Kami masih duduk di kantin saat aku melihat kedatangan Kak Saga yang serius berbicara dengan rekannya. Bagaimana cara dia makan tanpa kartu? Kartu hitamnya ada padaku. Aku ingin sekali mendekatinya yang sedang berdiri di depan konter makanan. Meskipun begitu dia tidak berhenti bicara. Seolah jam kerjanya yang sampai malam itu masih kurang. Apa aku ke sana, saja, ya? Jangan-jangan dia lupa telah memberikan kartunya padaku. Namun, itu sama saja memberitahu Mbak Rani mengenai hubungan kami. “Cakep, ya?” Mbak Rani terkikik. Aku segera menoleh. Pasti mukaku merah padam sekarang. Ketahuan memperhatikan seorang laki-laki walau dia kakakku sendiri. “Dia sudah punya isteri, lho.” Mbak Rani terkikik lagi. entah apa yang dia pikirkan, apa aku terlihat seperti wanita perebut suami orang? “Oh.” Han

