Reya sudah selesai, tapi ia masih terpaku di kamar mandi. Ini memang akan terjadi padanya cepat atau lambat. Apalagi ia sudah menanda tangani perjanjian.
"Rey belum selesai?* Suara Barat terdengar.
Reya berjalan keluar dengan canggung. Dia berdiri di depan Bart terlihat kaku dan takut. Barat menepuk bagian tempat tidur, tepat di sebelahnya. Reya duduk di sana.
Barat menatap Reya, tatapan polos dan lugu itu benar-benar membuat dia b*******h. Lalu barat berikan dua kecupan. Pelan. Penuh jeda. Seolah Barat sedang menilai sejauh mana gadis di hadapannya bisa bertahan pada permainan yang baru saja dimulai.
Bibirnya kembali menemukan bibir Reya, kali ini lebih lama. Reya mematung, tidak tahu harus bagaimana. Segalanya terlalu cepat. Terlalu asing. Tapi dia tidak menolak. Karena ini adalah bagian dari perjanjian.
"Buka kemeja saya." Barat memerintahkan seraya tangannya meletakkan tangan reya di dadanya.
Kemeja di tubuh Barat perlahan lepas, satu per satu kancing dilepas, jemari Reya yang gemetar nyaris tak bisa fokus ketika pria itu membimbing tangannya menyentuh kulit hangatnya. d**a Barat naik turun, napasnya memburu meski wajahnya tetap seperti biasa tenang. Dingin. Mengintimidasi.
"Tarik napas, Reya," bisiknya, jari-jarinya yang dingin menyentuh garis bahu gadis itu, menurunkan kimono tipis yang hanya terikat longgar di pinggang. "Kamu butuh oksigen."
Suara itu bukan lagi suara atasan. Tapi lebih dari itu. Menggetarkan. Menghipnotis. Seolah tubuh Reya punya pikirannya sendiri, ia mengangguk pelan dan menarik napas yang terasa berat.
Sentuhan di kulitnya terasa asing, tapi tidak menyakitkan. Justru sebaliknya. Ada kehangatan yang pelan-pelan tumbuh, menjalar seperti aliran listrik di setiap inci permukaannya. Barat mengecup bahunya, lama, seakan mencoba menghafal aroma tubuh gadis itu. Manis. Asli. Tidak tertutup parfum atau kosmetik mahal. Reya yang sebenarnya.
Barat mengangkat wajahnya, menatap gadis itu yang masih berdiri kikuk. "Kamu sudah gak bisa mundur," katanya. Tapi ucapannya tidak diiringi keinginan untuk melepaskan. Tangannya masih di sana, di pinggang Reya, menahan gadis itu agar tidak beranjak.
Reya menggeleng. Pelan. "Iya, saya sudah di sini, Pak..." suaranya bergetar pelan, merasakan kebingungan dalam diri.
"Panggil nama saya." Suara Barat melembut.
Gadis itu menunduk. "Pak Barat."
Dua kata itu, entah mengapa, membuat desiran hasrat dalam tubuh pria itu melonjak. Seolah mendengar suaranya dibisikkan seperti itu adalah bahan bakar paling liar untuk rasa yang sudah tak lagi bisa dia kendalikan.
Tak ada kata. Hanya bunyi napas yang menggema di ruangan. Kimono Reya dibiarkan jatuh, tubuhnya menggigil tapi bukan karena dingin. Barat membungkus tubuhnya dalam pelukan, dan meski Reya masih kaku, dia tidak merasa takut. Sentuhan pria itu tegas, namun tidak memaksa.
Perlahan, semua lapisan pun hilang. Tidak ada lagi kain yang menutup tubuh mereka. Yang tersisa hanya kulit bertemu kulit, mata saling menatap dalam diam yang mendebarkan.
Barat bergerak menelusuri bagian atas lalu terhenti dan minum seperti bayi kecil. Bagian itu sudah terlihat bereaksi, barat menyesap seperti bayi. Lalu menggoda dengan tangan, meremas. Reya hanya bisa memejamkan mata, merasa hasrat liar yng terus menggoda.
Barat menatap reaksi reya yang membuat dia gemas. Sambil ia gigit kecil membuat reya memekik tertahan.
Barat terus menggoda, mengeksplorasi setiap respon Reya yang polos. Setiap desah lirih dari gadis itu menjadi petunjuk baginya. Reya yang mencoba menahan suara, malah membuat Barat semakin tergoda untuk membuatnya bersuara.
"Desah saja," bisiknya, satu tangan menyelusup ke rambut Reya yang lembut. "saya mau dengar kamu bilang nama saya lagi."
Reya memejamkan mata, giginya menggigit bibir bawah. Napasnya tercekat. Tapi akhirnya dia menyerah, membisikkan nama pria itu nyaris tanpa suara. "Pak Barat, hmmph,"'
"Iya seperti itu reya."
Barat merebahkan, menatap setiap sisi tubuh yang kini terpampang membuat ia tak tahan. Bagian tubuh Reya sudah siap, tapi barat membiarkan sedikit lebih siap lagi sebelum dia melakukan keinginannya.
"Oh Pak!" Reya memekik saat tangan Barat mengusap bagian paling sensitif di bawah tubuh. Barat terus menggoda sampai reya memejamkan mata dan mendongak kebelakang.
Reya tak sadar posisi barat sudah brubah, ia masih merasakan sensasi pelepasan pertamanya. Lalu dalam satu pergerakan barat hentakan. Tak ada aba-aba atau rasa iba. Reya merasakan ngilu luar biasa sampai air matanya menetes.
"Ssshh, sa-sakit pak." Reya memekik kukunya bahkan menancap ke punggung barat.
Barat bisa melihat noda merah itu saat sedikit menarik tubuhnya menjauh. Ia tersenyum, reya benar-benar jujur. Barat diam sambil kembali beri stimulus. Tak ingin juga terlalu menyakiti, melihat reya meneteskan air mata membuat rasa bersalahnya sedikit muncul.
"Masih sakit?* Barat bertanya.
Reya menganggukkan kepalanya ragu. "Sedikit."
Barat mencium bibir reya, tangannya tak berhenti beri stimulus pada sisi sisi tubuh reya yang sensitif. Barat sebenarnya tak tahan, ingin segera gerakan tubuh lepaskan hasrat yang ia rasakan.
"Hmmph,* lenguh reya.
Dengar itu Barat tau, Reya sudah siap. Ia menggerakkan tubuhnya pelan. Tangan Reya mengecengkram sisi kain seprai. Masih sakit, tapi ada getaran yang berbeda. Rasa yang diselimuti kenikmatan yang pertama kali ia rasakan.
"Sebentar aja, tahan dulu ya." Barat mencoba menenangkan karena ia sendiri sudah tak tahan ingin melampiaskan.
Reya menganggukkan kepala. Membiarkan barat terus bergerak ikuti debaran rasanya.. hasrat yang memberontak dalam diri yang sudah ia tahan beberapa hari kebelakang.
"Oh, s**t!" Barat merancau rasanya luar biasa. Ini sensasi pertama kali yang ia rasakan bersama seorang wanita. Barat mabuk akan perasaan ini, reya berikan kenikmatan yang selama ini coba dia tahan.
"Hmmph," lenguh Reya saat ia mulai kehilangan rasa sakit yang berganti dengan hasratnya yang naik lagi.
"Panggil nama saya," desah Barat ia ingin reya memanggilnya. Rasanya begitu luar biasa. Membuat ia semakin gila.
"Pak Barat," lirih Reya.
Panggilan yang membuat Barat gila lalu menghentak-hentak tak keruan. Buat dia gila, buat makin berdebar.
"Terus Rey."
"Oh Pak! Saya— eggh." Reya tak tahan ia kembali kalah salam permainan Barat. Tubuhnya bergetar hebat. "Oh," napasnya terputus putus. Lelah dan nikmat dalam waktu yang sama.
Sementara Barat juga tak berhenti dia bergerak semakin cepat. Lalu mendesak dalam dalam dan menumpahkan semua yang sudah lama yang ia tahan.
"Oh s**t! Rey! shht!
Dan saat itu, semuanya meledak dalam diam yang basah dan mendesak. Gerakan mereka mengalun dalam hasrat yang tak pernah mereka kenal sebelumnya. Tak ada yang buru-buru. Tapi tak ada juga yang bisa memperlambat.