Setelah kejadian saat makan malam tadi, kini Abel dihadapkan dengan situasi yang lebih mendesak. Mereka harus tidur di kamar yang sama. Begitu memasuki kamar, Abel disambut oleh pemandangan yang tidak disangka-sangka. Kamar megah dengan gaya klasik, d******i warna abu gelap dan putih, dihias dengan sangat romantis. Tirai-tirai sutra menjuntai dari langit-langit, diiringi hiasan bunga mawar di seluruh penjuru kamar. Di tengah ranjang, angsa dari handuk dibentuk menyerupai hati, dengan kelopak mawar tersebar rapi di atasnya.
Evan, yang sejak tadi mengikuti Abel dengan langkah kecil penuh rasa ingin tahu, langsung berdecak kagum. "Woah, Abel istri. Kamarnya bagus sekali! Ada bebek bentuk cinta dan banyak bunga," serunya sambil menatap sekeliling dengan mata berbinar.
Sementara Evan terlihat takjub, Abel hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Dia tidak terkesan dengan dekorasi kamar yang dibuat sedemikian rupa, lebih karena kelelahan mental dan fisik yang dirasakannya setelah melalui hari yang panjang. Pelayan yang berdiri di sampingnya tampak menelan ludah, gugup melihat ekspresi datar Abel. Mereka mungkin menyangka Abel akan terharu atau senang dengan kejutan ini, tapi kenyataannya sebaliknya.
"Yaudah, kalau begitu mari siap-siap tidur," kata Abel, nada suaranya datar dan sedikit terpaksa. Ia hanya ingin semuanya cepat berakhir dan bisa beristirahat.
Setelah pelayan meninggalkan kamar, Evan yang masih dikuasai semangat kekanak-kanakannya langsung melompat ke atas ranjang. Tanpa berpikir panjang, dia menghancurkan bentuk angsa yang susah payah dirancang oleh pelayan tadi. Bunga-bunga mawar yang sebelumnya tersusun rapi berhamburan ke mana-mana.
"Evan! Apa yang kamu lakukan?" seru Abel, setengah frustrasi namun menahan diri untuk tidak marah.
Evan hanya tertawa kecil, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru. "Abel, ayo tidur di sini! Evan suka tidur di sini, banyak bunga. Rasanya seperti tidur di taman."
Abel memijat pelipisnya, berusaha menenangkan diri. Dia memandang Evan, yang masih sibuk bermain dengan bantal dan selimut, lalu berkata, "Evan, kita harus bersiap-siap dulu. Ganti pakaian dan mandi."
Evan berhenti sejenak, lalu menatap Abel dengan ekspresi bingung. "Mandi? Tapi Evan sudah bersih."
"Ya, tapi kamu harus mandi sebelum tidur. Itu kebiasaan yang baik," kata Abel dengan suara yang lebih lembut kali ini, berusaha membujuk Evan agar tidak membantah.
Evan mengerucutkan bibirnya, merasa tidak setuju, tapi akhirnya mengangguk. "Oke, tapi Abel juga mandi, ya?"
Abel mendesah pelan, merasa seperti berhadapan dengan anak kecil yang harus dirayu agar mau melakukan hal-hal mendasar. "Iya, Evan. Aku juga akan mandi setelah kamu."
Setelah sedikit drama, Evan akhirnya menurut. Dia masuk ke kamar mandi dengan langkah lamban, sementara Abel duduk di tepi ranjang, mencoba merapikan kekacauan yang dibuat Evan. Sambil menunggu, pikirannya melayang ke berbagai permasalahan yang harus dihadapinya. Meskipun Evan secara teknis suaminya, Abel merasa lebih seperti pengasuh daripada seorang istri.
Tak lama kemudian, terdengar suara dari kamar mandi. "Abel! Sabunnya busa banyak! Lihat ini, Evan bikin awan!"
