Barat menyandarkan tubuhnya. Meja kerja itu kini kosong dari berkas, hanya ada laptop yang dibiarkan dalam keadaan sleep dan secangkir kopi yang sudah dingin. Ia menatap layar ponsel sesaat, kemudian membuka galeri. Sejak ada Reya barat lebih suka berada di apartemen. Tak perlu ditanya apa yang dilakukannya, tentu saja dia menikmati Reya.
Beberapa video pendek tersimpan di sana. Rekaman diam-diam saat Reya berada di atas atau di bawah tubuhnya, reya yang tertidur di ranjang dengan rambutnya acak-acakan, bibirnya sedikit terbuka. Ada juga potongan video ketika Reya berjalan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk kecil di tubuh.
Wajah Barat berubah seiring sesuatu yang tak bisa ia tahan. Hasratnya naik dengan cepat, tapi juga disusul rasa bersalah yang sama besar. Ia tahu, ini sudah jauh melampaui batas. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan, lalu satu per satu menghapus file itu dari ponsel. Tak ada yang boleh tahu.
"Lebih baik di hapus." Barat katakan pada dirinya sendiri.
Barat menarik napas panjang. Matanya memejam. Tania tidak akan ia sentuh sebelum mereka sah dan Reya kini sedang kuliah. Tapi tubuhnya tetap bergejolak. Seolah sejak bersama Reya, dorongan itu semakin liar. Dulu, ia memang hasratnya selalu menggebu begini. Namun bersama Reya, semua terasa semakin meledak-ledak. Nyaris setiap hari. Nyaris tanpa jeda. Dan semakin ia melakukannya, semakin tubuhnya menuntut lebih.
“Gila,” gumamnya pelan. “Kemapa jadi kepikiran terus gini?”
Pria itu lalu bangkit dari kursi, melangkah keluar dari ruang kerja. Di ruang keluarga, Karina masih duduk sambil mengganti saluran televisi.
"Udah telepon satrio nya?"
Barat duduk di sebelah ibunya, mencoba menenangkan diri. Bahkan tak menjawab pertanyaan Karina. Semua karena pikirannya masih berantakan. Wajah Reya terlintas terus-menerus di benaknya. Aroma tubuhnya, cara Reya merintih, bahkan ekspresi ketakutannya. Ia mencoba menghapus semua bayangan itu, tapi gagal.
“Kenapa kamu bengong begitu, Nak? Barat?!” tanya Karina tanpa menoleh dari layar TV.
Barat tersentak. Ia tersenyum kecil, berusaha menutupi keresahannya. “hah? E-eggak apa-apa, Mi. Cuma capek aja, mungkin.”
Karina memandangnya beberapa detik, lalu berkata, “Kamu belum cerita lagi soal Tania. Gimana hubungan kalian? Udah makin yakin kan?”
Barat mengangguk pelan. “Baik, Mi. Tania perhatian, pintar juga. Dia juga dekat sama keluarganya.”
Karina tersenyum puas. “Mami suka sama dia. Kamu jangan main-main lagi ya. Kamu udah umur segini, jangan nyakitin hati perempuan. Kasihan.”
Ucapan itu membuat d**a Barat sedikit sakit. Ia menunduk, seolah mengangguk pada nasihat sang ibu. Tapi dalam benaknya, ia sadar: ia sedang menyakiti dua hati. Tania dan Reya.
“Iya enggak akan lah Mi,” jawabnya pelan.
Karina bangkit berdiri. “Mami mau mandi dulu, kamu jangan kerja lagi malam-malam. Istirahat.”
Barat mengangguk. Setelah ibunya masuk ke kamar, ia menatap layar TV yang masih menyala tapi tak ia pedulikan. Pikirannya kembali pada apartemen Reya. Yang jadi tempat penuh desahan dan kelembutan yang membuatnya ketagihan. Tangannya mengepal. Ia tahu ia harus berhenti, tapi tubuhnya menolak. Hatinya gamang. Antara melindungi Tania, dan terus tenggelam dalam ketergantungan terhadap Reya.
"Sial! Mikirin apa sih?"
***
Reya duduk bersandar di lantai ruang tengah, punggungnya menempel pada kaki sofa. Di depannya, laptop masih menyala dengan tampilan halaman kosong yang menunggu diisi. Kertas-kertas catatan tersebar di meja kecil dan beberapa menumpuk di pangkuannya. Matanya yang berat memaksa untuk terus terbuka, namun tubuhnya sudah memberi sinyal kelelahan.
"Enggak selesai juga," keluh gadis itu kesal
Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, Reya membagi waktunya antara merawat ayahnya yang sedang sakit, menyelesaikan pekerjaan freelance, dan mengerjakan tugas akhir kuliahnya. Ia bahkan sempat meluangkan waktu membuat brownies kesukaan Barat-tidak terlalu manis, padat, dan lembap seperti yang pria itu suka. Ia menyusunnya di piring kaca, lalu menaruhnya di meja dapur dengan catatan kecil yang ditulis terburu-buru: "Untuk kamu. Jangan bilang gak suka, ya."
Namun, hingga malam merangkak menuju dini hari, pintu apartemen belum juga terbuka.
Reya sempat menoleh ke jam dinding saat angka menunjukkan pukul lima sore. Dia menggeliat sedikit, berusaha meluruskan kaki yang terasa pegal. Beberapa kali ponselnya menyala, tapi bukan pesan dari Barat. Hanya notifikasi biasa yang tidak penting. Reya menatap layar sebentar, lalu menghela napas dan meletakkannya kembali ke atas bantal kecil di samping.
"Gak mungkin aku ganggu dia," gumamnya. "Pasti lagi sibuk, atau sama Tania," gumam Reya terdengar getir, tapi dia mencoba menekannya.
Reya harus memahami adalah satu hal, ia arus bertahan menelan rasa kecewa adalah hal yang mutlak. Dia tahu sejak awal, hubungan mereka tidak memiliki kepastian. Tapi tetap saja, saat seseorang menaruh hati, meski hanya sedikit, a tak bisa berpura-pura tak jatuh hati.
Dan akhirnya, tubuhnya menyerah. Reya tertidur dalam posisi setengah duduk, laptop masih menyala redup di meja dan lampu ruang tengah belum dimatikan.
Pintu apartemen terbuka perlahan. Barat masuk sambil menurunkan jaket dari bahunya. Kakinya melangkah pelan, tidak ingin mengganggu siapa pun kalau Reya sudah tidur. Tapi langkahnya terhenti begitu melihatnya.
Reya tertidur di lantai, dengan kepala menyender di ujung sofa. Napasnya tenang, namun wajahnya terlihat sangat lelah. Rambutnya berantakan, ada pulpen terselip di sela jari, dan lembar tugas tersebar di sekitarnya. Mata Barat menangkap sesuatu di meja, skripsi? Presentasi? Entahlah, tapi kelihatan sulit.
"Ya ampun, Reya," bisik Barat pelan, seperti gumaman ke diri sendiri.
Barat berjongkok, lalu perlahan mengambil selimut dari sandaran sofa. Ia menyelimuti tubuh Reya hati-hati, memastikan kakinya tidak kedinginan, lalu dengan lembut merapikan rambut yang berantakan. Dia tidak membangunkannya. Hanya menatap sejenak, ada rasa bersalah yang perlahan muncul dalam dadanya.