Abel kira acara mereka hanya sampai pemberkatan. Ternyata nanti malam mereka harus menghadiri makan malam keluarga, yang akan diadakan di rumah utama keluarga Valhok.
Mengenakan gaun pengantin berat, bukanlah hal yang mudah. Walau sebenarnya Abel tidak sekali dua kali ini menggunakan gaun berat, tapi Abel kurang menyukainya.
Belum lagi Evan seperti tidak ingin jauh-jauh dari Abel. Kemanapun Abel pergi, pasti Evan akan mengikutinya. Abel mau marah, tapi Evan masih seperti anak-anak. Ledekan dari Grecinda tadi masih terngiang-ngiang dan membuatnya marah.
Pada akhirnya Abel hanya mengenakan gaun sederhana berwarna merah. Sedikit ketat dan memperlihatkan lekuk tubuhnya, menurut Mama mertuanya, gaun yang Abel kenakan sangat cocok di tubuh Abel.
"Istri cantik!"
Abel menoleh ke arah Evan yang saat ini tersenyum lebar dan menepuk tangannya. Seakan baru saja menonton sebuah pertunjukan, ditambah lagi Evan saat ini sudah mengenakan tuxedo berwarna jingga. Sangat serasi dengan gaun yang Abel kenakan.
"Ketika kita berada di sana nanti, jangan panggil aku istri, tapi panggil aku Abel."
Evan mengerucutkan bibirnya, merasa tidak setuju dengan ucapan Abel. Karena menurut Evan, panggilan istri sudah sangat lucu dan Evan suka itu.
"Tapi, Evan suka istri."
"Oh, jadi Evan tidak suka Abel?"
Evan menggeleng dengan cepat, "tidak mungkin, Istri adalah Abel dan Abel adalah istri." Selanjutnya Evan terdiam, seakan bingung sendiri dengan lanjutan dari kata-katanya.
"Nah kan, sama saja."
Abel menggeleng sejenak, kemudian menatap Evan dengan tatapan meyakinkan. Lagi pula, dia hanya tidak ingin Evan terus menerus memanggilnya dengan julukan itu. Semua orang yang mendengar, mungkin saja akan menertawakan dirinya.
"Bagaimana?"
Abel terkekeh, "masih mau memanggilku dengan sebutan, istri?"
Evan mendengus sebal, pada akhirnya dia menganggukkan kepalanya dan setuju dengan apa yang diinginkan Abel.
Sebelum mereka pergi ke tempat dimana acara keluarga itu diadakan. Abel sempat bertanya pada Madam, kalau siapa saja yang Abel tidak boleh singgung?
Sedikit tidak Abel tau bagaimana kehidupan kalangan atas. Mereka berkeluarga hanya formalitas, apalagi jika diadakannya makan malam berkedok keluarga seperti ini. Paling-paling berakhir sebagai ajang saling menghina.
Ketika dia melirik Evan. Pria itu bermain dengan dinosaurus plastik yang sempat Abel lihat beberapa kali. Terkadang Abel berpikir, mungkin saja Evan punya masa lalu anak-anak yang tidak menyenangkan, sampai harus terlihat begitu menyedihkan seperti ini.
"Abel."
"Apa kita akan bertemu dengan keluarga?"
Abel mengangguk, menjawab pertanyaan dari pria berusia tiga puluh tahun itu. Abel merasa seperti seorang guru yang sedang menjawab pertanyaan muridnya.
"Iya."
"Evan tidak mau."
Mendengar ucapan Evan, tentu saja Abel terkejut. Evan kenapa lagi? Bertingkah aneh seperti ini, entah apa yang sedang berada di pikirannya.
"Tadi sebelum kesini, Evan sudah menyetujuinyanya. Tidak ada kata untuk membatalkannya. Pilihan yang ada hanya setuju."
"Huh! Abel menyebalkan."
Abel menghiraukan apa yang Evan katakan. Namun ketika mobil sedikit terguncang karena jalan bebatuan, Evan segera memeluk lengan Abel.
Pada dasarnya Abel masih seorang wanita. Masih punya perasaan yang sensitif dan melalui kejadian ini, bisa saja hatinya tersentil dengan debaran asmara, yang sebenarnya tidak ingin Abel rasakan lagi.
"Ada apa?" Tanya Abel, berusaha untuk tetap tenang.
Evan melonggarkan tangannya, "tidak ada Abel, Evan hanya terkejut saja tadi."
"Tangan Abel kurus, Evan tidak merasa nyaman memeluknya," ungkap Evan dengan raut wajah polos.
"Oh ya? Yaudah tidak usah kamu peluk."
Evan mengerucutkan kembali bibirnya, "Abel marah ya sama Evan? Tapi Abel kurus banget, pipinya ngembang tapi tangannya kurus."
"Diam Evan."
***
Mereka melangkah masuk kedalam hotel bintang lima, dimana hotel ini menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar Valhok. Mulai dari Kakek Nenek, paman bibi, sepupu-sepupu hingga saudara Evan.
Kalau tidak salah ingat, saudara Evan ada empat. Tiga diantaranya adalah saudara tiri, sementara dia hanya punya satu adik laki-laki yang keberadaannya tidak diketahui sampai sekarang.
Dari yang Abel dengar juga, adik laki-laki Evan sepertinya tidak tau dengan kabar kecelakaan Evan. Dia adalah pribadi yang bebas dan tidak suka dikekang.
Abel terperanjat saat tangan Evan kembali memeluk lengannya. Bahkan raut wajah Evan terlihat cemas dan takut. Membuat Abel penasaran, kenapa Evan bisa menampilkan raut wajah seperti itu saat hendak bertemu keluarganya?
"Evan takut, Evan takut pada Paman dan Bibi. Dia selalu memarahi Evan kalau Evan tidak patuh."
Belum ditanya, sudah dijawab lebih dulu. Abel tersenyum, dan membantu menenangkan Evan. Pria dewasa itu terlihat khawatir saat hendak masuk ke dalam.
"Maka dari itu Evan harus patuh, jangan membuat masalah yang nanti akan memancing Paman dan Bibi marah pada Evan."
Evan mengangguk dan tetap memeluk lengan Abel. Tentu saja Evan yang tinggi terlihat kesusahan saat memeluk lengan Abel yang pendek. Abel tidak terlalu peduli, mengingat siapa yang lebih dulu memeluk lengannya.
"Wah, pengantin baru sudah datang. Lihatlah, mereka berdua mengingatkan kita saat-saat dimana pernikahan kita baru berlangsung."
Belum apa-apa rasanya Abel sudah kena ejekan. Kemudian Abel menyuruh Evan untuk duduk di sampingnya. Evan menurut dan langsung duduk.
"Saya sangat bersyukur melihat Nona Abel menikah dengan Evan. Dia adalah orang yang sulit dekat dengan orang lain, tapi ketika dengan Nona Abel akan sangat patuh."
Abel tersenyum menanggapi ucapan Mama mertuanya. Wanita itu mengamati keadaan di sekelilingnya. Melihat kalau tidak ada tanda-tanda kedatangan Kakek, Nenek, dan Papa dari Evan.
"Ah, Papa Evan sedang berada di luar negeri. Sehingga tidak bisa hadir sekarang, tapi saat pernikahan kalian dia datang dan hadir."
Abel kembali tersenyum, hanya saja sekarang dia merasa seseorang sedang menatap sinis ke arahnya. Abel peka, karena sekarang wanita itu mulai berbicara.
"Sangat disayangkan sebenarnya, kenapa nona muda mau menikah dengan pria kelainan seperti dia? Lihat, dia bahkan menjadi orang yang akan Nona lindungi bukan yang melindungi Nona."
Mendengar hal itu Evan tampak menunduk, sebenarnya dia tidak paham. Tapi daritadi wanita dengan sanggul besar itu terus menatap tak suka ke arahnya.
Abel menoleh dan melayangkan senyumannya, "saya rasa itu tidak perlu di pusingkan. Bagaimana kehidupan yang akan saya jalani nanti, tidak ada kaitannya sama sekali dengan anda."
"Bukan, begitu?"
Wanita itu terdiam, sementara yang lain tertawa mendengarnya. Seakan mendapat hiburan yang menarik.
Pada akhirnya mereka semua mengobrol bersama. Melupakan topik utama tentang Abel dan juga Evan. Abel juga tampak menikmati hidangan yang disajikan, sehingga dia tidak sadar kalau Evan menghilang dari tempatnya.
"Mama ... Huweee mainanku diambil dia!"
Abel menoleh pada bocah lelaki kecil yang saat ini mengadu sambil menangis, kemudian menunjuk Evan. Abel yang mendengar itu sontak menggeleng dengan cepat.
"Evan! Apa benar yang dia katakan! Dasar anak ini, kamu itu sudah besar. Kamu merebut mainan anak kecil? Oh Tuhan! PRIA INI TIDAK WARAS!"
Tentu saja ucapan wanita yang tak lain adalah Bibi Evan tadi, membuat Evan berjengit dan segera menggeleng, apalagi ketika Abel menatap Evan meminta penjelasan tentang permasalahan yang terjadi.
"Tidak, itu tidak benar. Evan tidak pernah mengambil mainannya. Dia tiba-tiba menangis!" Ujar Evan cepat.
"DASAR PRIA ANEH DAN GILA! Tidak mungkin ada maling yang mau mengaku."
Sampai permasalahan di sini, Abel paham. Setelah itu dia menghela nafas dan menarik Evan untuk berdiri di sampingnya.
"Saya rasa, kalau memang Evan mengambil mainan tersebut. Anda bisa cek sendiri, apa benar mainan itu ada di Evan? Bahkan saat dia datang, dia tidak membawa mainan yang dimaksud."
Setelah itu Abel tersenyum ke arah bocah kecil yang kini terlihat cemas, "masih kecil, jangan suka berbohong ya."
Tentu saja hal itu membuat mereka terkejut bukan main. Apalagi saat bocah kecil itu mengaku, Evan sudah segera berlindung di belakang Abel, saat bocah itu menangis.
Abel menenangkan Evan, namun sepertinya wanita itu tidak tinggal diam dia menatap sinis Abel.
Tenang saja, Abel tidak peduli. Karena sepertinya keberadaan Abel di sini bisa jadi ancaman untuk mereka.