LC 15

760 Kata
Tadi siang Barat memang berniat pulang cepat, tapi Tania mengajaknya makan malam dan berdiskusi soal investasi baru. Dan tanpa sadar, waktu habis begitu saja. Barat lalu berdiri dan melangkah ke dapur. Saat membuka tudung piring, aroma cokelat langsung menyergap hidungnya. Sebuah piring berisi potongan brownies tersusun rapi, dan secarik kertas kecil berada di sampingnya. Ia membacanya dalam diam, lalu tersenyum kecil. "Masih sempat masak kue," gumam Barat pelan. Barat mengambil sepotong, menggigitnya pelan. Lembut, sedikit pahit, dan rasa cokelatnya pekat. Tidak terlalu manis, persis seperti yang dia suka. Ia mengunyah perlahan, mencoba meresapi rasa yang menghangatkan lidah dan entah kenapa perasaannya ikut menghangat. Barat berjalan ke mesin kopi, membuat satu cangkir hitam tanpa gula. Lalu duduk sendirian di meja makan, menikmati kue buatan tangan Reya sambil menyesap kopi panas. Diam-diam, ia tersenyum tipis, lalu menatap langit-langit seolah mencari bayangan masa lalu. "Enak juga," pujinya. Pujian yang hampis setiap kali ia berikan saat reya memasak sesuatu. Dulu, mendiang ayahnya juga suka membuat kue. Setiap akhir pekan, dapur keluarga berubah jadi 'lab eksperimen' penuh tepung, mentega, dan cokelat. Rasa brownies buatan Reya tadi mengingatkannya pada hari-hari itu. Ia nyaris lupa betapa sederhana rasa bahagia itu. "Mungkin karena itu, rasanya familiar," gumam Barat pelan, seolah menjawab pikirannya sendiri. Barat menoleh ke ruang tengah. Reya masih tertidur dengan tenang di bawah selimut. Pemandangan itu menamparnya pelan. Seorang perempuan, yang tanpa suara telah menyediakan ruang nyaman di sela-sela hidupnya yang rumit. Tanpa meminta apa pun, tanpa mengeluh. "Maaf," ucap Barat, lirih. Entah ditujukan ke siapa, ke Reya, ke dirinya sendiri, atau mungkin ke waktu yang dia buang sia-sia malam ini. Baray menghabiskan potongan terakhir brownies, lalu membawa cangkir kosong ke wastafel. Dingin dini hari mulai terasa menusuk, namun suasana dalam apartemen itu justru hangat, dari sesuatu yang tak bisa dijelaskan atau sesuatu yang coba dia tolak? Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Barat merasa sesuatu yang membuatnya tersenyum. *** Pagi tiba perlahan Reya membuka mata, menyesuaikan pandangan sebelum mengerjapkan mata beberapa kali. Tubuhnya terasa sedikit pegal, tapi yang lebih membuatnya tersentuh adalah selimut hangat yang kini menyelubungi bahunya. Reya duduk perlahan, merapikan rambutnya yang kusut sambil menoleh ke arah sofa. Di sana, sosok Barat tertidur dengan tangan menyilang di d**a dan ekspresi tenang di wajahnya. Reya tersenyum menatap cukup kama. Diam-diam, ia menyadari bahwa pria itu pulang, dan meski tak bicara sepatah kata pun, keberadaannya cukup membuat pagi ini terasa berbeda. "Pulang jam berapa?" reya bergumam bertanya pada dirinya sendiri. Dengan langkah pelan, Reya berdiri dan menarik selimut dari tubuhnya sendiri, lalu memindahkannya perlahan ke tubuh Barat. Ia menyelimutinya dengan hati-hati, memastikan pria itu tetap hangat, sebelum tersenyum kecil dan melangkah menuju dapur. Matanya langsung menangkap piring kosong tempat brownies semalam. Senyumnya mengembang. "Dimakan," bisiknya. Reya merasa senang yang sulit dijelaskan, seperti lelah yang langsung dibayar lunas dengan satu pemandangan sederhana itu. Ia membuka kulkas, mengambil bahan-bahan, dan mulai menyiapkan sarapan. Wajan di atas kompor mulai berisi potongan bawang putih yang digoreng hingga harum, diikuti nasi putih yang dimasukkan perlahan. Telur dikocok ringan, ditambah irisan sosis dan sedikit sayuran. Reya sesekali mencicipi, memastikan rasanya pas seperti yang biasa diminta Barat, tidak terlalu asin, tidak terlalu pedas. Langkah kaki terdengar dari belakang. Reya menoleh sebentar, lalu kembali pada nasi goreng yang hampir matang. "Pagi Reya," suara itu terdengar serak tapi berat, baru bangun tidur. Reya hanya melirik lalu tersenyum kecil. "Pagi juga, Pak Barat." Barat berdiri tak jauh dari sana, menatap punggung Reya yang sibuk dengan masakan. Ia mengenakan kaus putih yang sedikit longgar dan celana santai. Rambutnya masih acak-acakan, tapi ada ketenangan di wajahnya yang sulit disembunyikan. "Saya udah bangunin bapak, ya?" tanya Reya sambil tetap mengaduk nasi. "Enggak," jawab Barat. "Tapi kayaknya saya yang kebangun karena aroma nasi goreng kamu." Reya terkekeh pelan. "Sebentar lagi matang, kamu bisa makan dulu sebelum kerja." Barat melangkah mendekat, menaruh tangannya di pinggul Reya, menyandarkan dagunya sebentar di pundaknya. "Pak Barat." suara Reya sedikit terbata. "Bapak belum mandi, kan? Sarapan dulu ya pak, terus siap-siap kerja. Saya juga mau lanjut tugas nanti." Barat menggumam pelan, namun tetap tak melepas posisi dekat itu. "Hari ini saya butuh kamu dulu, Rey." Reya menelan ludah pelan, jantungnya berdetak tak karuan, dia tau arah pembicaraan Barat. "Tapi, ini nasi goreng bentar lagi matang," katanya sedikit memaksa. Barat memutar tubuh Reya pelan agar menghadap padanya. Tatapan mereka bertemu. Tak ada kata-kata tambahan, namun suasana pagi itu berubah perlahan. Tatapan mata barat mengintimidasi. Reya menghela napas, menatap mata pria di depannya yang begitu dekat. "Cuma sebentar, ya," bisik Reya hampir tak terdengar. Barat tersenyum lalu mengangguk, ia meraih Reya. Tangannya bergerak menggoda. "Oh pak!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN