LC 12

588 Kata
Sementara di sisi lain, ruangan rumah sakit itu sepi. Hanya suara detak mesin infus dan langkah perawat sesekali yang terdengar dari lorong. Reya duduk di samping ranjang, menyuapi ayahnya perlahan. Makanan di hadapan Reya masih hangat, dan ia meniupnya sebentar sebelum menyuapkannya lagi ke mulut lelaki tua itu. "Ayo, Pak. Satu suapan lagi," bisiknya pelan, mencoba tersenyum meski matanya sembab. Rajin, ayah Reya, mengangguk kecil. Meski tubuhnya terlihat lemah, ia masih bisa menatap anaknya dengan hangat. "Enak, kamu yang masak, ya?" tanyanya pelan. Reya tertawa singkat. "Enggak, Pak. Ini dari atasan aku aku bawa buat bapak. Tapi kalau nanti udah sembuh, aku masakin. Mau makan apa?" Rajin tersenyum lalu mengangguk. "Apa aja, yang penting kamu temenin bapak makan. Bapak seneng atasan kamu baik." "Iya pak, baik," sahut reya miris. Percakapan kecil itu membuat d**a Reya berdegup bahagia, tapi sekaligus sesak. Ia tahu, senyum ayahnya yang penuh rasa percaya itu hanya akan membuat luka di hatinya makin dalam. Dia ingin ayahnya terus percaya, tapi dirinya sendiri merasa tidak layak dipercaya. Usai makan, Reya membantu mengganti pakaian ayahnya dengan kemeja tidur bersih. Tangannya cekatan, penuh kasih. Sesekali ia menyeka keringat di dahi ayahnya dengan handuk kecil. "Bajunya bagus," puji pria itu menatap piyama baru yang dibelikan reya. "Bapak suka?" "Suka sekali, terima kasih Nak." "Pak." ucap Reya pelan, setelah semua rapi. Sang ayah menoleh, "Hmm?" "Aku... aku harus pergi lagi, Pak. Tugas kuliah. Kebetulan lagi banyak karena semester akhir. Jadi harus ngerjain bareng temen-temen." Sang ayah mengangguk pelan. "Iya, gak apa-apa, Reya. Bapak ngerti. Kamu fokus aja sama kuliah kamu. Yang penting kamu jaga diri baik-baik di sana, ya." Reya menunduk. "Iya, Pak." reya menjawab pelan, nyaris tak terdengar. Ia menggenggam tangan ayahnya erat. Hangat. Tapi seperti menyalurkan rasa bersalah yang dalam. Pria senja itu membalas genggaman putri satu-satunya itu. "Bapak percaya sama kamu. Kamu anak yang baik." Air mata Reya nyaris jatuh. Ia cepat-cepat membalikkan wajah, pura-pura merapikan tas kecilnya. "Kalau ada apa-apa, langsung kabarin aku ya, Pak. Aku titip ke perawat juga," katanya cepat, berusaha mengendalikan suaranya yang mulai bergetar. "Iya, nak. Hati-hati di jalan." Reya mengecup kening ayahnya perlahan sebelum melangkah keluar dari kamar. Begitu pintu tertutup, ia berjalan cepat ke ujung lorong, lalu berhenti di dekat tangga darurat. Di sana, ia bersandar ke dinding dingin, lalu membiarkan air mata itu jatuh begitu saja. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu mengambil napas dalam-dalam. Sudah sore. Matahari sudah condong ke barat. Ia tahu, ia harus kembali. Harus pulang. Ke apartemen itu. "Maaf ya pak," lirihnya. Langit sudah mulai gelap ketika Reya sampai di gedung apartemen. Ia menarik napas panjang sebelum membuka pintu unit tempatnya tinggal bersama Barat untuk sementara ini. Suasana masih sepi. Barat belum pulang. Ia melepas sepatu, menaruh tasnya, lalu duduk di sofa ruang tengah. Pandangannya kosong, tapi tubuhnya lelah. Kepalanya menyender ke sandaran sofa. Ia membiarkan tubuhnya tenggelam sejenak, mencoba menenangkan diri. Entah sejak kapan, air matanya jatuh lagi. Diam-diam. Sunyi. "Reya." gumamnya pada diri sendiri, nyaris seperti bisikan. "Lo harus kuat. Ini semua demi kelulusan. Demi Bapak. Demi hidup lo nanti." Reya bangkit perlahan, menuju dapur, membuka kulkas cek kalau-kalau ada makanan atau minuman hangat yang bisa menghibur perutnya. Barat membeli makanan enak,.Tapi semuanya terasa hambar. Bahkan minuman teh manis dingin pun terasa getir di lidahnya. Ia lalu kembali ke sofa, menunggu. Menunggu sosok itu pulang. Sosok yang entah bagaimana telah menggenggam terlalu banyak bagian dalam hidupnya sekarang. Ia masih menunggu. Dengan tubuh lelah. Dengan hati yang perih. Tapi dengan tekad yang tetap menyala, sekecil apapun itu. "Harus kuat demi bapak,* gumamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN