Malam semakin larut saat keduanya pindah ke tempat tidur. Lampu ruang tengah sudah diredupkan. Reya duduk di ujung tempat tidur, rambutnya terurai. Ia belum mengganti bajunya sejak dari rumah sakit. Tangan kirinya menopang tubuh, masih terlihat berantakan setelah permainan singkat tadi.
Pintu kamar terbuka perlahan. Langkah Barat terdengar pelan mendekat, kemudian berhenti di ambang pintu. Ia memandangi Reya sebentar sebelum berkata, "Kamu belum mandi."
Reya menoleh, "Iya, sebentar ya pak.'
Barat melangkah masuk, melepas jam tangan dan meletakkannya di meja samping tempat tidur. "Saya gak suka kamu tidur dalam keadaan kayak gini. Setelah kita main kamu harus mandi dulu," ujarnya tegas.
Reya mengangguk, lalu berdiri tanpa berkata-kata dan masuk ke kamar mandi. Ia tahu, pria itu bukan sedang menyuruh. Tapi mengingatkan dengan cara yang tak bisa ditolak.
Air hangat menyentuh kulitnya, membawa sedikit rasa tenang, meski tidak sepenuhnya. Saat Reya keluar dengan pakaian tidur longgar dan rambut yang masih basah, Barat sudah duduk di sisi tempat tidur, bersandar ke sandaran kepala, membaca sesuatu di ponselnya.
Barat menoleh sekilas saat Reya keluar. "Sini."
Reya mendekat perlahan dan duduk di sisi tempat tidur. Tangannya menyibak rambutnya ke samping, menunduk, menunggu perintah atau mungkin, hanya kehadiran yang tenang dari seseorang yang mendominasi hidupnya kini.
"Saya suka kalau kamu habis mandi gini pasti harum." Barat meletakkan ponselnya, lalu menarik Reya pelan ke pelukannya. Reya hanya diam.
Pelukan Barat tidak erat, tapi juga tidak membiarkan Reya kabur. Hanya cukup untuk membuat gadis itu merasan ada tempat untuk sekedar bersandar. Meski rasa sakit tetap terasa di dalam dadanya.
"Pak." panggil Reya pelam.
"Hm?"
"Saya masih bisa kuliah, kan?"
Barat mengangguk di atas rambutnya. "Selama kamu patuh. Saya akan pastikan kamu kuliah sampai lulus."
Reya mengangguk menggenggam kain piyamanya sendiri. "Saya takut suatu hari, menyesal."
"Saya juga."
Jawaban itu membuat Reya menoleh sedikit. "Kenapa?"
Barat menarik napas pelan, sementara bibirnya mengecup leher Reya. "Saya takut nyesel karena, sudah terlalu banyak melibatkan kamu dalam hidup saya."
Reya menunduk. Ia tidak tahu harus senang atau semakin takut. Karena yang melibatkan belum tentu akan mempertahankan.
Tapi malam itu, Reya hanya bisa diam di dalam pelukan itu. Menahan semua yang tidak bisa diucapkan, semua yang tidak bisa dibagi. Hanya d**a pria itu yang terasa hangat di pipinya, dan suara detak jantung yang perlahan-lahan membuatnya terlelap.
Barat menatap lalu mengecup pucuk kepala Reya, tangannya bergerak lembut mengusap punggung Reya. "Tidur, kamu pasti capek."
Bagaimana Reya tak jatuh cinta dengan semua perlakuan dan d******i Barat? Sementara dia sadar kalau ia tak lebih dari perempuan bayaran. Reya sadar posisi, hanya saja ia juga mengerti kalau dirinya tak ada artinya bagi Barat. Hanya teman bersenang senang, tapi setiap malam seperti ini, Reya coba menepis semua. Ia ingin membuat perasaannya nyaman. Meski hanya dalam angan.
***
pagi ini Barat sudah berada di rumahnya menikmati sarapan dengan sang ibu.
"Mami tuh gak bisa kalau gak arisan. Ada aja cerita lucu ibu-ibu itu."
"Cerita lucu apa mi?" Barat bertanya dengan nada tidak antusias. Bukan berati tidak tertarik, tapi memang begitu caranya bicara.
Siang ini Barat berada di rumah sang ibu. Suasana rumah terasa tenang, lebih tepatnya sepi. Di ruang tamu, Karina, ibu Barat, duduk santai sambil menyeruput teh hangat. Ia tampak bersemangat bercerita tentang kegiatan arisan terakhirnya. Mengenakan daster berbunga dan rambut yang disanggul rapi, Karina bercerita penuh ekspresi, tangannya sesekali bergerak mengikuti alur cerita.
“Masih banyak temen mami yang ngelakuin hal primitif, kamu tahu nggak, Tante Miya itu ternyata simpan uang di celengan dari patung tanah liat nesat. Kebayang nggak? Mami baru tahu pas dia cerita kemarin. Katanya suaminya kalau kasih uang cash, jadi dia males buat ke bank.” ujarnya sambil tertawa kecil.
Barat duduk di sampingnya, mendengarkan dengan wajah datar. Satu kakinya disilangkan, dan tangannya memainkan ponsel. Meski tampak tak begitu tertarik, ia tetap mencoba mengangguk atau tersenyum tipis sesekali.
“Hmm… iya, Mi, gak apalah yang penting banyak uang,” gumamnya pelan, sekadar merespon.
Karina melirik putranya lalu mencibir manja. “Kamu tuh ya, dari dulu paling susah kalau dengerin cerita mami, reaksi kamu nyebelin. Tapi ya sudahlah. Yang penting kamu pulang.”
Barat tak menjawab. Ponselnya bergetar. Nama Satrio tertera di layar. Pasti penting, apalagi Barat memang sedang menugaskan Satrio.
“Sebentar ya, mi. Ini Satrio telepon Barat,” ucapnya sopan sebelum bangkit dan berjalan ke arah ruang kerja. Suaranya terdengar pelan saat menjawab, “Ya, Sat, kenapa?”
Satrio di seberang sana melaporkan tentang progres pembangunan gudang logistik baru di Singapura. “Progres di lapangan sesuai timeline, Pak. Cuma ada kendala cuaca beberapa hari terakhir, jadi mungkin shipment barang kita akan tertunda satu-dua hari.”
Barat mendengarkan sambil duduk di kursi kerja. Tangan kirinya memijit pelipis, kelelahan mulai terasa. “Pastikan tidak ada biaya tambahan. Koordinasi sama bagian finance untuk evaluasi proyek tiap minggu. Kalau bisa, kamu ke sana minggu depan.”
“Siap, Pak.” Satrio menjawab cepat.
“Terima kasih, Sat.” Telepon segera dimatikan oleh Barat.