LC 11

693 Kata
Perut Reya terasa mual tiba-tiba, meski dia berusaha tetap tenang dia sudah tau dengan jelas. Hanya mengangguk kecil dan menunduk lagi. Ada rasa tak nyaman yang muncul, tapi dia hanya simpan dalam hati. Barat berdiri, mengambil jaketnya dari sandaran kursi. "Kamu jangan ke mana-mana. Waktu saya pulang harus lihat kamu di sini." Reya menarik napas, lalu mengumpulkan keberanian. "Kalau saya mau ke rumah sakit sebentar, boleh?" Barat menghentikan gerakannya. Menatapnya. "Boleh. Tapi pulang sebelum jam delapan malam. Jangan lebih." Reya tersenyum memaksakan diri. "Terima kasih, Pak." Barat mendekat, lalu menunjuk ke arah meja makan. "saya udah pesan makanan. Harusnya datang sebentar lagi. Kamu makan dulu sebelum pergi. Kamu juga bisa bungkus, bawa buat ayah kamu." Reya terdiam menatap Barat. Kemudian lirih, Reya berkata, "Terima kasih, Pak." Barat tidak berkata apa-apa lagi. Ia membuka pintu dan melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang kembali menyelimuti apartemen itu. Suara pintu tertutup pelan, membuat Reya sadar ia sendiri, lagi. Dia duduk, menatap jam. Pikirannya penuh. Tapi satu hal yang pasti, dia harus pulang sebelum jam delapan. *** Barat duduk tegap, mengenakan kemeja hitam yang digulung sedikit di bagian lengan. Jam tangan silver menghiasi pergelangan tangannya, dan penampilannya, seperti biasa tanpa cela, sempurna. Di depannya, Tania duduk anggun dengan gaun satin berwarna navy, rambutnya ditata rapi, dan make up-nya memberi kesan elegan tapi tetap lembut. Mereka sudah menikmati dua hidangan: starter dan main course. Kini giliran wine yang disajikan, meski Barat hanya mencicip sedikit. Ia bukan peminum berat. Tania juga hanya menyeruput perlahan, lebih banyak menatap pria di depannya itu dengan rasa kagum yang ia coba sembunyikan. "Jadi," Tania mulai, memainkan ujung garpu dengan jemarinya. "Hari ini lumayan padat?" Barat mengangguk. "Seperti biasa. Kantor, meeting, dan dokumen yang gak ada habisnya." Tania tersenyum. "Kamu selalu keliatan tenang. Aku kadang mikir, kamu pernah stres gak sih?" Tania mencoba mencari bahan pembicaraan dia suka lama mengobrol dengan Barat. "Pernah. Tapi gak bisa ditunjukin," jawab Barat singkat, dengan nada datar tapi dalam. Jawaban yang khas Barat. Dan justru itu yang membuat Tania makin penasaran. Pria itu seperti teka-teki yang ingin dia pecahkan, lembar demi lembar. Ia mengagumi cara Barat bicara, caranya duduk, bahkan caranya menolak dessert barusan. Dingin, tapi sopan. Setelah beberapa menit membicarakan bisnis telntang proyek baru, vendor yang bermasalah, hingga ide-ide Tania soal event promosi perusahaan kosmetiknyaTania akhirnya membawa obrolan ke arah lain. "Bar," panggil Tania sambil menatap pria itu serius. Barat menoleh. Mata tajamnya menatap langsung ke arah Tania. "Kamu gimana tentang perjodohan kita?" Tania bertanya ragu. Suasana meja mereka seolah mendadak mengerucut. Musik di restoran tetap mengalun, para tamu lain tetap bercengkerama, tapi ruang di antara mereka kini jadi lebih sempit. Lebih pribadi. Barat menyandarkan punggung ke kursi, menyilangkan tangan. "Aku setuju." Sesederhana itu. Tegas. Tak ada keraguan sedikit pun. Tania mengerjap sebentar, lalu tersenyum perlahan. "Aku juga setuju," katanya pelan, seolah menegaskan ulang pilihan yang sudah ia pikirkan matang-matang. "Aku pikir kamu bakal ragu," tambah Tania, sedikit menggoda. Barat mengangkat alis. "Kenapa harus ragu?" "Karena, kamu kelihatan susah didekati," ucap Tania jujur. Barat tersenyum kecil. Senyum yang jarang sekali muncul, dan lebih terasa seperti bias kehangatan dalam pertemuan mereka ini. "Aku gak suka basa-basi. Kalau aku mau sesuatu, ya aku jalanin." Tania tertawa kecil. "Jadi, kenapa kamu setuju?" Barat menatapnya tanpa tergesa. Matanya menelusuri wajah Tania dengan tenang, lalu ia berkata, "Karena kamu cantik. Pintar. Dan aku suka perempuan pintar." Tania terdiam beberapa detik. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Barat, tanpa dibungkus rayuan atau basa-basi. To the point, tapi bukan berarti dingin. Justru dari situlah letak daya tariknya. "Terima kasih," ucapnya akhirnya, senyum tipis mengembang di wajahnya. Ada rona merah muda yang naik ke pipinya. "Aku pikir, aku harus banyak belajar dari kamu," tambah Tania lagi. "Kita belajar sama-sama. Karena kita akan jalanin ini bareng." Kalimat itu membuat d**a Tania berdebar. Ia merasa seperti mendapat jaminan, tanpa janji-janji muluk. Hanya ketegasan dan kejujuran, yang bagi Tania terasa lebih berharga dari manapun bentuk cinta yang romantis sekalipun. Malam itu, mereka tidak membicarakan cinta. Tapi dari cara mereka saling menatap, membagi perhatian, dan saling mendengarkan, ada kesepakatan diam-diam yang terjalin. Kesepakatan dua orang dewasa yang sama-sama tahu tujuan. Dan keduanya berharap, dari sini semuanya bisa mulai tumbuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN