Pembuktian 2

1985 Kata
Aku tak menyangka bahwa pesannya yang berisi See You Soon, Darl! benar-benar mengartikan bahwa ia akan menemuiku secepatnya. Dan sekarang disinilah dia berada. Di rumahku sehari setelah mengirimkan pesan itu. Sungguh aku tak menyangka. “Kenapa gak ngabarin dulu kalau mau pulang? Dari sana jam brp?” Tanyaku. “Satu-satu nanyanya. Td flight jam 5. Abis kerja langsung berangkat. Kalau ngabarin dulu nanti gak surprise dong” Jawabnya sambil mencubit pipiku gemas. Aku hanya tersenyum dengan perlakuannya. “Mana yang lain? Tadi kayanya rame pas gue telp” Lanjutnya lagi. Lalu aku pun mengajaknya menuju ke halaman belakang untuk menemui sahabat-sahabatku yang lain. “Woii, Jo! Katanya di Lombok” Sapa Ricky saat melihat Joshua. “Iya. Udah dua bulanan di sana. Trus balik dulu bentar” Jawabnya. “Dari bandara langsung ke sini?” Kali ini giliran Okta yang bertanya. “Iya. Mau liat dia nih” katanya sambil mengusap kepalaku lembut. Dan hal itu mengundang tatapan tak enak dari Febri. “Mantap! Demi cinta. Tuh tik. Si Adhit pas lo sakit nengokin gak?” Tanya Anto pada Kartika. Dan hanya mendapat tatapan sinis dari yang ditanya. “Lemes banget si Anto!” Bela Silvy. Sedangkan Anto hanya mencibik mendengar pembelaan dari Silvy. Kami tertawa melihat tingkah dan ucapan Anto yang kadang membuat kesal. Namun tidak pernah sampai diambil hati. Karna kadang apa yang diucapkannya memang benar. Hanya penyampaiannya yg cukup blak-blakan. Joshua ikut berkumpul bersama sahabat-sahabatku malam itu. Kami mengobrol banyak hal. Terutama tentang keadaanku kemarin saat sakit. Dan mereka menyarankan aku untuk lebih memperhatikan kesehatanku dan tidak memaksakan diri atau memforsi jam kerja. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Para sahabatku beserta Febri juga Joshua memutuskan untuk pulang. Karna aku masih dalam proses penyembuhan dan membutuhkan banyak istirahat. “Banyak istirahat beb. Jangan diforsir kerjanya” Nasihat Kartika padaku saat handak pulang. “Iye.. kerja mulu. Kaya kagak typus iya kan lo” celetuk Anto yang kali ini sangat tepat sasaran. “Iya.. Iya.. Makasih ya semuanya udah nengokin gue” Ucapku sambil memeluk satu persatu sahabat-sahabat perempuanku. “Kita gak dipeluk juga, Din?” Tanya Ricky dengan gaya yang seakan-akan sudah siap untuk dipeluk. “Gue wakilin aja sini yuk!” Jawab Joshua hendak menghampiri Ricky. “Idih.. Gak usah. Gak jadi” Katanya sambil menampilkan ekspresi jijik yang mengundang tawa teman-temannya. “Din, balik ya. Istirahat. Vitamin dan suplemennya jangan lupa diminum” Kata Febri mengingatkan. “Iya. Thank you ya Feb” Jawabku. Aku sempat melihat ke arah Joshua, ia seperti menampakan ekspresi kurang suka dengan perhatian Febri padaku. Setelah berpamitan mereka membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing. Kecuali Joshua dan Anto. “Jo, mau nginep?” Ucap Anto sambil menyindir. “Iyee..” Saut Joshua malas. “Pulang dulu ya. Langsung istirahat. I’ll text you when I’m arrive” Lanjutnya sambil mengelus kepalaku. Ku jawab dengan senyum dan anggukan kepala. “Kaya kucing aje dielus mulu lu, Din” komentar Anto ketus. “Lah lo kaya netijen aje komen mulu” jawabku tak kalah ketus. “Jo, makasih ya” kataku kali ini pada Joshua. “Anytime. Pulang dulu ya” pamit Joshua padaku dan Anto. “Lo masih mau di sini?” Tanyaku pada Anto setelah mobil Joshua menjauh. Dan dibalas tatapan kesal. “Jojo tau Febri ada rasa sama lo?” Tanyanya tanpa menjawa pertanyaanku. Aku hanya mengangkat bahuku sebagai jawaban. “Tapi kayanya sama-sama tau. Keliatan pas Febri care sama lo. Febri juga keliatan pas Jojo dateng. Mukanya beda” katanya seakan-akan menjawab pertanyaannya sendiri. Setelah mengatakan itu Anto menyalahkan mesin motornya untuk beranjak pulang. Tak lupa aku mengucapkan terimakasih karna telah menjengukku. Dua hari berlalu dengan aku tidak melakukan kegiatan apa-apa kecuali beristirahat. Termasuk tidak ke kantor juga. Dan pekerjaan sebagian besar di handle oleh Sam. Kebetulan ia menawarkan diri untuk membatuku selama masa recovery. Hari ini aku memutuskan untuk mengantar Joshua ke bandara. Sebetulnya ia melarangku untuk mengantar tapi aku memaksa. Dengan dalil bahwa kami akan lama tidak berjumpa lagi. Dan ia pun mangalah. Sebentar lagi ia akan menjemputku menggunakan taxi. Tak lama ia pun sampai. “Mau langsung berangkat?” Tanyaku. “Ya udah. Tapi pamitan dulu sm orang rumah lo” jawabnya. Lalu kami masuk ke rumah untuk bertemu bunda dan Fauzan. Setelah berbasa-basi sebentar Joshua pun berpamitan untuk kembali lagi ke Lombok. Dan bunda pun mengingatkan aku untuk langsung pulang setelah mengantar Joshua. “Bener gak apa-apa?” Tanya Joshua lagi yang tampak masih khawatir. “Iya Jo. Udah sehat ini. Bosen juga di rumah gak kemana-mana” Jawabku “Ya kan lo lagi masa recovery. Gak boleh capek-capek” katanya lagi “Iya. Dari kemaren juga gak ngapa-ngapain. Jadi gak capek” jawabku lagi. Perjalanan dari rumahku ke bandara memakan waktu sekitar dua jam. Selama perjalanan Joshua banyak mengingatkanku untuk lebih memperhatikan kesehatan dan tidak memforsir jam kerja agar kejadian seperti kemarin tidak terulang lagi. Masih ada waktu sekitar 3 jam lagi sebelum pesawat yang akan Joshua tumpangi terbang. Dikarnakan aku sudah mulai berpuasa, kami memutuskan untuk menunggu di ruang tunggu yang ada di sekitar bandara. “Udah mulai puasa ya?” Tanyanya. Aku mengangguk. “Udah enakkan kok” jawabku. “Nanti buka puasa dan saurnya yang bener. Jangan goreng-gorengan dulu” pesannya. Dan lagi-lagi kujawab dengan anggukan kepala. “Jo, makasih ya udh mau nengokin” kataku. “Hmm.. makanya jangan sakit. Ongkosnya gede nengokin lo” jawabnya cuek. “Gak ikhlas?” Tanyaku pura-pura kesal. “Ikhlas. Kl gak ikhlas mah gak bakalan gue buru-buru cari flight kosong buat besok sore” jawabnya. “Sampe segitunya. Makasih ya” kataku lagi sambil tertawa. “Demi elo! Siang masih gak apa-apa. Sore pamitan pulang abis itu gak ada kabar. Besokannya video call ada di rumah sakit. Khawatir banget gue. Eh yang dikhawatirin lagi ketawa-tawa sama orang lain” katanya agak kesal. “Lah kan mereka pada nengokin. Masa gak boleh. Biasanya juga santei aja lo” jawabku heran. “Bukan temen-temen lo. Yang lain. Yang kemaren ikut mengok. Care banget kayanya” katanya masih dengan nada kesal. “Febri?” Tanyaku. Dan hanya dijawab dengan lirikan mata kesal oleh Joshua. “Din, lo gak pengen kita kaya dulu lagi apa?” Tanyanya tanpa basa basi. “Gue gak bisa, Jo. Bukannya gak mau. Masih inget kan kita pisah karna apa? Gue gak mau ngerasain yang kaya kemaren lagi waktu kita selesai. Gue kecewa, kesel, sedih segala macem tapi gak tau sama siapa. Karna dari awal gue udah tau kemungkinan besar perbedaan itu yang bikin kita pisah” jelasku sambil menatapnya. Berusaha menyampaikan apa yang aku rasa dan pikirkan. “Iya tapi gue gak..” “Jo, please. Gue cuma gak mau ngerasain yang kaya kemaren lagi dan gak mau ngecewain siapapun kalau kita paksain sama-sama lagi” potongku sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Aku takut semakin tidak bisa menolaknya. “Ngecewain siapa?” Tanyanya. “Tujuan lo kita sama-sama lagi apa? Lo gak pengen kita serius?” Tanyaku menjawab pertanyaannya. “Selama ini gue selalu serius sama lo. Gue pengen kita sama-sama terus. Sampe nanti” Jawabnya. “Menikah? Gimana nanti aja? Gue gak bisa, Jo. Keluarga kita gimana? Kalau mau sama-sama lagi harus jelas tujuannya” tegasku. Joshua terdiam dan terlihat berpikir. Mungkin tidak menyangka kalau arah pembicaraan kami akan sejauh ini. Membahas hal yang sebenarnya kami hindari saat masih bersama. Memikirkan nanti saja dan jalani dulu. Naif memang. “Gue serius sama lo. Dan pengen kita menikah” katanya setelah terdiam beberapa saat. “How?” Tanyaku. “Let me think ‘bout it later” jawabnya sambil menggenggam tanganku. Aku menghembuskan napas yang terdengar seperti menyerah dan membuat Johua mengeratkan genggaman tangannya. “So what should I do?” Tanyanya. “Jo, jujur ya. I can’t see the future on us. Gue takut kalau ternyata kita terlalu memaksakan buat sama-sama lagi. Tapi akhirnya tetap gak bisa. I’m too scare. So please understand me” kataku sambil mentapnya sambil menahan bulir bening agar tidak sampai terjatuh. Berharap ia akan mengerti betapa aku begitu hopeless akan hubungan kami nanti. “Maaf. Kalau gue terkesan memaksa. I didn’t mean it” katanya terdengar menyesal sambil mencoba menenangkan aku yang sedang berusaha keras untuk tidak menangis. Sebagian hatiku merasa sudah begitu nyaman dengannya. Tapi sebagian lagi mencoba berpikir rasional dengan perbedaan yang kami miliki. “Jo, lets find our own path” kataku setelah sebelumnya menarik napas panjang sebelum mengatakan itu. “Hei, listen! I love you. Don’t push me to stop doing it. I’ll stop when I’m tell it to” katanya sambil menatap mataku dalam. Aku hanya diam. Tak tau harus berkata apa. “Ini..” kataku sambil menyerahkan hadiah yang diberikannya untukku. Ya, sebuah kalung cantik yang ia berikan ditempat yang sama. Di bandara saat kami akan berpisah sekitar dua bulan yang lalu. “Pakai lagi! Kalau lo udah gak mau pakai buang aja!” Katanya dengan nada sedikit marah. Aku tetap menyodorkan kotak berwarna hitam itu. “Gak apa-apa?” Tanyaku ragu. “Hmm” jawabnya singkat. “Pakein dong. Masa gue pakai sendiri lagi” kataku sambil mencoba tersenyum. “Makanya gak usah dilepas” jawabnya ketus. Lalu berdiri menghapiriku dan memakaikan kalung pemberiannya. “Cantik gak gue pakainya?” Tanyaku. Mencoba mentralkan kembali suasana yang sempat mellow tadi. “Iya” jawabnya singkat. Aku diam. Mungkin suasana hatinya belum kembali membaik pikirku. Jadi kuputuskan untuk tidak banyak bicara. “Jo, yuk. Siap-siap check in dulu. Udah tinggal sejam lagi pesawatnya berangkat” kataku. Tak terasa kami sudah mengobrol selama dua jam. Aku pun mengantarnya sampai counter pengecekan tiket dan dokumem lainnya. “Dinda..” panggilnya sesaat sebelum ia sampai di depan counter maskapai. “Jangan kaya gitu terus. Lo bikin gue makin susah move on” katanya lagi. “Kaya gitu gimana?” Tanyaku bingung. “Manja, care dan sebagainya” jawabnya. “Y udah abis ini gue bales seperlunya ya. Tapi lo jangan telp mulu kalau lama balesnya. Kan lo yang minta” kataku. “Jangan! Kaya biasa aja pokoknya. Sama jaga kesehatan. Jangan bikin gue khawatir!” Jelasnya. Aku pun mengangguk. “Aduh.. jangan gitu” protesnya lagi. “Ya terus gue harus gimana?” Tanyaku sungguh bingung dengan sikapnya. “Kawin lari aja mau gak?” Ajaknya tiba-tiba sambil memasang tampang jail namun penuh harap. “Are you insane?!” Kataku kaget agak berteriak. Hingga membuat beberapa orang yang lewat menoleh memeprhatikan. “Gak usah teriak-teriak kalau gak mau” katanya sambil merasa tidak enak menjadi pusat perhatian. “Ya elo ngajakinnya aneh-aneh” protesku. “Dinda..” panggilnya. Namun ada jeda sebelum ia melanjutnya kalimatnya. “What ever your decision, please let me know” katanya kali ini dengan wajah serius. “I will. Lo hati-hati ya. Kabarin kalau udah sampe” kataku. “Find your own happiness” kataku lagi setelah ada jeda dari kalimat sebelumnya. Dan dengan mata berkaca-kaca. Seperti tidak rela untuk benar-benar melepasnya. “I’ll try” jawabnya membuat bulir bening di mataku jatuh. Ia pun membawaku dalam dekapnya. Seakan tidak rela untuk kembali berjauhan. Terpisahkan jarak ribuan kilo, terpisahkan lautan luas. Padahal tidak ada kejelasan dalam hubungan kami. “Jojo, gue lagi puasa. Jangan peluk-peluk” protesku mengingatkannya sambil berusaha melepaskan pelukkannya. “Sorry.. Sorry.. gue lupa” katanya sambil tertawa. “Hey, I love you so much” katanya sebelum kami benar-benar berpisah. Aku hanya tersenyum. Tak berani menjawab ungkapan cintanya. Aku menatap punggungnya hingga ia tak terlihat lagi. Karna aku memintanya untuk tak menoleh saat sudah melewati counter check in tiket. Lalu setelah ia tak terlihat lagi aku memutuskan untuk pulang menggunakan taxi. Dan tak lama setelah aku menaiki taxi terdengar bunyi pesan singkat masuk dari ponselku Ting.. Ting.. Already missing you. Text me when you arrive. Take care and I love you! Pesan masuk itu dari Joshua. Dan aku tersenyum karnanya. ———————————————————
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN