Bab 4. Abel Harus Sabar

1160 Kata
Memang benar, jiwanya seperti anak kecil. Tapi raganya, benar-benar sangat tidak sinkron saat ini. Bahkan Abel beberapa kali menggeleng kecil karena geli. Bagaimana tidak? Tadi malam seseorang mengetuk pintu kamarnya. Kemudian saat Abel buka, dia melihat Evan berdiri di depan pintu dengan mata terpejam, lalu masuk begitu saja ke kamar Abel. Mau tidak mau, Abel membiarkan Evan menguasai kamarnya sementara dia mencari jalan lain, dengan tidur di atas sofa empuk di bawah ranjang. Saat pagi tiba, madam mengetuk pintu kamarnya. Mencoba membangunkan Abel, karena sudah waktunya untuk bersiap. "Tuan tidur di sini tadi malam?" Tanya Madam terheran begitu Abel membuka pintu, dan mempersilahkan madam masuk. Abel mengangguk, "iya, tadi malam dia mengetuk pintu kamar saya. Sepertinya dia mengigau atau tidur saat berjalan mungkin, entahlah saya juga tidak tau pasti." Abel mengendikan bahunya. "Tidak apa-apa, mungkin saja dia kemarin menuruti apa yang Nyonya Rosetta katakan tentang menjadi seorang suami." Abel menghela nafas pelan, "jiwanya saja masih seperti anak kecil, bagaimana bisa dirasuki dengan pikiran menjadi seorang suami." Abel tanpa sadar menggerutu. Ketika madam menoleh, barulah Abel sadar dan menyengir lebar. Sebuah kebiasaan yang tidak bisa dia lepaskan, mengingat dia sering sekali menggerutu saat diceramahi Ayahnya. "Sudah menjadi tuntutan, karena usia Tuan Evan sudah masuk kepala tiga, namun karena sebuah musibah yang dialami, pertunangannya dengan Nona muda dari Lumire Grup dibatalkan secara sepihak karena kondisi Tuan Evan." Madam menjelaskan dengan jujur. Hal itu membuat Abel jadi tidak enak hati, kemudian melirik ranjang dimana ada Evan yang sedang berbaring dengan tenang. "Anda bisa lebih dulu sarapan, mengingat anda sebentar lagi di rias, karena Nyonya Rosetta sudah menghubungi saya dari jam 4 pagi mengenai kedatangan gaun pengantin anda." Abel mengangguk paham, dia segera turun ke bawah. Lagipula kalau mendadani pria tidak akan selama mendadani wanita, jadi mungkin saja madam membiarkan Evan untuk tidur. "ISTRI!" Abel baru saja ingin menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya, suara teriakan Evan sudah memenuhi ruangan. Pria itu terlihat melihat dari atas dan saat berhasil menemukan objek yang dicari, barulah tergesa-gesa untuk turun. "Pelan-pelan!" Pekik Abel yang sedikit ngeri melihat Evan begitu antusias untuk turun. "Kenapa menghilang? Evan cari Istri tapi tidak ketemu Evan kira Istri Tidak mau menjadi istri Evan." Abel sempat terdiam dan mengerjabkan matanya beberapa kali. Setelah itu dia tertawa karena rap yang dilontarkan Evan, entah ada berapa kali dia mengatakan kata yang sama yaitu, "istri" "Istri? Kenapa tertawa, Evan jelek ya?" Abel menahan untuk tidak tersenyum. Tingkahnya memang kekanakan dan polos. Abel seperti menjadi kakak di sini sekarang. "Tuan, ini saatnya untuk sarapan. Nanti pemberkatan antara kalian berdua dilaksanakan." Ucapan Madam sepenuhnya tidak dimengerti oleh Evan, hal itu membuat Abel gemas sendiri dan berkata langsung pada Evan. "Kalau mau aku menjadi istrimu, maka turuti saja." Evan menoleh dan tersenyum antusias, kemudian duduk di samping Abel. Saat Madam melirik ke arahnya, Evan menggeleng dan ingin tetap duduk di samping Abel, dengan alasan Abel akan pergi meninggalkannya saat Evan lengah. "Aku tidak akan meninggalkanmu, makan dengan tenang." "Istri tidak boleh berbohong!" "Tidak bohong, jadi cepat habiskan sarapanmu." Pria dewasa itu segera menganggukkan kepala dengan antusias. Bahkan Abel tidak tahan ingin mencubit pipi tirus dari pria itu. Saat perias datang, kebetulan sarapan Abel sudah habis. Dia hendak bangkit namun tangan Evan seakan punya magnet yang kuat dan segera menahan tangan Abel. "Istri mau kemana?" Tanya Evan dengan ekspresi polos. "Tuan, Nona Abel akan dirias, untuk pemberkatan kalian berdua nanti." Pria itu terlihat mengkerucutkan bibirnya. Membuat Abel kembali merinding gila, kenapa dia bertingkah seperti gadis kecil?! "Lepaskan Evan, bagaimana bisa aku pergi kalau tanganmu masih menahan tanganku?" Pinta Abel. "Tidak mau, tunggu Evan selesai sarapan!" "Tuan Evan." "Tidak mau madam! Biarkan istri Evan menemani Evan makan." Abel hanya bisa pasrah ketika menunggu Evan selesai sarapan, lalu mereka berdua di dandani secara bersama. "Tuan Evan begitu menyukai Nona Abel." *** Ini bukan pernikahan impiannya, tapi jantung Abel berdebar. Ditambah lagi saat Evan tertidur di bahunya. Jantungnya berpacu dua kali lebih cepat. Demi apapun, Abel merasa seperti sedang berada di dalam mimpi sekarang. Sebuah restoran mewah dengan gaya terbuka, di sulap seketika menjadi tempat pemberkatan yang indah. Bahkan Abel baru tau kalau tempat pernikahannya akan sebagus ini. Pengamanan di tempat ini begitu ketat, karena Abel melihat banyak penjaga. Saat sampai, dia melihat banyak orang yang sudah hadir. "Evan, bangun." Pria itu menggeliat pelan, "kita dimana?" Tanyanya dengan tatapan polos. "Tempat pernikahan kita," jawab Abel singkat. Mereka keluar dari mobil dan saat ini menjadi pusat perhatian. Sejenak mereka harus berpisah karena rangkaian pernikahan. Ada drama sedikit saat Abel hendak berpisah dari Evan. Tepatnya Evan yang tidak mau berpisah dari Abel, dia terus mengikuti Abel, namun dengan cepat di bawa kembali ke tempat seharusnya. "Istri!" Pekik Evan. Namun saat Nyonya Rosetta datang dan dengan lembut mengatakan sesuatu yang entah apa? Mengingat posisi Abel berdiri cukup jauh dari mereka sekarang. Sang Ayah datang menemuinya. Namun raut wajah Abel tidak berubah. Seharusnya sekarang seorang anak yang sudah beranjak dewasa, lalu akan menikah. Akan menangis haru di pelukan Ayahnya, tapi tidak dengan Abel. "Kita akan tetap bertemu, setidaknya untuk hari ini. Namun esok, Ayah pastikan akan tetap bertemu dengan kamu." "Ayah terlalu berharap." "Bagaimana dengan anak keluarga Valhok, apa dia menyusahkanmu?" Abel mendengus pelan, "sempat-sempatnya untuk bertanya? Menurut Ayah bagaimana? Ayah saja yang nilai." Pria paruh baya itu menghela nafas, "Abel, tolong jangan bersikap seperti itu kepada Ayah." "Sudah cukup, ini hari bahagiaku. Jangan ajak aku berdebat." Pria paruh baya itu mengernyitkan dahinya, "kamu bahagia dengan pernikahan ini?" Abel diam dan memilih untuk menatap ke arah lain. Ayahnya hanya bisa pasrah, dia tau Abel pasti kecewa. Namun tidak ada yang bisa dia lakukan. Saat tangannya digandeng berjalan menuju Altar, ada perasaan dimana saat ini Abel berat melepaskan status lajangnya. Dia merasa belum sukses dan menggapai impiannya menjadi seorang desainer ternama, bahkan saat pernikahannya, seharusnya Abel mendesign gaunnya sendiri. "Istri!" Abel tersentak saat Evan hendak berlari ke arahnya, namun dengan cepat seorang penjaga menahan tangan Evan yang saat ini meronta-ronta ingin di lepaskan. Samar-samar Abel mendengar bisikan yang sedikit membuatnya ikut marah. Tatapan rendah dan menghina orang-orang yang hadir membuat Abel kembali menahan emosi. Terlebih saat dia melihat Adik tirinya datang dengan mantan pacarnya. Sungguh sial! Kenapa mereka berdua juga ikutserta sekarang? Saat acara yang khidmat itu selesai, para tamu perlahan bubar. Tidak ada yang ingin menyapa mereka, mengingat Abel pun tidak mengenal tamu-tamu yang hadir selain keluarganya. "Istri!" Pekik Evan. Abel memejamkan mata lelah, sekarang dia sudah resmi menjadi istri seorang Evan. Dia bahkan mengingat dengan jelas, bagaimana Evan tiba-tiba menjadi serius saat menyatakan janji di depan Tuhan. "Sepertinya Evan begitu menyukai Abel, memang tidak salah pilih menantu," puji Nyonya Rosetta. Wanita itu terlihat sangat ramah dengan setelan anggun yang sederhana. Mirip dengan setelan dari Ibu tirinya. "Tentu saja, Kakak memang sangat serasi dengan Kak Evan." Mendengar itu Abel hanya tersenyum tipis, namun terlihat memaksa. Sementara Evan malah terlihat senang sekali bahkan memeluk lengan Abel. Tatapan yang Cinda berikan padanya, sungguh membuat Abel ingin menarik rambut panjang kriting milik adik tirinya itu. "Tahan Abel," gumamnya pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN