Joshua POV

1123 Kata
Dinda.. Rindu ini terasa sungguh menyiksa. Tiap kali jika harus terpisahkan oleh jarak ribuan kilometer denganmu. Menyesakkan d**a kala rindu harus menunggu lebih lama karna tak bisa tertebus saat itu juga. Harum tubuhmu menjadi candu pereda resahku. Yang menguap pergi entah kemana. Hingga hanya kenyamanan yang tersisa. Senyum dan tawamu hilangkan sepi. Pereda segala sedih. Hadirmu menyejukkan jiwa. Bagai oase di tengah gersangnya sahara. —————————————————— Kisah kasih kita kemarin terlalu menggoda untuk kulewatkan begitu saja. Ingin kurengkuh hatimu sekali lagi. Ingin kugenggam jemarimu dan merangkai mimpi bersama. Tak usah kau hiraukan perbedaan diantara kita. Karna hanya dengan menatapmu aku yakin duniaku akan baik-baik saja. Tak usah kau dengar apa tanggapan orang tentang hubungan kita yang syarat akan perbedaan. Selama kita bersama aku yakin kita akan baik-baik saja. Namun rasa takutmu mengalahkan segalanya. Kamu terlalu banyak menerka-nerka apa yang akan terjadi esok jika kita kembali bersama. Kamu tidak mengijinkanku untuk mendampingimu menghadapi rasa takutmu bersama. Kamu terlalu banyak menakuti hal-hal yang belum tentu akan terjadi. Rasa takutmu lebih besar dari rasa yang kamu simpan dihati. Rasa yang salam ini kamu coba hindari. Karna kamu terlalu takut jika rasa itu tumbuh bertambah besar dan indah. Kamu mencoba menyangkal itu, Sayang! ——————————————————— Dinda.. Begitu banyak waktu sudah kita habiskan bersama. Tak mudah bagiku untuk memgacuhkannya. Membiarkan ia pergi begitu saja. Entah mengapa sungguh hati ini tak rela. Aku tau, bukan hanya aku yang mencoba menyentuh hatimu. Tapi sayangnya aku tak mampu melarang mereka untuk tak mendekatimu karna aku sadar karna aku hanya seseorang dari masa lalumu. Yang mecoba kembali membahagiakanmu. Tau kah kamu? Bahwa hal itu sangat membuatku resah. Khawatir jikalau hatimu terambil oleh pria lain. Namun, kau tak perlu khawatir, Dinda. Karna aku akan selalu mencoba untuk membuktikan bahwa aku adalah yang terbaik. Diatas segala perbedaan yang kita miliki. —————————————————— Dinda.. Aku merenungkan semua percakapan terakhir kita. Sesaat sebelum perpisahan terakhir kita dibandara sore tadi. Aku memahi semua perasaanmu, ketakutanmu, keresahanmu juga kesedihanmu. Karna aku pun merasakan hal yang sama. Aku merasakan keputus asaanmu tentang hubungan kita. Aku merasakan keresahan dan kekhawariranmu jika hubungan itu kita teruskan. Aku merasakan ketakutanmu jika akhirnya kita tetap tidak bisa bersama. Dan aku pun juga akan merasakan kesedihanmu jika kita harus berpisah lagi karna perbedaan. Sungguh aku merasakannya! Tau kah engkau? Aku pun ingin hubungan kita melangkah ke tahap yang lebih serius. Tapi aku tau kau pasti tidak akan mau kita bersatu diatas segala perbedaan kita. Begitupun keluarga kita. Tapi aku masih belum memiliki keyakinan yang kuat untuk melangkah mengikuti jalanmu, Dinda. Aku sadar jika aku terlalu memaksakan hubungan kita. Seakan tidak perduli akan perasaanmu. Tapi dibalik itu semua, alasan sebenarnya karna aku masih belum bisa untuk merelakamu seutuhnya, berhenti menyayangimu, merindukanmu serta mencemaskanmu. Aku masih belum berbesar hati untuk mengakuin bahwa kamu akan lebih bahagia jika bukan denganku. Aku masih terlalu ingin membahagiakanmu. Katakan saja aku egois! ——————————————————— Dinda, Kau benar atas semua percakapan kita akhir-akhir ini. Tentang segala perbedaan yang kita miliki. Tentang segala kemungkinan yang akan terjadi dihubungan kita nanti. Tentang segala keputusan yang akan kita ambil akan berdampak pada banyak orang . Terutama mereka yang begitu menyayagi kita. Tentang kekecewaan keluarga dan orang tersayang jika kita mengambil keputusan tidak seperti yang mereka harapkan. Tentang penilaian dan pemikiran orang lain jika kita beralih dari prinsip yang lama ke prinsip yang baru. Apapun alasannya. Mereka tidak akan perduli. Meskipun jika itu diatas namakan oleh cinta. Tentang perasaan kita yang jika pada akhirnya dengan terpaksa kita harus melangkah mencari kebahagian sendiri-sendiri. Karna tidak menemukan jalan keluar atas keruwetan hubungan kita. Lagi! Tentang kesedihan yang akan kita rasakan. Karna dengan terpaksa harus merekakan kebersamaan dan kebiasaan yang telah tercipta. Menjadi sebuah kenangan lagi. Tentang kehampaan hati karna merasa ada yang hilang secara tiba-tiba. Walaupun sebelumnya kita telah mempersiapkan hati bahwa kemungkinan terburuk ini akan terjadi kembali. Tentang kekecewaan karna harus mengubur segala cita-cita bersama yang sudah kita rangkai seindah dan setinggi mungkin. Menjadi debu karna menganggap harapan & cita-cota itu telah hilang. Bersama perginya sang harapan. You abbsolutely right, Darl! ——————————————————— Dinda, Sungguh ingin rasanya memilikimu seutuhnya. Berbagi suka dan duka denganmu hingga kita menua bersama dan dimakan usia. Tak perlu kau ragukan lagi rasa yang kumiliki untukmu. Dari dulu tidak pernah berubah. Masih sama seperti saat kita saling jatuh cinta. Masih terasa manis. Tak usah kau pikirkan tentang perasaanku. Pikirkan saja kesehatanmu. Kerna mendengar dan melihatmu jatuh sakit seperti kemarin sungguh membuatku cemas. Ingin secepatnya berada didekatmu. Melihat keadaanmu. Agat aku bisa meyakinkan diriku bahwa kamu tidak akan terjadi hal buruk yang menimpamu. ——————————————————— Dinda, Menjadi pilihan hatimu adalah salah satu prioritasku. Tapi jika tidak pun aku tidak perduli. Sama seperti kemarin. Karna aku akan tetap membuktikan bahwa hanya denganku kamu seharusnya bahagia. Mungkin kamu merasa terganggu. Atau menganggap aku tidak ada kerjaan. Aku tak perduli. Tapi dengan terus memperhatikanmu adalah salah satu caraku untuk terus terasa dekat denganmu walaupun terpisah pulau. Mungkin kau juga menganggap aku pria tak laku. Bukan itu! Tapi hati ini masih ingin memikatmu lagi. Masih ingin menjadi alasan kau bahagia. Menjadikanmu yang terakhir dalam perjalanan hidupku. Mungkin kau juga tidak tau apa yang aku rasakan di sini selama menunggumu. Banyak sekali perdebatan dalam diri. Logikaku berkata untuk pergi saja mencari bahagiaku sendiri. Meninggalkanmu. Menyimpanmu rapat-rapat dalam kotak bertuliskan memori. Namun ternyata hati ini masih belum mampu. Hati ini masih ingin bahagia bersamamu. Dan hati ini pun masih mampu untuk menunggumu. Masih ingin menyanyangimu. Dan tentu saja masih banyak ruang tersjisa untuk menyimpan rindu untukmu.Entah sampai kapan. ——————————————————— Jadi.. Kumohon, Dinda. Untuk tidak lagi memintaku berhenti memiliki rasa ini. Berhenti memintaku untuk mencari bahagiaku sendiri. Karna aku masih mampu untuk melakukannya. Masih ingin menyimpanmu di hati yang terdalam. Masih banyak ruang di hati untuk menyimpan rinduku padamu. Masih banyak tinta untuk kutuliskan namamu. Dan masih banyak waktuku untuk menunggumu. ———————————————————— Bila rindu ini Masih milikmu Kuhadirkan sebuah Tanya untukmu Harus berapa lama Aku menunggumu Aku menunggumu.. *** Peter Pan - Menunggumu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN