LC 19B

677 Kata

Satrio masih menemani Reya, menggenggam tangan gadis itu yang dingin dan gemetar. Setelah pemakaman, saat sebagian orang mulai meninggalkan lokasi, Reya masih berdiri di dekat pusara, menatap batu nisan yang baru ditanam. "Doain aku ya pak. supaya bisa lulus dan kuat…" Matanya kembali basah. Kali ini lebih tenang, tapi tetap berat. Saat akhirnya Reya melangkah pergi, tubuhnya limbung. Satrio dan salah seorang tetangga menahan . Barat masih berdiri jauh, hatinya tak kalah remuk. *** Reya duduk bersandar di sofa ruang tengah apartemen, tubuhnya tampak jauh lebih kecil dibanding biasanya. Matanya sembab, rambutnya dibiarkan tergerai tanpa sempat ditata. Nafasnya pendek-pendek, tapi dia berusaha bertahan. Di antara kelelahan fisik dan duka yang menumpuk, satu-satunya hal yang ingin ia laku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN