tapi wajah Karyo terbayang jelas di benaknya. Senyum lemah itu. Tangan yang selalu mengelus rambutnya tiap kali ia sedih. Ia tidak bisa kehilangan ayahnya, tdak sekarang. *** Reya duduk kaku di sofa dengan perasaan kacau. Tangannya mengepal di atas paha, kuku-kukunya menekan kulit sampai memerah. Di depannya, Barat duduk menatap dengan tangan bersilang di d**a, memandangi gadis itu dalam diam cukup lama sebelum akhirnya membuka suara. "Saya nggak akan paksa kamu malam ini," ujarnya datar, lalu menarik napas. "Saya cuma mau semuanya jelas. Hitam di atas putih." Reya mengangguk pelan, meski wajahnya masih tertunduk. "Perjanjian?" Barat mengangguk. "Kamu akan tetap kerja di kantor, dapat gaji dan bonus seperti biasa. Tapi aku juga akan kasih kamu uang tambahan. Banyak. Kamu bisa bayar rumah sakit, kuliah dan pasti hidup lebih terpenuhi." Reya menelan ludah. "Terus sebagai gantinya?" "Saat saya butuh kamu, kamu ada. Dalam segala hal, apapun termasuk 'berhubungan'." Barat menatap mata Reya yang mulai berkaca-kaca. "Saya bukan pria yang suka main kotor, Reya. Saya nggak mau tidur Dnegan sembarangan perempuan. Risiko penyakit, nama baik, semua itu taruhannya. Makanya, kalau aku bisa punya seseorang yang bersih seperti kamu, yang aku percaya, kenapa nggak?" Reya terdiam. Di kepalanya, kata-kata Barat mengalir seperti air sungai yang keruh. Rasional, tapi tetap terasa sakit di dalam hatinya seperti menjual dirinya sendiri. "Saya tetap bisa kerja, kan Pak?" tanyanya lirih. Hanya itu yang ada dalam pikirannya ia butuh uang untuk pengobatan sang ayah. "Iya pasti. Justru kamu dapat posisi aman. Saya pasti qkan lindungi kamu di perusahaan. Gak akan ada yang ganggu kamu." Reya diam, semua jelas dia akam melayani Barat secara utuh. Barat lalu membuka laci kecil di meja ruang tamu, mengambil amplop cokelat. Isinya tebal. Ia meletakkannya di meja di depan Reya. "Ini buat malam ini. Bayar rumah sakit. Sisa simpan sendiri. Kamu butuh lagi, tinggal bilang kamu bisa hubungi saya." Reya menatap amplop itu. Tangannya dingin, bibirnya bergetar. Tapi tangan tetap bergerak. Perlahan, ia mengambil amplop itu. Semua demi sang ayah. Barat berjalan ke arah pintu, lalu menoleh. "Saya akan minta supir antar kamu. Kamu nggak mungkin naik ojek dalam keadaan begini." Reya berdiri, masih memegang amplop erat di d**a. Ada rasa lega meski ada cemas yang jelas terlihat juga. "Terima kasih, Pak." Barat mengangguk. "Ingat, Reya. Saya nggak akan minta kamu datang dengan paksa. Tapi saat saya bilang saya butuh kamu. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan." Reya hanya mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah Barat ke luar pintu. "Ba-baik pak.". *** Rumah sakit masih ramai di tengah malam saat mobil hitam berhenti tepat di depan lobi rumah sakit. Supir pribadi Barat segera turun dan membukakan pintu untuk Reya. Ia melangkah turun dengan langkah cepat, mendekap tas kecilnya Dnegan kencang, seperti menyembunyikan sesuatu yang sangat penting dan berharga di dalamnya. Ya tentu saja berharga. Amplop cokelat itu masih di sana. Uang. Banyak sekali pemberian Barat dengan menukar dirinya sendiri Begitu melewati pintu rumah sakit, hawa antiseptik menyergapnya. Dingin, Penuh kenangan yang membuat dadanya semakin berat. Tapi dia melangkah pasti. Naik lift. Langkah kaki menyusuri lorong putih yang lengang. Hatinya penuh gejolak. Campur aduk antara lega, malu, dan takut. Ketika pintu kamar rawat inap ayahnya terbuka, bau khas infus dan alkohol menyambut. Pak Karyo terbaring lemah di ranjang, dengan selang infus dan alat bantu pernapasan di sekitarnya. Matanya yang mulai redup menatap Reya, berusaha menyunggingkan senyum kecil meski wajahnya pucat pasi. "Reya... kamu dari mana,?" bisik Karyo pelan. Reya mendekat, meletakkan tasnya di kursi. "Iya, Pak. Reya bawa makanan juga tadi keluar sebentar." suaranya tersangkut di tenggorokan. Ada beban yang tak bisa ia ceritakan. Karyo mencoba tersenyum meski tubuhnya terasa lemas. "Gimana kerjaan kamu nak?" Reya menarik napas dalam-dalam. Lalu mengangguk, matanya menatap Karyo mencoba memperlihatkan kalau ia bahagia dan baik-baik saja. "Aku udah diterima kerja, Pak. Hari ini tadi sudah mulai. Doain ya, biar Reya bisa terus kerja dan bayar semua. Supaya bapak bisa sehat." Pak Karyo mengangguk, lalu menatap anak gadisnya dengan tatapan bersalah. "Maaf ya, Nak. Bapak malah nyusahin terus." "Pak, jangan ngomong gitu. Reya bahagia sekali punya Bapak," potong Reya cepat. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan ayahnya yang dingin. "Bapak selalu berusaha, selalu sayang Reya. Itu udah cukup."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN