LC 10B

836 Kata
Reya menatap barat yang memejamkan mata disebelah dengan senyuman lega. Yang ia tahu, pagi itu telah berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan. Bukan karena sakit. Bukan karena dosa. Tapi karena ada bagian dari dirinya yang kini telah berpindah ke seseorang bernama Barat. Saat semuanya selesai, tubuhnya berada dalam dekapan hangat pria itu. Tak ada kata-kata. Hanya detak jantung yang saling bersahutan. Seolah mereka tahu, ini bukan akhir. "Istirahat." Barat katakan sambil merapihkan selimut. Lalu sebuah kecupan di bibir Reya diberikan Barat. Reya masih menatap beberapa saat sebelum akhirnya memejamkan mata. Ini hal tergila ganb terlanjur dia lakukan. 'Maaf Pak,' batin Reya. *** Kamar Barat kini sepi setelah desahan dan erangan nikmat bertubi tubi tadi. Hanya lampu tidur di sudut ruangan yang menyala redup, menciptakan bayangan semu. Reya berbaring tanpa suara, matanya tak berkedip menatap langit-langit putih polos, sementara jemarinya mencengkram erat selimut yang menutupi tubuhnya. Di sampingnya, Barat tertidur dengan napas teratur. Wajahnya tenang, hampir terlihat damai. Mungkin merasa lega setelah menahan gejolak yang, entah sejak kapan, terus disimpannya untuk Reya. Tapi Reya tak baik-baik saja. Ada perasaan sakit dan berat di dadanya. Sebuah rasa menyesal yang panjang di antara rasa sakit dan pasrah. Tubuhnya masih nyeri. Ngilu. Terutama di bagian intim yang kini terasa seperti habis dilukai. Bukan luka berdarah, tapi luka yang terasa lebih menyakitkan. Luka dari sesuatu yang tak bisa ia kembalikan. Reya menoleh pelan, memandangi wajah Barat. Dan tanpa dia bisa tahan, setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya. Satu tetes kecil, yang segera disusul yang lain. Dia menggigit bibir. Menahan isak. Dia tidak bisa mundur. Tidak sekarang. Tidak setelah semua ini. Dia sadar sudah melangkah terlalu jauh. Reya perlahan bangkit dari ranjang. Langkahnya tertahan. Setiap gerakannya seperti disayat. Tapi dia tetap berjalan menuju kamar mandi. Menutup pintu perlahan, dan berdiri di depan cermin. "Aduh, sshh." Reya mendesah merasakan ngilu dan perih membuat Wajahnya pucat. Dia benar-benar kacau Rambutnya berantakan. Matanya sembab. Tapi dia mencoba mengatur napas dan mulai membersihkan diri. Air hangat mengalir di tubuhnya, namun tidak bisa membasuh rasa menyesal yang tinggal. Dia menunduk, menyandarkan keningnya di dinding basah, membiarkan air menyapu air mata yang belum juga berhenti. "Maaf pak," lirihnya. Setelah selesai, Reya mengenakan pakaian yang dia temukan di dalam tasnya. T-shirt tua yang nyaman dan longgar. Dia keluar kamar mandi, dan melihat Barat sudah terbangun, duduk di ranjang sambil memainkan ponselnya. "Pak Barat," suaranya menyapa pelan. Barat menoleh. "Hmm?" "Saya lapar, Boleh saya ke dapur? Mau cari sesuatu buat dimakan." reya meminta ijin, dia tau tak bisa seenaknya di rumah orang lain. Barat mengangguk. "Silakan. Lihat aja ada apa di sana." Reya berjalan perlahan ke dapur, masih dengan langkah kaku. Dia mengecek lemari dan kulkas. Ada beberapa bahan sederhana, ada telur, roti, sosis, sedikit sayuran. Tidak ada nasi. Tapi itu tidak masalah. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi siang. Dia memutuskan membuat roti isi telur dadar, lengkap dengan sosis dan sayuran yang ditumis cepat. Aroma makanan mulai menyebar pelan-pelan di dapur, memberi sedikit suasana berbeda dalam kesunyian malam itu. Dia membuat dua porsi. Satu untuknya, satu untuk Barat. Entah kenapa, meski perasaannya masih campur aduk, dia tetap ingin pria itu makan. Ketika semuanya siap, dia membawa piring ke ruang tengah, tempat Barat sudah duduk sambil menonton berita dengan suara kecil. Melihat Reya datang, pria itu menoleh. "Kok jalannya gitu?" tanya Barat sambil mengerutkan alis. Reya tersenyum tipis, lebih karena terpaksa. "Sakit, Pak." Barat mengangguk. Ekspresinya tak berubah. "Nanti juga terbiasa." Kalimat itu menghantam d**a Reya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Jadi dia hanya duduk pelan di sofa, meletakkan piring di meja, lalu mulai menyantap makanannya. Barat mengambil piringnya. "Enak baunya." "Cuma roti sama telur, Pak." "Tapi kamu buatnya serius." Barat mulai makan. Dia tampak menikmati. Sampai tiba-tiba dia mengatakan sesuatu. "Mulai sekarang, kamu harus minum pil KB." Reya menoleh cepat, terkejut tentu saja. "Saya nggak mau pakai pengaman, dan saya nggak mau kamu hamil." Reya mengangguk pelan, perutnya langsung terasa mual, tapi dia paksakan menelan makanannya. "Saya yang beli nanti. Yang bagus," tambah Barat. Mereka makan dalam diam beberapa saat. Reya ingin cepat selesai dan kembali ke kamar. Mungkin mencoba tidur. Mungkin hanya diam. Tapi sebelum dia bisa berdiri, Reya bertanya lirih, "Saya, nanti boleh ke rumah sakit, Pak?" Barat menghentikan gerakannya. Menoleh padanya. Menatapnya cukup lama sampai Reya merasa menyesal telah bertanya. "Saya masih belum puas," ucapnya akhirnya, tanpa nada, tanpa emosi. "saya masih mau kamu di sini malam ini." Reya menunduk. Tidak bisa menatap balik. Tak ada pilihan lain selain mengangguk. Hening menguasai ruangan. Sejak makan bersama tadi, mereka tidak banyak berbicara. Reya duduk di ujung sofa, memeluk lututnya, sementara Barat berada di meja kerja kecil dekat jendela, menatap layar ponselnya. Notifikasi masuk. Sebuah pesan dari Tania. Tania: Aku di Jakarta nih baru balik dari Bandung. Ketemu untuk makan malam, ya? Barat melirik jam di dinding. Pukul empat lewat sedikit. Masih cukup waktu. Ia mengetik balasan singkat, lalu menatap Reya. Baray mengenakan jam tangannya. "Saya mau pergi sebentar. Makan malam." Reya mengangkat wajah, diam sejenak sebelum bertanya pelan, "Sama siapa, Pak?" "Tania. Tunangan saya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN