Sudah hampir jam dua belas malam saat ponselku tidak berhenti berdering. Aku menggeliat. Tanganku meraba nakas dan meraih benda yang sekarang menyala terang. Ken yang sejak tadi memelukku membuka mata perlahan. Kami bertatapan sejenak, sebelum beralih ke layar ponselku yang menampilkan wajah Ibu. Ya, ibuku. Aku beringsut duduk. Menarik serta selimut untuk menutupi tubuh atasku yang tidak mengenakan apa-apa. Sebenarnya aku memang tidak mengenakan apa-apa sampai bawah. Segera kugeser tombol hijau setelah mendapat anggukan dari Ken. Itu artinya dia tidak keberatan aku mengangkat telepon di sini. Di ranjangnya. Di sisinya. “Ya, Bu?” Aku mengusap wajah dan merapikan rambut yang meriap. Kakiku yang selonjoran segera kutekuk sehingga bisa menahan selimut supaya tidak melorot jatuh. Kondisi kama

