Suasana rumah sakit pagi itu tak berbeda dari hari-hari sebelumnya sunyi. Hari itu ramai dan langkah kaki para perawat yang terburu-buru. Reya berdiri di sisi ranjang, menggenggam tangan ayahnya yang kurus dan dingin. Selang infus menancap di lengan kanan pria paruh baya itu, sementara suara alat monitor detak jantung berdetak pelan, stabil namun seolah kehilangan semangat. beberapa hari ini ayahnya tak sadarkan diri. Dan itu menghantam Reya dalam diam. Tak ada suara, tak ada tangis. Hanya perasaan seperti retakan halus yang makin melebar setiap kali ia menatap wajah ayahnya. Kini, ayahnya berada di kamar kelas satu. Bersih, rapi, dan lebih tenang dari kamar sebelumnya yang sempit dan selalu ramai. Reya tak berpikir dua kali saat memindahkannya. Sejak bersama Barat, segalanya terasa sed