Abel berdiri di ambang pintu kamar mandi, menatap Evan yang duduk di bak mandi penuh busa, tubuhnya berendam santai. Meski wajahnya polos seperti anak kecil, tidak bisa dipungkiri bahwa Evan adalah pria dewasa dengan tubuh yang atletis. Otot-ototnya yang kencang dan sixpack itu jelas terlihat di balik busa-busa yang tak mampu menutupi semuanya. Abel bergidik, merasakan perasaan tidak nyaman, bukan karena jijik, tetapi karena situasi yang begitu canggung. Memandikan pria dewasa dengan tubuh yang sempurna seperti ini bukanlah tugas yang mudah.
"Evan, diam, nanti kimononya basah!" seru Abel sambil mengatur jarak dari bak mandi, takut busa itu mengenai kimononya.
Evan mengerucutkan bibirnya dengan raut wajah kecewa. “Abel marah sama Evan ya?” tanyanya dengan suara kecil, nada suaranya penuh rasa bersalah.
“Iya, soalnya kamu gak bisa diem!” jawab Abel, setengah frustrasi.
"Evan tidak mau Abel marah. Evan janji diam," ucap Evan, matanya menunjukkan ketakutan. Dia jelas tidak suka melihat Abel marah, dan itu membuat hatinya cemas.
Abel menghela napas panjang, berusaha menenangkan amarahnya. Dia tahu, di balik tubuh dewasa itu, Evan tetaplah seperti anak kecil. Abel akhirnya luluh, lalu mendekat dengan hati-hati, meraih spons yang sudah dibasahi sabun. “Oke, Evan. Ayo, sekarang aku akan bantu kamu mandi.”
Evan langsung tersenyum lebar, merasa senang karena Abel tidak lagi marah. "Yay! Abel mandiin Evan!" serunya dengan antusias.
Abel mulai menggosok punggung Evan dengan lembut, sabun beraroma segar mulai berbusa di permukaan kulit Evan yang kencang. Sesekali, Evan bertingkah jahil dengan memercikkan air ke wajah Abel, membuatnya mendesah frustrasi. Namun, dia tetap bertahan, mencoba menyelesaikan tugasnya secepat mungkin.
"Evan, jangan main air, aku gak mau kimonoku basah," ucap Abel tegas, mencoba menahan kesabaran.
"Tapi seru!" Evan tertawa kecil, seolah menikmati betul mandi ini. Di matanya, semua ini hanyalah permainan.
Setelah beberapa saat, Evan kembali dengan permintaan yang menggelikan. "Abel ambilin bebek dong," katanya sambil menunjuk bebek karet kecil yang tergeletak di sisi bak mandi.
Abel menghela napas panjang. "Ya ampun, Evan…," gumamnya. Tapi melihat wajah Evan yang penuh harapan, akhirnya dia menurut. Dengan hati-hati, Abel bangkit untuk mengambil bebek karet itu. Namun, lantai licin dan tubuhnya yang lelah membuat keseimbangannya hilang. Dalam sekejap, Abel tergelincir, dan tubuhnya condong ke depan.
Detik berikutnya, tubuh Abel jatuh tepat ke arah Evan yang masih duduk di bak mandi. Evan yang refleks menangkap Abel dengan tangannya yang besar. Namun, yang tak diduga-duga adalah ketika tubuh mereka bertemu, bibir Abel secara tidak sengaja menyentuh bibir Evan.
Waktu terasa berhenti sesaat. Kecupan singkat itu terjadi begitu cepat, tapi dampaknya langsung terasa dalam hati Abel. Jantungnya berdebar keras, sementara tubuhnya terpaku di pelukan Evan. Kecupan itu tidak lama, tapi cukup untuk membuat seluruh wajah Abel merona merah.
Evan, di sisi lain, tampak terkejut tapi tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Dia hanya menatap Abel dengan polos, bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
"Abel jatuh," ucap Evan akhirnya, suaranya datar namun penuh rasa penasaran. "Kenapa bibir Abel di sini?" tanyanya sambil menunjuk bibirnya sendiri.
Abel yang masih terkejut segera menjauhkan diri dari Evan, wajahnya masih memerah. “Itu...itu kecelakaan, Evan,” jawabnya terbata-bata, mencoba menenangkan dirinya yang masih gugup.
Evan hanya mengangguk tanpa banyak berpikir, kemudian tersenyum lebar. “Evan suka itu, bibir Abel lembut.”
Abel membelalak, tidak tahu harus bereaksi seperti apa mendengar komentar polos dari suaminya itu. "Evan, kita tidak boleh begitu," katanya, mencoba menjaga kewarasan dan menormalkan situasi.
"Evan gak tahu, tapi kalau Abel suka, Evan juga suka," ucap Evan lagi dengan wajah riang, seolah apa yang baru saja terjadi adalah hal yang wajar.
Abel merasa wajahnya semakin panas. Dia segera bangkit, mengambil napas panjang dan berusaha mengatur detak jantungnya yang masih berdegup kencang. "Sudahlah, Evan. Cepat mandi yang benar, aku akan keluar sebentar," katanya cepat-cepat, berusaha menyingkirkan rasa canggung yang semakin kuat.
Tapi sebelum Abel sempat benar-benar pergi, Evan menarik lengannya dengan lembut, "Jangan Pergi Abel, Evan gak bisa sendiri."
Abel menatap Evan yang kini terlihat menunjukkan wajah polosnya. Tidak ada niat buruk atau kesadaran penuh atas kejadian tadi.
Abel sudah merasa lelah setelah membantu Evan berpakaian tadi, tapi kini muncul masalah baru yang tidak pernah ia duga. Setelah mereka berbaring di ranjang besar itu, Evan tanpa peringatan langsung mendekat dan memeluknya erat seperti bantal guling. Tubuh besar Evan bersandar penuh pada Abel, dan wajahnya berada tepat di samping leher Abel. Dalam posisi itu, Abel bisa merasakan napas hangat Evan menyentuh kulitnya, membuat bulu kuduknya berdiri.
Abel kaku seketika, jantungnya mulai berdetak cepat. "Kenapa dia harus memelukku seperti ini?" pikirnya, bingung harus bereaksi seperti apa. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya sedikit agar lebih nyaman, tapi Evan malah semakin erat memeluknya. Kepala pria itu bersandar di bahunya, seakan menemukan tempat ternyaman di dunia. Abel merasa gugup luar biasa.
Evan, tanpa menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba bergumam pelan, "Empuk."
Kata itu membuat tubuh Abel semakin tegang. Jantungnya berdegup semakin kencang, hampir seperti suara genderang di telinganya sendiri. Dia bisa merasakan wajahnya memerah seketika. Perasaan aneh yang tidak bisa dia jelaskan memenuhi pikirannya, antara malu dan bingung.
"Evan...," bisik Abel, berusaha mengendalikan suara bergetarnya. Dia mencoba memanggil Evan dengan lembut, berharap pria itu akan sadar dan sedikit menjauh. Namun Evan hanya menggerakkan kepalanya sedikit, kemudian memeluk Abel lebih erat lagi, seakan bantal yang dipegangnya tak boleh lepas.
Abel tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak ingin membuat Evan merasa terabaikan, tapi perasaan ini begitu asing baginya. Setiap kali tubuh mereka bersentuhan, Abel merasa seluruh tubuhnya tegang. Ia bahkan tidak bisa memejamkan mata, apalagi memikirkan tidur. Suara napas Evan yang tenang dan lembut di dekat telinganya semakin memperjelas betapa dekatnya mereka sekarang.
"Evan, kamu nggak bisa tidur sendiri?" tanyanya lirih, mencoba mencari jalan keluar tanpa memaksa suaminya merasa bersalah.
Evan bergumam pelan, suaranya seperti anak kecil yang merengek. "Evan suka Abel, Abel empuk. Evan nggak mau tidur sendiri."
Mendengar itu, Abel semakin salah tingkah. Dia tahu Evan tidak menyadari apa yang dia lakukan, tapi tetap saja, perasaan malu bercampur gugup tidak bisa hilang. Detak jantungnya semakin kencang, bahkan seolah bisa terdengar oleh Evan. "Apa yang harus kulakukan sekarang?" pikirnya.
Dia mencoba bergerak lagi, berusaha untuk membuat Evan sedikit menjauh. Tapi usahanya sia-sia. Setiap kali Abel menggerakkan tubuhnya, Evan hanya mengeratkan pelukannya, seolah takut Abel akan pergi. Tidak ada jalan lain, dia harus membiarkan Evan memeluknya seperti itu.
Waktu berlalu, dan meskipun Evan akhirnya tampak tertidur dengan napasnya yang mulai lebih stabil, Abel tetap tidak bisa memejamkan mata. Tubuhnya masih terasa tegang, pikirannya masih terus berkecamuk dengan perasaan yang sulit dia jelaskan. Di satu sisi, Evan adalah suaminya, tapi di sisi lain, pria ini seperti anak kecil yang tidak tahu batasan. Rasa bingung dan canggung melingkupi pikirannya, membuatnya sulit menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, tubuh Abel perlahan mulai beradaptasi dengan posisi itu. Keheningan di kamar, suara napas Evan yang tenang, dan kehangatan tubuh pria itu, sedikit demi sedikit membuat ketegangan di tubuh Abel mereda. Meski begitu, detak jantungnya tetap tidak bisa menenangkan diri sepenuhnya. Setiap kali Evan bergerak sedikit, jantungnya kembali berdebar.
"Evan..." bisiknya pelan, berharap bisa mendapatkan sedikit ruang untuk bernapas lebih lega. Tapi Evan sudah terlalu nyaman dalam posisi itu, memeluk Abel seolah ia adalah bantal favoritnya. Satu tangannya melingkar di pinggang Abel, dan satu lagi berada di atas perut Abel, membuat Abel benar-benar tak bisa bergerak.
Setiap kali napas Evan mengenai kulit lehernya, Abel merasakan getaran aneh di dalam dirinya. Ia tidak pernah merasa segugup ini sebelumnya, bahkan dengan pacar-pacarnya terdahulu. Tapi bersama Evan, yang seharusnya adalah suaminya, semuanya terasa begitu berbeda. Ada jarak yang sangat jelas antara jiwa dewasa Abel dan jiwa kekanak-kanakan Evan, tapi sentuhan fisik ini menciptakan perasaan yang bercampur aduk.
Jam di dinding berdetak pelan, menandakan waktu sudah larut malam, tapi Abel masih tetap terjaga. Ia berusaha keras untuk memejamkan mata dan tidur, tapi perasaan gugup itu tidak kunjung hilang. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, wajah Evan yang polos dan napasnya yang lembut selalu kembali mengganggu pikirannya.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" pikir Abel dalam hati. Dia tidak ingin terlalu memikirkannya, tapi kenyataannya, tidur dalam pelukan Evan membuatnya merasa begitu canggung.
Akhirnya, setelah berjam-jam berlalu dan lelah mental yang terus menyerang, Abel menyerah. Dia memutuskan untuk membiarkan Evan memeluknya, berusaha menerima situasi ini meski jantungnya terus berdetak cepat. Toh, Evan tidak bermaksud jahat. Dia hanya membutuhkan kenyamanan, dan sekarang, Abel adalah sumber kenyamanan itu.
Dengan perlahan, Abel mengatur napasnya dan mencoba fokus pada ketenangan di sekitarnya. Meskipun detak jantungnya belum sepenuhnya tenang, setidaknya dia bisa sedikit merilekskan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamar, berharap pagi akan segera datang, meski di dalam hatinya ia tahu bahwa perasaan ini mungkin akan terus menghantuinya dalam waktu yang lama.
Dan malam itu, di tengah keheningan dan pelukan Evan yang erat, Abel menyadari satu hal—hidupnya tidak akan pernah sama lagi.