LC 13

860 Kata
Barat datang masuk ke dalam apartemen , mendnegar suara televisi di ruang tengah mengisi keheningan apartemen. Suara langkah kaki dan bunyi pintu otomatis membuat Reya menoleh pelan dari posisi duduknya. Gadis itu sedang bersandar di sofa, lututnya tertekuk ke d**a, dan matanya sekilas menatap tayangan komedi yang tak benar-benar ia perhatikan. Sejak tadi, pikirannya jauh ke mana-mana. Barat masuk dengan langkah perlahan. Jas kerjanya masih rapi membungkus tubuh, wajahnya seperti biasa dingin, tenang, dan itu memang khasnya. "Selamat malam Pak," sapa Reya lirih. Barat menoleh sambil melepas jasnya dan menggantungnya di gantungan dekat pintu. "Udah makan?" Reya mengangguk pelan. "udah tadi makan makanan yang bapak beliin." Barat mengangguk, lalu berjalan ke sofa dan duduk di sampingnya. Wangi tubuhnya langsung memenuhi ruang di antara mereka, aroma maskulin khas yang mulai dikenali Reya. Sejenak, tidak ada kata-kata. Barat mengusap pelan rambutnya ke belakang, lalu mencondongkan tubuh, menatap layar televisi yang masih menyala. "Kamu kelihatan capek," katanya pelan, tanpa menoleh. Reya mengangguk lagi. "Tadi jagain Bapak. Terus bantu bersihin badannya juga." Suaranya pelan seolah tanpa tenaga. "Tapi saya senang bisa lihat beliau masih bisa senyum. Apalagi pas makan makanan yang dibeliin Pak Barat, enak benget kata bapak. Makasih ya Pak." Barat mengangguk menoleh, tatapan matanya kali ini sedikit lebih lembut. Mendengar reya bercerita cukup menyentuh perasaan. "Dia sehat, ayah kami sehat kan?" Reya mengangguk. "Lumayan Pak, tapi asih lemah, bagusnya sudah mau makan." Mereka diam lagi, tapi bukan keheningan yang dingin lebih seperti jeda untuk mencerna perasaan yang sulit dijelaskan. Dan jelas keduanya bingung mau membicarakan apa. Barat mengulurkan tangan, mengusap pelan punggung Reya. "Saya senang kamu nurut sama saya kayak gini." Reya hanya menatap ke depan, tidak menjawab. Hatinya tetap terasa kosong, tapi ia belajar untuk tak membiarkan air mata menetes dengan mudah. Ia harus kuat. Harus karena ia punya harapan untuk itu. Barat bersandar, lalu menatap Reya dari samping. "Rey, saya enggak suka pembohong. Kamu harus inget saya gak suka kalau kamu bohong." Reya menoleh pelan, ia tak mengerti maksudnya. "saya enggak pernah bohong Pak." "Saya tahu." Barat menjawab singkat. Ini hanya peringatan untuk areya. Barat menatap wajah Reya dalam-dalam, lalu menghela napas panjang. Tangannya menyentuh ujung jari gadis itu. "Kamu tahu, Reya—" ucapnya datar, "semakin kamu diam, semakin saya mau tahu apa yang kamu simpan. Dalam pikiran kamu itu." Suaranya rendah, seperti sebuah perintah. Reya tersenyum singkat, tak mengerti juga kenapa Barat seperti ini. "Gak ada yang saya simpan pak, semua sudah saya kasih tau ke bapak." "Benar?" Barat mengetes, lagi. Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang masih mengganjal di antara keduanya, sama-sama bingung. Barat merasa ada hal disembunyikan Reya. Dia terus menatap, berharap dapat jawaban. Reya akhirnya menjawab, "Saya cuma capek, Pak." Barat mengangguk sekali. Ia menarik napas, lalu meraih remote dan mengecilkan volume televisi. Tangannya masih menggenggam jari Reya. Memainkan jemari itu dengan lembut. Lalu mengecupnya perlahan. "Kalau kamu capek, saya bisa bantu kamu ngerasa lebih baik." Reya menunduk, matanya menatap jemari mereka yang bersentuhan. "Dengan cara Pak Barat?" Barat tidak menjawab, papi senyum tipis yang terlihat di sudut bibirnya adalah jawabannya sendiri. Reya menutup mata sejenak. Napasnya perlahan, semakin berat. Saat kecupan dari bibir Barat itu dengan cepat berubah semakin buas. Udara di sekita reya seolah menghilang, dia butuh bernapas. Reya sedikit mendorong tubuh Barat, mereka saling tatap dengan terengah-engah. Barat tak bisa berhenti, tangannya menyentuh lembut wajah Reya. Lalu kembali mengecup, mengigit lembut bibir Reya. "Eggh!" Reya melenguh. Reya terkejut saat tangan Barat dengan cepat menyentuh tubuh Reya, mengusap perlahan seolah memberikan kasih sayang. Terhenti di tempat sensitif bagian yang ia sukai, ia genggam lalu meremas dan pilin dari luar pakaian. "Mmphh, Pak" desah Reya tertahan. "Panggil nama saya Rey." "Pak Barat," desah Reya sambil rasakan sensasi menekan Barat agar semakin dalam dalam pelukan. Barat terhenti lalu membuka semua yang melekat tak sampai satu menit semua lolos dan lepas dari tubuh. Barat ingin bermain cepat. Rasanya tak tahan, kegiatan bersama reya seperti candu baginya. "Oh!" dalam satu gerakan Barat membuat Reya bergerak tersentak. Tangannya mencengkram tubuh Barat, rasanya sedikit sakit karena belum benar-benar siap. Barat seolah tak peduli, dia bergerak ikuti naluri nya sendiri. Memegang tubuh reya agar tetap dalam kendali, kulit putih itu terlihat semakin membutakan, bagian merah muda di pusat membuat tangannya dengan nakal memainkan dengan ibu jarinya, senagaja buat reya semakin desahkan namanya. "Oh Pak Barat," lirih Reya. Rasa perih tadi kini telah berganti, nikmat, nyaman, dan ingin segera diselesaikan. "s**t! Panggil nama saya lagi," kata Barat meminta sambil pejamkan mata rasakan sensasi menggelitik yang semakin kuat, rasa nikmat dan nyaman yang harus segera ia selesaikan. "Pak, pak Barat." Reya tak tahan tubuhnya seolah ingin meledak, meluapkan semua rasa yang sejak tadi dilabuhkan Barat. Tubuhnya bergerak tak keruan, sedikit tersentak sentak karena Barat yang juga ingin menyelesaikan. "Rey, hhmmpph s**t!" Barat merancau tak keruan, seolah genderang perang ditabuh semakin kencang. Napasnya memburu seperti semua udara di paru-paru perlahan menghilang. Barat tuntas, Reya pun telah rebah sambil terengah-engah. Barat mencium bibir Reya, lalu mengusapnya perlahan. Reya memejamkan mata, tiap kali Barat Melakukan itu seolah Barat menyayanginya. Barat mengecup lagi bibir Reya. "Kamu bikin saya gila reya," kata barat entah pujian atau apa. Ia hanya ungkapkan saja. Mereka bermain singkat melepaskan hasrat sesaat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN