Aroma kopi tercium di ruangan , di tambah dengan tugas reya yang memenuhi ruangan. Aneka tumpukan kertas, buku referensi, dan laptop yang tak pernah mati semalaman. Mata Reya merah, tapi bukan karena air mata. Melainkan karena kurang tidur dan kerja yang tak ada habisnya. Reya menatap layar laptop dengan mata sembab, bibirnya bergetar perlahan tapi tak bersuara. Ketikan terus berjalan. Bab demi bab skripsinya mulai terlihat susunannya, nyaris sampai di bab terkahir. Tak ada jeda, tak banyak istirahat, tak ada keluhan. Seperti robot yang diprogram hanya untuk menyelesaikan satu misi, lulus secepatnya. Di tempat kerja pun Reya tak banyak bicara. Ia datang paling awal, pulang paling akhir. Bahkan kopi favoritnya di pantry sudah tak disentuh lagi. Senyuman hangatnya? Menghilang. Ia menyapa

