Karyo menghela napas. Tubuhnya gemetar sedikit karena suhu dingin. "Kamu harus hidup bahagia nak, Reya. Jangan sampai kamu ambil jalan yang bikin kamu nyesel ya.'
Deg!
Jantung Reya seperti ditusuk. Ia mengalihkan pandangan. Kata-kata ayahnya seperti hantaman keras yang tak disengaja. Tapi ia diam. Tak sanggup menjawab.
"Aku keluar sebentar ya Pak." Reya berjalan keluar menuju kolet pembayaran.
Di sela keheningan itu, ia membuka amplop perlahan. Mengambil beberapa lembar besar. Lalu berdiri dan berjalan ke perawat jaga di depan. Tanpa banyak bicara, ia menyerahkan uang muka untuk tindakan lanjutan ayahnya.
Perawat itu menatap jumlah uangnya, lalu mengangguk. "Terima kasih, Mbak. Ini cukup untuk penanganan. Dokter jaga akan segera datang."
Reya hanya mengangguk pelan, lalu kembali ke kamar. Ia duduk lagi di samping ranjang. Menatap ayahnya yang mulai terlelap. Napasnya masih terdengar berat, tapi lebih stabil. Reya menatap wajah lelah itu, wajah yang menua karena menanggung terlalu banyak beban hidup. Air matanya jatuh, pelan-pelan, tanpa suara.
Dalam hati, Reya berucap.
"Maaf, Pak. Maaf banget, Reya gak bisa kasih tahu. Tapi, Reya juga gak tahu lagi harus gimana. Gak tahu harus kemana. Ini satu-satunya cara." Ia menunduk, menatap tubuh ayahnya yang kurus. Dalam diam, ia menangis. Menyimpan semua kepedihan itu sendiri.
***
Cahaya matahari menerobos dari celah tirai kantor, menyentuh perabotan yang sudah Reya bersihkan sejak pagi buta. Wangi kopi baru diseduh menyebar dari pantry kecil di sudut ruangan. Suara seret kursi, gesekan kain pel, dan langkah sepatu heels-nya menggema pelan di ruang yang belum sepenuhnya terisi.
Reya mengenakan kemeja putih polos dan celana panjang gelap, rambut dikuncir, sederhana seperti biasanya. Hari ini ia sedikit lebih rapi. Bahkan sempat menyetrika sendiri bajunya malam tadi sebelum ke rumah sakit. Tapi tak ada bedak atau lipstik di wajahnya. Tak ada waktu. Tak ada tenaga.
"Pucet banget." Reya bergumam menatap dirinya dari cermin kecil di meja.
Ia baru saja memindahkan barang-barangnya ke meja kerja di luar ruangan pribadi Barat. Meja itu dulunya milik Satrio. Sekarang Reya menggunakannya atas instruksi langsung dari atasannya, agar lebih mudah dipanggil kapan saja.
Baru saja ia selesai merapikan tumpukan dokumen di sisi Barat, pintu terbuka. Langkah kaki mantap dan aroma parfum pria mahal langsung memenuhi ruangan. Barat datang, mengenakan setelan jas gelap seperti biasa, kemeja biru muda di baliknya menggambarkan suasana hatinya yang entah kenapa lebih ringan dari biasanya.
Barat berjalan masuk tanpa suara. Namun matanya langsung mengarah pada Reya yang tengah sibuk di balik meja. Tubuh gadis itu sedikit membungkuk, menyimpan map ke laci.
Reya menoleh dengan cepat begitu sadar atasannya sudah tiba. Wajahnya kaku. Tak ada senyum hangat seperti kemarin. Hanya anggukan kecil dan tangan yang mencengkeram map lebih erat.
Barat memiringkan kepalanya. "Kamu gak ngucapin selamat pagi ke saya?" Suara itu tenang. Tapi ada nada dingin yang menyelip. Mata Reya membesar. Ia berdiri canggung.
"Selamat pagi, Pak," ucapnya pelan, sedikit terbata. Sambil menunduk memberi hormat.
Barat berjalan menuju meja, meletakkan tas kulitnya, lalu mengambil cangkir kopi yang Reya sudah siapkan di meja sebelah laptopnya. Ia menghirup aromanya dulu, baru menyeruput pelan. Tak ada komentar beberapa detik. Reya hanya menunggu. Hening menyelimuti ruangan.
"Ini kopi apa?" tanyanya tiba-tiba, menoleh.
Reya mengangkat kepala. "Itu kopi yang ada di dapur, Pak. Saya sempat tanya ke pantry, Bapak biasanya minum merek tertentu. Tapi menurut saya, yang itu biasa bapak minum nggak enak. Jadi saya pilih yang lain," jawabnya hati-hati.
Ia menunduk lagi. Tak ada keberanian menatap mata Barat.
Barat mendengus kecil. "Jadi kamu ubah kopi saya tanpa tanya dulu?"
Reya mengangguk pelan. "Iya, Pak Maaf. Tapi saya pikir— bapak mungkin suka yang ini."
Barat kembali menyesap kopi itu, lalu meletakkannya pelan. "Saya suka."
Reya mendongak, matanya sedikit menyipit karena tersenyum. Tak menyangka akan mendapat pujian. Barat menyandarkan punggung ke kursinya. Tatapannya mengarah langsung ke wajah Reya yang masih tegang.
"Kalau kamu butuh tempat tinggal, kamu boleh ke apartemen saya. Yang kemarin," ucapnya, santai, seperti sedang menawarkan tumpangan dengan mudahnya.
Reya diam. Hatinya mencelos. Tapi ia hanya mengangguk. Tak ada kata keluar dari mulutnya. Terlalu banyak yang ingin ditahan.
Barat memicingkan mata. "Kamu gak mau jawab pertanyaan saya?"
Reya mengangkat wajah, menatap sebentar lalu kembali menunduk. "Baik, Pak," katanya cepat.
Barat melambaikan tangan. "Sini."
Dengan ragu, Reya mendekat. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Gadis itu berdiri di sisi mejanya sekarang, menunduk seperti anak sekolah yang ketahuan bolos.
Barat mengulurkan tangan. Lalu menggenggam tangan Reya, membalikkan dan menatap telapak tangan gadis itu sejenak. Jari-jarinya halus dan lembut.
Lalu tanpa diminta, ia mencondongkan tubuh. Menghirup aroma tubuh Reya. Masih segar. Sama seperti kemarin. Aroma yang sederhana, mungkin dari hotel atau pembersih murah, tapi justru membuatnya terasa bersih dan… membangkitkan membuat barat b*******h.
Sial! Hasrat itu muncul lagi. Liar tapi ia tahan. Matanya menatap lurus pada wajah Reya.
"Kamu sudah pernah pacaran Rey?" tanyanya, suaranya pelan, berbisik, terdengar seperti bisikan.
Reya terdiam beberapa detik. Lalu menggeleng pelan. "Belum pernah, Pak."
"Belum pernah pacaran? Hmm, kami Sudah pernah ngapain?" Suara itu nyaris tak terdengar.
Reya terdiam mencoba memahami apa yang dikatakan oleh barat. Setelah mengeeti pipi Reya memerah. Tapi ia menggeleng lagi, malu.
Barat mengangguk puas bukan hanya karena jawaban tapi reaksi polos itu, membuat dia semakin ingin. "Bagus."