Abel meringis saat mendengar suara tangisan berat dari pria dihadapannya. Setau Abel, pria itu bahkan lebih tua empat tahun darinya, tapi kenapa ... Abel merasa tidak paham dengan semua ini.
"Kata Mama, Evan harus memeluk calon istri Evan, tapi kenapa Evan malah dibanting?" Rengeknya yang saat ini sedang mendapatkan pijatan khusus untuk menghilangkan keseleo yang dia alami akibat dibanting Abel.
Saat masuk Abel baru tau kalau pria bernama Evan, yang akan menjadi suaminya ini hanya tinggal dengan dua pembantu dan tiga bodyguard di depan mansion. Satu pembantu laki-laki dan satunya perempuan.
"Madam Marie, apa yang Evan katakan benar bukan? Mama Rosetta mengatakan pada Evan untuk memberi pelukan ketika calon istri Evan datang," ujarnya dengan tatapan serius.
Abel bergidik ngeri, bagaimana bisa dia melihat adegan menggelikan seperti ini! Dan lagi, dia akan melihat adegan menggelikan itu seumur hidupnya?!
Abel mendengus pelan dengan pasrah. Sungguh malang nasibnya, sudah tidak pernah diberikan kasih sayang oleh sang Ayah, lalu ibunya meninggal karena penyakit, sekarang dia harus menikah dengan pria bodoh?
Apa tidak ada kebahagiaan dalam hidup Abel?!
"Maafkan Tuan Evan Nona, karena saya rasa dia sudah membuat anda terkejut."
Abel tersadar dari lamunannya dan menatap wanita paruh baya itu dengan sebuah senyuman tipis. Gelengan kepala Abel menandakan dia baik-baik saja.
"Tidak apa-apa, justru saya yang tidak enak hati karena tadi membanting ... Ah, maafkan saya," ujar Abel sopan dan tersenyum ke arah Madam, bergantian ke arah Evan.
Kebetulan saat itu Evan melihat senyumannya, Evan ikut tersenyum bahagia. Dia bahkan menunjuk Abel dengan semangat.
"Madam! Mama Rosetta benar! Calon istri Evan begitu cantik! Evan ingin menciumnya, Madam, Evan ingin menciumnya."
Tentu saja ucapan Evan membuat Abel melongo terkejut. Ditambah lagi sekarang pria dewasa itu meronta mendekat ke arahnya. Abel menelan ludahnya gugup, apa pria ini waras? Bodoh Abel, tentu saja tidak.
"Tuan Evan, anda harus tenang!" Ujar Madam dengan sedikit bentakan.
Evan yang berusaha untuk mendekat ke arah Abel, segera duduk dengan tegap dan wajah cemberut. Abel tidak bisa melihat ini semua, dia begitu merasa geli.
"Tuan Evan kembali ke kamar dulu, biar Madam berbicara dengan calon istri anda."
Evan mengangguk dan bangkit dengan patuh layaknya anak kecil yang tengah di suruh masuk oleh Mamanya tidur. Namun sebelum Evan benar-benar masuk ke kamar dia lebih dulu berlari ke arah Abel.
Chup!
Mencuri kecupan singkat di pipi Abel, tentu saja hal itu membuat Abel membungkam dan berakhir duduk dengan tatapan kosong.
Ini pertama kalinya dia di cium oleh pria, bahkan Ayahnya sendiri sudah lama tidak mengecup pipinya. Lalu Mantan pacarnya bahkan tidak pernah lebih menyentuh Abel dari sentuhan tangan, mengingat Abel yang pandai menjaga diri.
Kemudian saat pria itu sudah kembali ke kamarnya yang terletak di atas, wanita paruh baya itu duduk mendekat ke arah Abel.
"Anda sudah tau kan, kondisi tuan Evan sebenarnya?"
Abel mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tentu tau, bahkan satu kota tau kabar kecelakaan dari pewaris Valhok grup itu. Hanya saja, ini pertama kalinya Abel melihat langsung bagaimana perangai Evan.
"Kecelakaan satu tahun yang lalu membuat kondisinya menjadi seperti ini. Bahkan keluarga wanita yang dia cintai tidak menyetujui hubungan mereka, sehingga pernikahan yang seharusnya terjadi, dibatalkan lalu---"
"Saya mengerti, terimakasih atas perhatiannya. Mungkin karena belum bisa beradaptasi dengan Tuan Evan."
Wanita paruh baya itu tersenyum, "tidak masalah, saya cukup senang mengetahui anda yang akan menikah dengan Tuan Evan. Pikirannya masih polos seperti anak kecil pada umumnya, terkadang suka dipermalukan dan dipermainkan oleh anggota keluarganya sendiri."
Abel tentu tidak percaya begitu saja, bagaimana bisa seorang pewaris diperlakukan seperti itu?
"Ah iya, kamar anda berada di sebelah kamar Tuan Evan. Setelah kalian menikah, saya akan memindahkan barang-barangnya."
Abel ingin menggeleng, karena dia sepertinya tidak sanggup satu kamar dengan Evan.
***
Abel merasa mansion ini sedikit sunyi, apalagi kalau sudah memasuki waktu malam. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang bersahutan.
Terlihat Evan yang makan dengan lahap dan belepotan. Abel hanya melihat, tanpa mau menyentuh atau membantunya membersihkan jejak nasi di sekitar bibirnya, sebaliknya madam yang bertugas tadi yang membantu Evan membersihkan jejak nasi di sekitar bibirnya.
"Tuan, anda tidak mau dilihat oleh wanita cantik di depan anda?" Tanya Madam.
Evan melirik dan baru sadar, dia segera menutup wajahnya malu dan menggeleng, hal itu membuat Abel merasa aneh sendiri.
"Wajahku menyeramkan?" Tanya Abel tanpa sadar.
Tentu saja Madam terlihat menahan tawa mendengar ucapan Abel. Kemudian ada Evan yang mengambil piring lalu makan membelakangi Abel.
"Evan malu, calon istri Evan cantik sekali."
Tanpa sadar pipi Abel merona, ini pertama kalinya Abel dibilang cantik sama orang. Tingkat kepercayaan diri Abel langsung naik drastis, kemudian terkekeh pelan.
"Terimakasih atas pujiannya."
Melihat itu Evan langsung menjauh, "wanita cantik, Evan malu!" Ungkapnya dan berdiri tak jauh dari mereka.
Madam hanya menggeleng dengan raut wajah pasrah, sementara Abel kembali terkekeh geli melihat kelakuan Evan.
"Kenapa menjauh? Lanjutkan makannya, tidak malu dengan calon istrinya?" bujuk Madam.
Entah kenapa giliran Abel yang malu. Pipinya kembali merona dan Abel menunduk, ini pertama kalinya Abel merasa sangat malu.
"Calon istri?"
"Ah iya! Calon istri Evan!"
Pria itu segera berlari ke arah Abel, kemudian berdiri di belakangnya dan memeluk leher Abel dari belakang. Abel merasa jantungnya memompa dengan sangat cepat. Kembali, dia merasa berada di dalam posisi yang intim.
"Tuan Evan, anda mengganggu Nona Abel."
Evan cemberut, namun Abel segera menggeleng. "Tidak apa-apa madam, biarkan seperti ini. Lalu aku akan kelaparan, sepertinya Evan tidak ingin aku berada di sini, tapi di rumah sakit."
Madam tampak terkejut namun setelahnya terkekeh, kemudian Abel merasakan pelukan Evan mengendur. Pria itu berjalan malas ke tempatnya.
"Tidak! Evan benci rumah sakit, bau obat! Calon istri jangan ke sana ya, Evan gak bisa temenin nanti."
Abel menahan untuk tidak tersenyum. Sebenarnya masih belum terbiasa, dan masih merasa cukup geli dengan sikap Evan. Bagaimana bisa seorang Pria dewasa bersikap seperti ini?
"Nyonya Rosetta sudah berkata pada saya, bahwa pemberkatan kalian berdua akan dilaksanakan besok pagi."
"Secepat itu?" Tanya Abel keheranan.
Evan terlihat sedang bermain dengan gim terbarunya, sementara Abel dan Madam sedang berbincang sembari membersihkan meja makan. Awalnya madam menolak Abel ikut serta membantunya, namun Abel tetap kekeh.
"Iya, mungkin saja Nyonya takut anda kabur dan tidak ingin melanjutkan pernikahannya. Anda tau kan, bagaimana kondisi tuan Evan?" Ujar Madam sembari melirik ke arah Tuannya yang sedang bermain dengan senang.
Abel menarik kedua sudut bibirnya ke atas, "tenang saja madam, saya pasti bertahan. Karena saya juga tidak akan pulang ke rumah," jawab Abel.
"ADUH!"