LC 9

615 Kata
Gadis itu tetap diam. Barat menunduk sekali lagi, mencium pipi Reya sekilas. Lalu menjauh perlahan. "Ayo. Kita keluar. Ada hal penting yang harus kita bicarakan." Reya hanya mengangguk. Napasnya masih tidak teratur. Tapi ia mengikuti langkah pria itu yang kini berjalan menuju pintu, lalu membuka kunci. Saat mereka melangkah keluar, para staf sudah kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang terlalu peduli. Tapi hanya Reya yang tahu, bahwa satu langkah barusan. bisa jadi mengubah hidupnya selamanya. Perjalanan di dalam mobil berlangsung hening. Mesin menderu pelan, menyusuri jalanan ibukota yang padat. Dari balik jendela, lampu-lampu kota berganti seperti kilasan mimpi yang tak sempat dimaknai. Reya duduk di samping, memeluk tasnya erat-erat. Tangannya menggenggam resleting, sementara matanya sesekali mencuri pandang ke arah pria di balik kemudi. Barat menyetir dengan satu tangan, mata tertuju ke jalan. Ekspresinya seperti biasa dingin, fokus, nyaris tak terbaca. Tapi dari cara ia mengetuk-ngetukkan jari di setir, Reya tahu apa yang mungkin akan terjadi, pikirannya tidak tenang. Barat menangkap tatapan gadis itu dari sudut matanya. "Kenapa?" tanyanya tanpa menoleh. Reya cepat-cepat menunduk. "Enggak, Pak." "Kalau nggak kenapa-kenapa, kenapa ngelihatin saya?" Gadis itu menggigit bibir, ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya, "Kita mau ke mana, Pak?" Hening sebentar. "Apartemen saya," jawab Barat datar. Reya refleks menelan ludah. Tangannya mencengkeram tas lebih kencang. Nafasnya pendek. Jawaban itu seperti sebuah pintu yang membuka langsung ke ruang kosong dalam dirinya, penuh ketakutan, keraguan, dan pasrah. Mobil akhirnya berhenti di sebuah gedung tinggi dengan penjagaan ketat. Reya mengikuti langkah Barat yang langsung keluar, membukakan pintu untuknya. Mereka tidak banyak bicara. Seperti dua orang asing yang saling tahu arah, tapi tidak tahu hati. Lift membawa mereka naik ke lantai atas. Lantai eksklusif. Hening. Lantai karpet yang tebal membuat suara langkah nyaris tak terdengar. Reya berjalan dua langkah di belakang pria itu. Seperti bawahan. Seperti karyawan atau seperti korban? Barat membuka pintu apartemennya. Unit mewah dengan jendela tinggi, furnitur elegan, dan pencahayaan hangat. Tidak berantakan, tapi juga tidak terlalu hidup. Apartemen ini seperti pemiliknya rapi, tapi sepi. Barat langsung menuju sofa, melempar jasnya ke sandaran, lalu duduk sambil membuka dasi. "Tolong buatin saya kopi." Reya terdiam sesaat, tapi kemudian berjalan pelan ke arah dapur. Tangannya menyentuh mesin kopi dengan sedikit ragu. Dia belum pernah menggunakan alat sekelas itu, tapi dia mencoba, menekan tombol, memilih mode yang kelihatannya benar. Beberapa menit kemudian, aroma kopi memenuhi ruangan. Barat duduk bersandar, memperhatikan dari kejauhan. Diam-diam mengamati gerak-gerik gadis itu. Tubuhnya yang masih gemetar, cara dia menggulung lengan baju dengan gugup, dan bagaimana dia selalu menunduk seolah takut melihat dunia. Reya membawa cangkir ke meja. "Ini kopinya, Pak." Barat mengangguk, mengambil cangkir itu dan menyesap sedikit. Diam. Sunyi. Lalu, setelah beberapa tegukan, dia bangkit berdiri. "Ayo," ujarnya sambil menatap Reya. "Ke kamar." Gadis itu tidak bergerak reya tahu. Dia mengerti maksudnya. Perjanjian itu —Barat tak mengatakan apa-apa juga tak menjelaskan. Hanya berjalan ke arah pintu kamar dan membukanya. Lalu masuk. Reya berdiri di tengah ruang tamu. Lama. Seperti sedang berdebat dengan dirinya sendiri. Tangannya gemetar, jantungnya berdentum kencang. Dia takut. Tapi dia juga tahu, bahwa di akhir semua ini, dia bisa membayar biaya kuliah. Bisa bantu ayahnya berobat. Bisa hidup sedikit lebih baik. Maka dia melangkah. Kamar itu dingin. Luas dan terang. Rapi. Ada aroma parfum maskulin dan sabun di udara. Barat berdiri di dekat lemari. Menatap Reya yang masih berdiri di ambang pintu. "Mandi dulu. Di sana ada handuk dan kimono. Pakai itu aja, jangan bawa baju masuk. Biar gampang." Reya menelan saliva tubuhnya menegan, membatu, tapi dia mengangguk, tidak bersuara. Tidak bertanya. Hanya mengambil langkah pelan ke arah kamar mandi. Barat memerhatikannya masuk. Lalu duduk di pinggir ranjang. Melepas jam tangan, matanya tak lepas dari pintu yang kini tertutup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN