Suasana di rumah keluarga Azkors tetap tegang, meski kemarin baru saja mereka merayakan pernikahan mewah putri sulung mereka dengan pria dari keluarga Valhok, sebuah momen yang seharusnya menjadi kebanggaan. Namun kini, bayang-bayang skandal lain muncul, menggantung seperti badai di cakrawala.
Di ruang tamu yang megah, Eleina Vandayos, ibu Cinda, memandang tajam ke arah Dery, pria yang kini menjadi pusat perhatian keluarga. Meski sudah tidak lagi terancam menikahkan putri bungsunya dengan Tuan Evan, pria cacat mental dari keluarga terpandang, Eleina masih tidak sepenuhnya puas. Baginya, Dery, pria yang duduk di hadapannya, hanyalah seorang oportunis, dengan latar belakang keluarga yang tak sebanding. Walaupun ia tahu putrinya, Cinda, tengah mengandung anak Dery, tetap saja rasanya sulit untuk menerima pria itu masuk dalam keluarga besar Azkors.
“Kapan kamu akan menikahi Cinda? Dia sudah hamil, dan kami tidak ingin mempermalukan keluarga setelah kandungan Cinda membesar,” suara Eleina terdengar tegas, penuh ancaman tersirat. Tatapannya dingin, seolah memaku Dery di tempat.
Dery menelan ludahnya, mencoba menahan kegugupannya. Ia tahu keluarga Azkors adalah keluarga terpandang, dan pernikahan ini bukan hanya tentang cinta, tapi tentang status dan nama baik. Namun, di sudut hatinya, Dery merasa terjebak, terjerat dalam situasi yang tidak bisa ia kendalikan.
“Saya paham, Tante, dan saya akan usahakan untuk segera melamar Cinda,” jawab Dery pelan, nada keraguan terdengar jelas di suaranya.
Cinda yang duduk di sebelahnya segera meremas tangan Dery dengan erat. Sebuah senyuman samar muncul di bibirnya, seolah menyampaikan pesan bahwa dia akan selalu ada di sisinya. Namun di balik senyuman lembut itu, tersembunyi niat yang lebih kelam. Cinda adalah wanita yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan, dan Dery hanyalah pion dalam permainannya.
Victor, ayah Cinda, hanya diam mengamati. Di dalam hatinya, masih ada rasa menyesal menikahkan putri sulungnya dengan pria cacat mental dari keluarga Valhok, namun ia lebih tidak setuju jika putri bungsunya menikah dengan pria seperti Dery, seorang playboy yang terkenal suka bermain wanita. Meski begitu, Victor tidak banyak bicara, karena baginya, urusan keluarga kadang harus diselesaikan dengan kompromi, bukan konfrontasi.
“Menurut Papa gimana?” tanya Cinda dengan nada penuh harap, meski dalam hatinya, ia sudah tahu jawaban yang akan diberikan. Dia tahu betapa mudahnya memanipulasi pria-pria di sekitarnya, termasuk ayahnya sendiri.
Victor mendesah pelan sebelum menjawab. “Jika memang kalian berdua sudah siap dan ini yang terbaik, Papa setuju-setuju saja. Tapi Dery, kamu harus bertanggung jawab atas Cinda dan anak yang dia kandung.”
Jawaban itu membuat Cinda tersenyum sinis, meski dia berusaha menyembunyikannya. Baginya, keputusan ini hanyalah bagian dari rencana yang lebih besar. Ia tahu, dengan atau tanpa dukungan keluarganya, ia akan tetap bisa memanipulasi situasi untuk keuntungannya sendiri.
Setelah pembicaraan panjang yang melelahkan, akhirnya Dery berdiri untuk pamit. Eleina masih memandangnya dengan sinis, sementara Victor mengangguk ringan, memberikan isyarat agar pria itu pergi. Namun, tepat sebelum Dery berhasil melangkah keluar dari rumah, Cinda menahannya.
Dengan cepat, ia menggenggam lengannya, menariknya ke sudut gelap di luar pintu. Tatapan di wajah Cinda berubah drastis. Dari ekspresi lembut dan penuh cinta yang ditunjukkannya di hadapan keluarganya, kini ia menampilkan senyum dingin yang penuh perhitungan.
“Kamu gak berpikir untuk kabur, kan, Dery?” tanyanya dengan nada rendah namun tajam, matanya menatap langsung ke dalam mata pria itu, seolah mencoba membaca pikirannya.
“Apa maksud kamu, Cinda? Aku gak akan kabur... Aku akan bertanggung jawab,” jawab Dery, meski ada ketidakpastian yang jelas di suaranya.
Cinda mendekat, suaranya menjadi bisikan yang menusuk. “Dengar, kamu akan menikahi aku, dan kita akan hidup sesuai dengan apa yang aku rencanakan. Gak ada pilihan lain, Dery. Anak ini akan mengikat kita, dan aku gak akan biarkan kamu merusak segalanya.”
Dery terdiam. Di bawah kendali Cinda, ia merasa semakin terpojok. Cinda selalu tahu bagaimana memainkan perasaannya, mengendalikan langkah-langkahnya. Dengan satu tangan menggenggam perutnya yang masih datar, Cinda memberikan tekanan yang tidak bisa diabaikan.
“Aku... Aku ngerti, Cinda,” ucap Dery akhirnya, pasrah. Cinda tersenyum puas, tahu bahwa ia telah menang dalam permainan ini.
Saat Dery berbalik pergi, Cinda memandang punggungnya dengan mata penuh perhitungan. Baginya, pria itu hanyalah alat, cara untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Cinta? Itu hanyalah ilusi yang ia gunakan untuk mengendalikan situasi. Dengan atau tanpa cinta, ia akan memastikan bahwa pernikahan ini membawa keuntungan besar bagi dirinya, dan keluarganya tak akan punya pilihan selain menerima keputusannya.
Dery menendang udara dengan frustrasi, wajahnya memerah karena menahan amarah yang bergelora di dalam dirinya. Kenapa dia harus menikah dengan Cinda? Situasi ini adalah mimpi buruk, sebuah jebakan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Sial!" Dery memukul setir mobil bututnya dengan keras, merasa kesal pada dirinya sendiri. Kalau saja malam itu dia bisa melewatkan godaan Cinda, kalau saja dia bisa mengendalikan dirinya lebih baik, mereka tidak akan berakhir dalam situasi seperti ini.
Dia merutuki kesalahan bodohnya, membiarkan dirinya terbawa arus nafsu. Sekarang, pernikahan dengan Cinda yang manipulatif itu sudah di depan mata, menghantui setiap langkahnya. Abel, wanita yang dulu bersamanya, selalu menjadi bayangan di pikirannya. Dalam hatinya, dia tahu bahwa Abel jauh lebih baik daripada Cinda. Abel adalah wanita yang lembut, cerdas, dan penuh kasih sayang, bukan seperti Cinda yang licik dan penuh tipu muslihat.
"Abel masih lebih berguna sih daripada dia," gumam Dery dengan nada rendah, seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan untuk tetap bersama Cinda hanyalah karena keadaan. Bukan karena keinginan. Bukan karena cinta.
Dery menghela napas panjang sebelum masuk ke dalam mobilnya yang tua dan reot. Suara pintu mobil yang berderit mengiringi langkahnya, seakan menggambarkan betapa rapuh dan kusutnya hidupnya saat ini. Di dalam mobil, ia hanya duduk terdiam, membiarkan pikiran-pikirannya mengalir liar tanpa kendali.
Bagaimana hidupnya bisa berubah seperti ini?
***
Matahari baru saja menyelinap di antara gedung-gedung tinggi Kota Ciex, memancarkan sinarnya yang lembut di seluruh kota. Bagi banyak orang, pagi ini adalah awal dari hari yang biasa, penuh dengan rutinitas. Tapi bagi Abelia Azkors, atau lebih tepatnya Abel Valhok, hari ini adalah momen yang penuh dengan kegelisahan. Duduk di meja makan keluarga Valhok, sarapan bersama keluarga mertuanya untuk pertama kalinya, terasa seperti memasuki kandang singa yang penuh intrik dan kepura-puraan.
Pagi itu, ruang makan keluarga Valhok yang luas dan berornamen mewah dipenuhi cahaya matahari yang hangat. Namun, suasana di dalam terasa dingin dan tegang, bahkan sedikit menakutkan bagi Abel.
Santai? pikir Abel dalam hati, berusaha meresapi kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Nyonya Velin Valhok, ibu mertuanya yang tampak seperti model kelas atas dengan pakaian glamor yang terlalu berlebihan untuk pagi hari. Bagaimana bisa aku santai?
Nyonya Valhok duduk dengan anggun di kursinya, mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang tampaknya lebih cocok untuk gala malam daripada sarapan keluarga. Perhiasan berlian kecil menghiasi lehernya, bersinar lembut di bawah lampu kristal yang tergantung di atas meja makan besar. Sambil memandang Abel, senyuman tipis menghiasi bibirnya. Tapi, ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Abel tidak nyaman—seolah dia sedang menilai setiap gerakan Abel, seperti sedang mengukur seberapa pantas menantu barunya ini berada di meja makan tersebut.
“Santai saja, saat ini kamu adalah bagian dari keluarga kami,” ucap Nyonya Valhok lagi, nadanya lembut, tapi dingin seperti es.
Abel tersenyum kaku. Bagian dari keluarga Valhok? Dia merasa lebih seperti seorang penyusup yang secara paksa dimasukkan ke dalam keluarga ini. Belum lama ini, Abel bahkan tidak pernah membayangkan dirinya duduk di meja ini, apalagi sebagai istri dari pewaris utama Valhok Group. Dan sekarang, dia harus berhadapan dengan berbagai tatapan yang sulit diartikan.
Di hadapannya, Evan, suaminya, duduk dengan gembira di kursinya, mengenakan apron khusus dengan nama "Evan" yang disulam di depannya. Ada juga nampan makan dengan pembatas, seperti yang biasa dipakai anak kecil. Ya Tuhan, pikir Abel, menahan napas. Ini bukanlah kehidupan yang pernah dia bayangkan.
Suara dering perak dari sendok garpu terdengar lembut di meja makan itu, nyaris seperti sebuah isyarat bahwa percakapan apapun yang ingin dimulai harus dipilih dengan sangat hati-hati. Abel merasa kaku, tidak tahu harus berbuat apa, terlebih saat melihat ayah mertuanya, Tuan Tony Valhok, yang tiba-tiba masuk dan duduk dengan aura dominan yang segera mengambil alih suasana.
“Abel, Evan lapar,” suara Evan yang kekanak-kanakan tiba-tiba memecah keheningan, membuat Abel tersentak. Dia melihat ke arah Evan yang tampak tidak sabar, memandangnya dengan ekspresi penuh harap.
Sebelum Abel sempat merespon, terdengar suara tawa ringan dari ujung meja. Ardo Nicolas Valhok, kakak ipar Abel yang baru dikenalnya, tersenyum kecil. "Adik ipar terlihat tegang, Mama jangan terlalu menekannya," ucapnya, nada suaranya setengah bercanda, setengah mengejek. Ardo memandang Abel dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara rasa ingin tahu dan sesuatu yang lebih gelap. Abel tidak bisa memutuskan apakah pria itu bersahabat atau justru berbahaya.
“Aku baik-baik saja,” Abel mencoba menjawab dengan nada tenang, meski jantungnya berdebar kencang.
Namun perhatian Abel kembali teralih saat Evan kembali berbicara. “Abel... Evan lapar,” kali ini nada suaranya lebih tinggi, mendesak. Suaminya menggoyangkan tubuhnya ke depan dan ke belakang di kursi, menunjukkan tanda-tanda kegelisahan yang tak bisa diabaikan.
Abel merasa seluruh tatapan keluarga Valhok kini tertuju padanya. Keringat dingin mulai muncul di punggungnya. Dia mencoba memegang sendoknya, tapi tangannya terasa gemetar. “Evan, tunggu sebentar ya. Aku akan bantu kamu,” ucap Abel, berharap suaminya bisa tenang meski dalam hati dia berdoa agar momen ini cepat berlalu.
Namun, Evan tidak sabar. “Abel… Evan lapar!” rengeknya, lebih keras kali ini, menarik perhatian semua orang di meja.
Abel mencoba tersenyum, tetapi sarafnya menegang lebih kuat. Dia meraih piring Evan dan mulai menyendokkan makanan ke mulut suaminya. Namun karena terlalu gugup, gerakannya agak canggung.
Dan kemudian, kejadian yang paling tidak diharapkan terjadi. Makanan di atas piring Evan tumpah, berhamburan ke lantai. Sejenak, suasana berubah drastis. Semua orang di meja makan membeku, memandang makanan yang berserakan di lantai, lalu perlahan tatapan mereka beralih ke Abel.
Evan tiba-tiba merajuk, suaranya meninggi, “Abel!” teriaknya, lalu dengan gerakan tak terduga, dia melemparkan piringnya ke lantai. Bunyi piring pecah bergema di seluruh ruangan, menciptakan kekacauan yang menghentikan nafas Abel.
Nyonya Valhok hanya memandang Abel dengan tatapan dingin, tanpa berkata apa-apa. Seolah-olah dia sedang mengukur apakah Abel layak untuk menangani putranya. Sementara itu, Tuan Tony Valhok yang duduk di ujung meja hanya menghela napas berat, menggosok pelipisnya dengan tangan, menunjukkan tanda ketidakpuasan yang jelas.
Abel menahan napas. Dia menunduk, mencoba menyembunyikan ekspresi terkejut dan malu di wajahnya. Ini jauh dari apa yang pernah dia bayangkan ketika menikah dengan keluarga Valhok.
Sementara itu, Ardo hanya tertawa kecil, suara tawanya menciptakan suasana yang semakin menegangkan. "Evan memang bisa sedikit… rumit di pagi hari," katanya dengan nada mengejek, meski senyum di wajahnya tampak tak tulus.
Abel tidak tahu harus berkata apa. Dia merasa semakin kecil dan terpojok di tengah keluarga ini. Di satu sisi, ada Nyonya Valhok yang anggun dan intimidatif, di sisi lain ada Tuan Tony Valhok yang jelas-jelas kecewa dengan situasi ini. Dan di antara mereka, ada Ardo yang seolah menikmati pemandangan kekacauan yang terjadi di meja makan itu.
Ah pagi yang menyebalkan!