Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar, meletakkan teh di meja kecil. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Reya yang dingin, mengusapnya perlahan. "Maaf ya," bisiknya. "Maaf, Rey." Reya mengerang pelan mendengar ucapan Barat. Matanya terbuka sedikit "Pak Barat," gumamnya nyaris tak terdengar. Barat langsung mendekat, tangannya menyentuh pipi Reya yang dingin. "Iya, saya di sini. Bangun pelan-pelan ya, ini ada teh hangat," ujarnya lembut. Dengan hati-hati, ia mengangkat kepala Reya dan menyuapkan teh dari sendok kecil. Satu sendok, dua sendok. Reya menelan perlahan, meski wajahnya masih penuh kesakitan. "Masih sakit?" tanya Barat pelan, matanya tak lepas dari wajah Reya. Reya mengangguk kecil. "Perut saya sakit, kayak diremas-remas." Barat hanya bisa menggenggam tangan

