Pagi yang cerah matahari bersinar terang menerangi bumi, namun ada wanita yang setia bergulung selimut dengan erat. Karena menderita insomnia tadi malam Belva yang sejak tadi pagi sudah sholat subuh kembali tidur karena rasa kantuk yag luar biasa. Rasanya tidak ada lebih enak ditimbang tidur, sayangnya saat pukul 06.30 kakak sepupunya yang bernama Cahya Sasmitha datang menggedor pintu kamarnya, karena tak ada tanggapan ia pun masuk. Cahya yang berusia 30 tahun kulit putih, tinggi 156 cm dan cempereng. Cahya berusaha membangunkan adik sepupunya ini.
“Belva ayo bangun” teriak Cahya mendekati tempat tidur dan berusaha membangunkan sepupunya karena hari ini aka nada acara pertemuan keluarga besar
“Apaan sih” Belva menggerutu tak jelas. Belva paling tidak suka diganggu kalau tidur apalagi kalau malam menderita insomnia bisa uring-uringan nggak jelas.
“Kalau nggak bangun jodoh lo dipatok ayam” ucap Cahya asal. Cahya sangat suka menjahili sepupunya
“Nggak bisa kali” Belva mendengus kesal
“Yaudah, kalau gitu rezekimu nanti disambar orang lain” Cahya menakut-nakuti Belva. Cahya memikirkan berbagai cara untuk membangunkan sepepunya
“Heh, doamu kok gitu sih mbak” Belva menegerucutkan bibirnya tak terima akan perkataan kakak sepupunya
“Makanya bangun, gadis bangun siang itu nggak bagus. Tau nggak kamu? atau Mau sekalian aku bilang tante buat mencarikan jodoh untukmu biar disiplin” Cahya kadang kesal ulah sepupunya yang nggak disiplin waktu
“Apaan sih mbak, nggak ada hubungannya ama jodoh?” Belva dengan cemberut memeluk boneka kesayangannya dengan erat
“Adalah, kalau kamu menikah otomatis kamu harus bangun pagi dan mengurus kepentingan rumah tangga. Kan jadi disiplin, lihat tuh udah dewasa masa’ masih suka main boneka” Cahya menatap sepupunya dengan tak percaya tingkahnya mirip dengan anaknya masih kenak-kanakan
“Biarin aja, aku masih suka kayak gini” Belva acuh pada perkataan sepupunya.
Belva sendiri terkadang malas dan enggan menghadapi gunjingan orang. Toh ngapain dipikirin bikin kepala pusing. Selama mereka tidak berlebihan Belva akan cenderung diam. Tapi jika sudah melewati batas Belva tidak akan segan lagi.
“Dibilangin ngeyel” Cahya menjitak kepala sepupunya karena saking gemasnya
“Aww, kakak” Belva merintih
“Apa? Makanya kamu jangan keras kepala kalau dibilingin ya nurut” Cahya merasa heran sepupunya bandel, sulit dibilangin
“Malas”
“Terus mau kamu apa? Terus seperti ini”
“Emangnya nggak boleh”
“Hadeh, gimana pikiranmu sih Va, udah pokoknya kamu harus berubah.
“Nggak ah kak”
“Kamu harus bersikap dewasa dan agar saat kelak kamu akan menikah, kamu tidak terkejut akan perubahan dalam hidupmu”
“Iya deh bu Cahya” Belva mengiyakan aja perkataan Cahya
“Lo malah ledek kamu” Cahya pun melemparkan guling pada sepupunya
Belva membalas. Dan terjadilah adu lempar bantal dan guling pun tak dapat dielakkan
“Udah lah kak kayak anak kecil aja” Belva merasa kenak-kanakan
“Kamu itu yang mulai, Ingat ya kamu ini sudah dewasa. Sebentar lagi menikah, makanya kakak ngomel gini demi kebaikanmu. Kakak juga bisa kasih kisi-kisi buat menaklukan calon mertuamu nanti. Hebat kan aku” Cahya dengan bangga
“Ya ampun segitunya, Aku aja belum siapa apa-apa, jodohku aja juga belum muncul” Belva merasa jodohnya masih belum kelihatan batang hidungnya. Secara belum ada cowok yang serius mau melamar dirinya terkecuali cowok aneh di depan minimarket waktu lalu.
“Gampang itu tinggal cari yang gimana? Aku bisa bantu yang tampan, romantis atau yang lucu” tawar Cahya yang bersemangat ingin menjodohkan Belva
“Yang mirip ama Lee Jong-suk, ups” ucap Belva yang kembali menutup mulutnya karena takut kelepasan bilang lamaran kemarin
“Kenapa? Udahlah terus terang aja sama aku. Tapi maaf untuk cowok keturunan korea belum ada stok” Cahya bicara secara jujur dia memiliki banyak kenalan cowok yang single tapi untuk wajah bule korea tidak punya. Semua kenalan kebanyakan lokal seperti keturunan sunda, aceh, jawa. Maklumlah dia sempat bekerja sebagai sekretaris sebelum sepenuhnya mundur karena mengurusi rumah tangganya.
“Yaudah kalau gitu” Belva yang menata kembali kamarnya yang sempat berantakan akibat perang bantal dan guling
“Uu jangan ngambek, nanti kalau ada yang mirip ama Lee Jong-suk, aku kenalin ke kamu deh” Cahya yang mengelus pundak sepupunya
“Apaan sih kak”
Sementara mereka asyik mengobrol, Bu Tanti ibu Belva yang sedang memasak beserta saudara perempuan dan asisten rumah tangga berteriak karena mereka berdua tidak kunjung membantu di dapur padahal perlu memasak banyak makanan.
“Belva, Cahya cepat ke dapur bantuan mama sama yang lain” teriak Bu Tanti yang tidak sabar akan tingkah laku putri dan keponakannya
“Iya” jawab Belva dan Cahya serempak
“Mama marah kak” Belva merasakan kemarahan mamanya
“Yaudah aku turun dulu ditimbang diamuk singa, kamu cepetan mandi dan bantu dibelakang” Cahya pergi menuju ke dapur
“Ok kak” jawab Belva
Dengan langkah gontai Belva menyeret tubuhnya ke kamar mandi, membersihkan diri dan bersiap untuk membantu persiapan acara reuni keluarga.
***
Sementara itu di tempat lain, Aprelio dan Alvino yang bangun sejak pagi bersiap jogging bersama. Keduanya jogging sembari bersandagurau. Keduanya dengan kompak mengelilingi komplek.
“Jogging kayak gini asyik bang” Aprelio sudah lama tidak jogging keliling kompleks
“Ya dek” Vino senyam-senyum membayangkan apabila dirinya dan tunangannya menikah. Sang istri yang cantik membawakan sarapan pagi dan s**u hangat. “Rasanya sudah tak sabar ingin menghalalkan mu Dominia Kimberly” pikirnya dalam hati
“Kenapa senyam-senyum, kamu ngayal tentang apa bang” Aprelio yang ingin tahu apa yang dipikirin oleh abangnya
“Itu abang lagi bayangin kalau nanti udah nikah, saat habis jogging disambut makanan dan minuman buatan istri tercinta” Vino tenang
“Ohh”
“Kenapa cuma gitu reaksimu. Kamu pasti lagi iri sama abang karena bentar lagi nikah emang kamu” Vino yang percaya diri senang meledek adek nya
“Wah rese kamu bang, meski gini aku nggak bakal menyerah buat dapatin pasangan. Apalagi cewek itu aku bakal usahain lebih dari 100%” Aprelio bertekad bisa menaklukkan hati Belva
“Seriusan, abang bakal dukung kamu. Abang jadi penasaran wanita seperti apa yang bisa membuatmu memperhatikannya” Vino yang selalu mendukung adek nya selama dijalan yang benar
“Yang pasti spesial” Aprelio membayangkan senyum Belva
“Seperti martabak aja” gerutu Vino yang merasa adek nya lebay
“Kalau bahas makanan aku jadi lapar” Aprelio mulai merasa lapar karena belum sarapan
“Aku juga lapar, yaudah kita beli bubur aja” ucap Vino
“Boleh, yang penjualnya bang Biman” Aprelio mengingat tukang bubur langganan abangnya
“Kenapa? Nggak mau” Vino mengetahui adek nya pemilih
“Siapa bilang, sekarang aku bisa kok makan makanan sederhana di warung, ataupun gerobak” Aprelio yang telah mengalami gejolak kehidupan menyadari bahwa keserdahanaan juga bisa membuat bahagia
“Beneran? Mimpi apa dirimu berubah” Vino heran perubahan Aprelio setahunya adek nya ini high class dan nggak suka dengan standard dibawahnya
“Mimpi aku bisa nikah duluin abang” Aprelio merasa percaya diri
“Nggak bisa aku yang nikah duluan titik” Vino tak mau kalah
“Terserah aku jalan dulu bang” Aprelio berlari meninggalkan Vino
“Jangan tinggalin aku. Dasar adek kurang ajar” Vino kesal mengejar adek nya
Mereka berlari ke arah gerobak bubur bang Biman, setelah itu mereka duduk dan memesan bubur.Setelah beberapa saat bubur siap, keduanya memakan bubur dengan lahap nggak berasa canggung meski harus duduk disebelah masyarakat biasa dengan mereka.