LC 8

950 Kata
Hening. Reya menatap lantai. Tangannya sudah ditarik kembali, disembunyikan di balik punggung. Napasnya sedikit tercekat. Hari baru saja dimulai. Tapi dalam d**a Reya sudah terasa penuh ketakutan. "Silahkan kembali ke tempat duduk kamu." "Baik, terima kasih pak." Reya kembali ke meja kerja. Memulai untuk menyelesaikan pekerjaannya. Barat mulai untuk membaca dokumen-dokumen, meneliti detail, lalu ia bersandar di kursinya. Matanya tak lepas dari pantulan kaca ruangannya yang mengarah ke luar. Di sana, gadis itu duduk. Sibuk merapikan meja yang akan menajdi meja kerjanya. Tapi bukan itu yang membuat pikirannya terusik. Ada yang lebih mengganggu dari sekadar pekerjaan. "Kenapa wanginya selalu ganggu ?" gumamnya pelan, nyaris seperti bicara pada diri sendiri. "Wangi apa? Musk? Vanila?" Barat menarik napas dalam-dalam, mencoba menepisnya. Tapi aroma itu masih melekat. Menyusup masuk ke dalam ruangannya, meskipun Reya duduk di luar. Wangi manis yang entah kenapa membuatnya sulit fokus. Tangan Barat bergerak lambat membuka kembali satu file di mejanya, tapi matanya tak benar-benar membaca. Bayangan semalam terus bermain dalam pikirannya. Tawaran yang ia berikan, respons gadis itu, dan sorot mata Reya saat menerima uang itu, antara pasrah dan terpaksa, tapi tidak menyangkal. Barat mengetuk jari di meja. Sekali, dua kali. Dia tahu ini bukan keputusan yang umum. Tapi dia juga tahu, semua bisa dijustifikasi secara logis. "Daripada aku angkat orang baru, yang aku bahkan gak tahu bersih atau enggaknya," katanya pelan. "Setidaknya, dia... steril." Barat memang butuh itu. Selama lebih dari 30 tahun hidup, Barat belum pernah melakukan hubungan dengan siapapun. Tangannya mengambil telepon. Menekan sambungan ke HRD. "Halo," suaranya tenang tapi tegas. "Saya mau proses pengangkatan Reya sebagai sekretaris pribadi saya. Satrio sedang tugas luar kota dan sekretaris lama sudah resign. Segera siapkan dokumennya. Saya butuh dia pindah meja hari ini." Setelah mendapat konfirmasi, dia menutup telepon. Tidak ada keraguan di raut wajahnya. Dia tahu ini bukan sekadar promosi jabatan. Tapi juga tentang kontrol. Tentang memastikan bahwa saat dia butuh, Reya ada. Sesuai perjanjian mereka. Tangannya kembali ke telepon, kali ini menyambungkan ke ekstensi luar. "Reya, masuk ke ruangan saya sekarang." Di luar, Reya mengangkat kepalanya saat mendengar suara itu dari interkom. Jantungnya berdebar pelan. Tangan yang tadi sibuk menata meja , kini diam di atas meja tersebut. Wajahnya datar, tapi telinganya panas. Panggilan itu seperti menandai sesuatu, ia bisa merasakannya. "Baik Pak." Dengan perlahan, Reya bangkit dari kursinya. Dirapikannya blouse yang sedikit kusut karena duduk terlalu lama. Lalu melangkah menuju ruangan Barat. Satu tarikan napas. Lalu tangannya mengetuk pintu perlahan. "Masuk," suara Barat dari dalam terdengar tenang, tapi jelas memberi tekanan. Reya membuka pintu pelan. Ia melangkah masuk dengan ragu, seperti anak sekolah yang baru saja dipanggil kepala sekolah. Tangannya refleks menutup pintu, tapi belum sempat ia berbalik, suara dingin itu kembali memanggil. "Tutup pintunya. Kunci." Reya membeku sejenak. "Maaf Pak?" tanyanya pelan, tak yakin apakah ia salah dengar. "Tutup dan Kunci." Ulang Barat, suaranya lebih rendah, tapi tegas. Jari-jari Reya bergetar saat memutar kunci. Dia merasa sesuatu yang tak biasa sedang terjadi, tapi suaranya tercekat. Ia berbalik dan tetap menjaga jarak. Mata mereka bertemu sekilas. Dingin dan dalam. Reya menunduk cepat-cepat, jantungnya berdetak terlalu keras. Barat memiringkan kepalanya, mengamati. Dia tahu betul ini bukan hal yang benar, bahkan mungkin sangat salah. Tapi ada sesuatu tentang gadis itu yang membuatnya seperti kehilangan kendali atas nalar. "Kamu..." katanya sambil berdiri dari kursi, pelan. "benar kan belum pernah pacaran?" Reya mengangguk pelan, tak berani menatap wajah pria itu. "Belum pernah, Pak." "Tapi kamu udah dewasa, lho." Reya mengangguk lagi. Tubuhnya kaku, masih berdiri dekat pintu. Jelas-jelas ia gelisah. Barat melangkah pelan, tidak terburu. "Sini." ujarnya pendek. Gadis itu diam. Tidak langsung bergerak. "Saya bilang, sini." Perintah itu tidak keras. Tapi ada tekanan yang membuat Reya tak bisa menolak. Ia melangkah pelan, masih menunduk. Tubuhnya berhenti dua langkah dari Barat. Barat menatapnya. Ini hal paling gila yang pernah dia lakukan. Tapi dia tidak bisa menghentikannya. Tangannya menjangkau, menggenggam tangan Reya. Lembut. Dingin. Dan entah mengapa, ada sesuatu yang membuatnya ingin terus menyentuh. Ia remas perlahan, lalu ibu jarinya mengelus punggung tangan gadis itu. Lalu, tanpa banyak pikir, ia menunduk, mencium tangan Reya. Tepat di bagian nadi. Aroma tubuh gadis itu menyeruak lebih tajam. Wangi vanila bercampur dengan sesuatu yang alami dan segar. Itu cukup untuk menggelitik sisi liar dalam diri Barat. Ia tidak menyangka aroma tubuh Reya bisa sesensual ini. Tangan Reya bergerak, tapi tak sempat menarik diri. Ia hanya berdiri di sana, mematung seperti boneka kayu. Ketakutan? Bingung? Atau menyerah? Barat berdiri lebih dekat. Nafas mereka nyaris bersatu Reya masih menunduk. "Kamu setuju, kan, sama perjanjian kemarin?" tanya Barat, suaranya lebih rendah dari tadi. Reya diam. Sejenak. Lalu mengangguk pelan. Gerakan itu kecil, nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk membuat api dalam d**a Barat semakin besar. Tanpa banyak bicara, Barat menunduk dan mengecup bibir Reya. Sederhana dan singkat sekali beberapa detik saja. Tapi cukup untuk membuat tubuh Reya bergetar. Gadis itu tak membalas. Tak menolak, tapi jelas sekali bahwa ia tidak tahu harus berbuat apa. Polos, kaku, napasnya tersendat. Barat mundur sedikit, menatapnya. Dia benar-benar lugu, batin Barat. Bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ada bagian dari dirinya yang merasa bersalah, tapi rasa bersalah itu tertutup oleh sesuatu yang lebih kuat: hasrat. Tangan kirinya melingkar ke pinggang Reya. Membawanya lebih dekat. Sedangkan tangan kanannya naik, menyusuri garis rahang gadis itu, menyentuh pipinya dengan lembut. "Lihat saya," bisik Barat. Reya menelan ludah. Pelan-pelan, ia mendongak. Matanya akhirnya bertemu dengan mata Barat. Ada gemetar di sana. Tapi juga sesuatu yang lain. Mungkin rasa ingin tahu, mungkin juga rasa takut. Senyum kecil muncul di wajah Barat. Tidak penuh, hanya setengah, tapi cukup untuk mengungkapkan bahwa dia sedang berjuang keras mengendalikan dirinya. "saya nggak akan ngapa-ngapain kamu di kantor," katanya pelan, hampir seperti berbisik ke telinga Reya. "Belum untuk saat ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN