LC 16

747 Kata
Reya menatap langit-langit kamar. Dadanya naik-turun pelan, belum sepenuhnya pulih dari apa yang baru saja mereka lewati. Dan entah mengapa, setiap kali seperti itu, selalu ada rasa hangat yang tinggal lebih lama dari sekadar sentuhan fisik. Ia menoleh pada Barat yang sudah bangun dan sedsng memainkan ponselnya. "Udah bangun?" tanya Barat sambil tersenyum. Barat selalu seperti ini setiap kali mereka selesai berhubungan. Manis dan hangat, perhatian yang biasanya cuek diberikan dengan senyuman. Reya mengangguk. "Saya mandi dulu ya pak, nanti saya buat sarapan." Barat mengangguk lalu kembali dengan aktivitas di tangannya. Sementara reya bangkit dan segera membersihkannya dirinya. Selesai mandi reya berjalan ke dapur, sementara Barat mandi. Mereka berpapasan di depan pintu kamar mandi sebelum Reya ke dapur. Barat melingkarkan tangannya ke pinggul Reya. Mencium cerik leher gadis itu. "Harum banget sih." Reya melepas tangan Barat pelan. "Mandi dulu ya Pak. Saya buat sarapan." Barat mengangguk, mencium pipi Reya sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi. Selama Barat manidi, reya memasak. Aroma nasi goreng tercium. Setelah barat selesai mandi, nasi goreng tersaji, aromannya tercium dari piring saat mereka duduk bersebelahan di meja makan. Rambut Reya masih sedikit basah, begitu pula dengan ujung baju tidur yang baru saja ia ganti. Pagi itu terasa tenang karena mereka berdua telah terbiasa "Enak, masakan kamu selalu enak." Barat memuji. "Makasih Pak." Barat menyuap makanannya dengan perlahan. Pandangannya jatuh pada Reya yang duduk di sebelahnya, menunduk memerhatikan piringnya sendiri, sesekali mencolekkan sendok ke nasi tanpa benar-benar makan. "Kamu capek?" tanya Barat kemduian, menatap Reya lekat-lekat. Reya mengangkat wajah, tersenyum tipis. "Sedikit," jawabnya jujur. "Kayaknya karena begadang juga sih, tugas akhir mulai berat." Barat mengangguk pelan, lalu meletakkan sendoknya. "Kamu bisa ambil cuti dulu, kalau mau." Reya menoleh. "Cuti kerja maksudnya?" "Iya," jawab Barat santai. "Fokus ke skripsi dulu. Paling sebulan dua bulan, kan?" "Mungkin sekitar segitu, iya," ucap Reya pelan, seolah baru menyadari dirinya benar-benar butuh istirahat. Barat mengangguk, matanya tetap mengawasi Reya. "Supaya kamu nggak terlalu capek. Apalagi kalau sampai nggak bisa ada buat saya." Nada suara itu membuat Reya menunduk, entah apa yang ia rasakan. Tapi ia tahu maksudnya. Hubungan mereka mungkin dibalut kontrak, tapi kedekatan yang mereka jalani selama ini tak bisa disebut sekadar formalitas kan? Reya menatap Barat, ragu sejenak. "Boleh, Pak, ambil cuti?" "Boleh," jawab Barat. "Asal kamu ada di sini. Ada waktu saat saya butuh." Reya mengangguk cepat, senyumnya lebih lebar sekarang. Seperti beban di pundaknya sedikit terangkat. Ia menyendok nasi, lalu mulai makan dengan lebih tenang. Tapi baru beberapa suapan, perutnya tiba-tiba terasa aneh. Gelombang mual menghantamnya seperti arus tiba-tiba. Tanpa berkata apa pun, Reya buru-buru berdiri dan berlari ke kamar mandi. Suara pintu yang tertutup cepat membuat Barat terkejut. Ia berdiri refleks, menyusul sampai di depan kamar mandi. "Rey?" panggilnya cemas. "Kamu kenapa?" Tak ada jawaban. Hanya suara air dan Reya yang sepertinya memuntahkan isi perutnya. Sekitar dua menit kemudian, Reya membuka pintu perlahan. Wajahnya pucat. "Saya nggak tahu kenapa tiba-tiba mual," ucapnya pelan. Barat memegang lengan Reya, membantunya duduk di sofa. Barat jelas lebih waspada. "Kamu... kapan terakhir haid?" Pertanyaan itu mengunci gerakan Reya. Ia menatap Barat dengan wajah cemas dan takut. "Harusnya— minggu lalu. Tapi ini belum datang." Barat berdiri, menuju kamar. Tak lama kemudian ia kembali dengan sebuah kotak kecil di tangannya. Reya menatap benda itu. Ia tahu itu apa. Dan yang membuat hatinya sesak, ia merasa ini bukan pertama kalinya pria itu siap dengan kemungkinan seperti ini. "Kamu simpan itu?" tanyanya pelan. Barat tidak menjawab. "Coba, ya." Reya menatap kotak itu lama. Napasnya berat, tangan sedikit gemetar saat akhirnya ia masuk ke kamar mandi kembali. Lima menit kemudian, ia keluar. Tangannya memegang alat kecil itu, pandangannya kosong. Dua garis. Barat menatap hasilnya. Matanya terdiam pada tanda di sana, dan meski bibirnya tidak bergerak, ada kepanikan kecil di balik wajah tenangnya. "Kamu tau ini enggak boleh kan? Kamu minum obat yang saya kasih kan?" Reya mengangguk perlahan, menaruh alat itu di meja. "Saya juga nggak mau, Pak. Saya masih harus kuliah, dan gimana bapak saya?" Barat menghela napas panjang. Ia duduk, lalu menunduk, menutup wajah dengan kedua tangan. "Saya enggak bisa," lirih Barat. Hening beberapa detik. Reya menggigit bibir bawahnya. Ia sudah tahu kemungkinannya, sejak beberapa minggu lalu tubuhnya mulai terasa beda. Tapi tetap saja, saat hasil itu benar-benar muncul, perasaannya seperti jatuh dari tempat tinggi. Barat akhirnya menoleh ke Reya. "Kamu tahu, kan solusinya?" Reya menatap pria itu. Ada rasa pedih yang menyelinap di d**a. "Iya tahu," jawabnya pelan. Tapi matanya tetap menatap mata Barat—dengan keraguan, dan ketakutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN