"Ibuku itu single parent, anaknya cuma aku. So, aku merasa udah jadi kewajibanku untuk melindungi dan mendampingi Ibu dalam acara apa pun." Aduh, Abi kok, seolah bisa baca pikiranku ya? "Bagus dong," ucapku sedikit kaku. "Apanya?" tanya Abi seraya menatapku lekat. "Hah? Enggak. Ini foto Bu Nafsiah cantik." Ih, apaan si Abi lihatnya begitu bikin aku salah tingkah. "Iya. Cantik!" Abi melihatku sambil mengatakan kata itu. Jantungku terasa terpacu cepat. Kedua tanganku saling menggenggam dan terasa panas dingin. Entah situasi apa yang melanda, kami saling menatap tanpa suara untuk waktu yang cukup lama. "Hei!" Aku dan Abi tiba-tiba dikejutkan oleh suara Agus. "Ada yang bisa dibantu, bos," tanyaku pada Agus yang diiringi cengiran. "Lagi pacaran ya?" Agus menatapku dan Abi silih

